• Cegah Penyakit, Kesehatan Hewan Kurban Diperiksa

    0

    walikota sidak sapiPALEMBANG, jurnalsumatra.com – Untuk mencegah beredarnya hewan kurban yang sakit jelang hari raya idul adha, Pemerintah Kota Palembang menerjunkan tim pemantau, tim pemantau ini akan langsung mengecek kesehatan hewan kurban yang diperjual belikan kepada para calon pembeli.

    “Setiap penjualan hewan kurban akan mendapat sertifikat dari tim pemantau, kalau pedagang sudah mendapatkan sertifikat aritnya hewan yang dijual layak,”kata Walikota palembang, H Harnojoyo, usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kesejumlah pedagang hewan kurban, di jalan Demang Lebar Daun dan Soekrano Hatta, Senin (5/9).

    Tim pemantau yang diterjunkan langsung dari Dinas, Pertanian, Perikanan dan Kelautan (DP2K) Palembang, petugas akan mengecek langsung hal ini untuk memastikan kesehetan hewan kurban yang akan dijual oleh para pedagang maupun peternak.

    Dengan adanya sertifikat yang diberikan menandakan bahwa hewan yang dijual ditempat tersebut telah memenuhi persyaratan menjadi hewan kurban, baik itu dari kesehatan maupun dari umur yang dianjurkan dalam agama.

    “Syarat hewan kurban tersebut diantaranya untuk kambing umur minimal satu tahun dan untuk sapi minimal 2 tahun dan haris dipastikan sehat,” Ujar Harnojoyo.

    Pihaknya akan memberikan sanksi tegas kepada para pedagang maupun peternak jika hewan kurban yang dijual mengandung penyakit atau tidak cukup umur, sanksi ini tidak lain untuk memberikan keamanan kepada masyarakat yang akan membeli hewan kurban.

    Sementara itu, DP2K mengklaim sejak awal Agustus lalu yang terdiri dari 4 tim dan 21 petugas khusus melakukan sidak hewan kurban.

    Setidaknya dari hasil sidak ada beberapa sapi dan Kambing yang ditemukan sakit mata maupun diare. Hewan ini yang dinyatakan sakit diisolasi, kata Kepala DP2K Palembang, Harry Hadi.

    Dijelaskannya, hewan kurban yang dijual harus memenuhi syarat kesehatan dan syarat secara agama untuk hewan tersebut. Dari segi kesehatan misalnya, dilihat dari fisik maka hewan itu tidak ada cacat, mata bergerak aktif, kulit terlihat segar dan tidak kusam.

    “kaki juga tidak boleh patah dan sapi harus minimal sudah berusia dua tahun dilihat dari gigi depan dan kamping minimal berusia 1 tahun. Ini yang harus diperhatikan oleh pedagang maupun pembeli,”ujarnya.

    Harry menegaskan penjual juga harus transparant dan welfare. Dalam artian hewan tidak teraniaya dan benar-benar diperlakukan secara peri kebinatangan. Untuk sidak hari ini (kemarin, red) tidak ada temuan hewan yang sakit.

    Terlepas dari itu, jika nantinya ditemukan penjual yang menjual hewan yang tidak memenuhi syarat maka akan diperingatkan, jika masih juga akan dihentikan dan boleh jadi tidak diberikan lapak untuk berjualan. Tapi akan dilakukan pembinaan terlebih dulu.

    Sampai saat ini, setidaknya sudah ada sekitar 50 persen pedagang sudah diperiksa kesehatan hewannya dan sudah diberikan sertifikat khusus yang menyatakan hewan tersebut bebas penyakit.

    Suyatnong, Kasi keswan (kesehatan hewan) DP2K menambahkan. Ada empat tim yang dibagi untuk melakukan sidak hewan qurban. Empat tim tersebut, masing-masing terdiri dari paramedis dan tim khusus yang dibagi kedalam empat lokasi. Sampai kemarin, setidaknya sudah ada 50 persen pedagang yang diberikan sertifikat atau sekitar 3 ribu sapi dan kambing yang dinyatakan halal.

    Empat lokasi tersebut, mulai dari AAL yang terdiri dari kecamatan AAL, Kemuning, Sukarami dan IT 1. Lokasi kedua, yakni Sekojo yang juga meliputi IT 1, Sako, Kalidoni dan Semabor. Lokasi ketiga Gandus yang juga meliputi IB 1, IB 2, Bukit kecil dan Gandus dan keempat lokasi Plaju terdiri dari SU 2, SU 1 dan Kertapati.

    Dalam sidak tersebut hadir secara langsung Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda (Finda) dan sejumlah pejabat dilingkungan Pemkot Palembang.(eka)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com