• Baznas Berkomitmen Berdayakan Zakat Dengan Acuan SDGS

    0

        Jakarta, jurnalsumatra.com – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) berkomitmen memberdayakan zakat di seluruh Indonesia dengan menetapkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai acuannya.
    Direktur Amil Zakat Nasional Baznas Arifin Purwakananta di Jakarta, Kamis, mengatakan, pihaknya menempatkan SDGs sebagai cara pandang alternatif dalam mengukur dan memandu program-program pemberdayaan zakat.
    Kerangka berfikir alternatif itu, menurut dia, diperlukan karena SDGs telah menjadi kesepakatan bangsa-bangsa untuk diterapkan hingga akhir 2030, katanya.
    Baznas sebagai motor dari gerakan zakat di Indonesia, kata dia,  memandang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai instrumen mewujudkan kemajuan Indonesia yang selaras dengan visinya, yaitu menyejahterakan mustahik, mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mendorong kesehatan masyarakat dan seluruh aspek lainnya dalam pemberdayaan mustahik.
    “Gerakan zakat yang dipimpin Baznas tentu memiliki cara pandang sendiri dalam mengembangkan atau mendorong kesejahteraan masyarakat. Dunia telah memiliki konsep maqoshid assaraiyyah dan konsep turunan lainnya sebagai landasan Islam dalam menyejahterakan umat,” ujar Arifin.
    Ia mengatakan manakala pembangunan oleh BAZNAS dapat diukur dalam keberhasilan SDGs maka ada beberapa keuntungan yang  diperoleh, di antaranya umat Islam melalui gerakan zakat dapat dikenal sebagai kelompok atau komunitas masyarakat yang ikut serta dalam pembangunan.

        Melalui penandatanganan komitmen bersama pimpinan lembaga-lembaga dunia lain dalam acara high level side event PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu (21/9), berarti seluruh program pemberdayaan mustahik oleh Baznas nantinya dapat diukur sebagai keberhasilan SDGs di Indonesia. Pihaknya berharap dapat menjadi motor untuk  berkontribusi dalam program SDGs di dunia.
    Menurut dia, seluruh program Baznas saat ini terdapat dalam 17 kerangka SDGs, antara lain masalah kemiskinan dengan menyasar pada pengentasan kemiskinan sebab kemiskinan merupakan asnaf (golongan yang berhak menerima) zakat terbesar selain juga pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia dengan mengkontrobusikan sebesar 25 persen dari seluruh dana zakat yang terhimpun.
    Dari 17 program SDGs, gerakan zakat menekankan pada 11 isu, yaitu pemberantasan kemiskinan, menghapuskan kelaparan, peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi, energi, pertumbuhan ekonomi, mengurangi kesenjangan, perubahan iklim dan kemitraan.
    “Kita memiliki keyakinan bahwa problematika umat hanya dapat diselesaikan oleh umat itu sendiri. Sehingga SDGs akan membantu gerakan zakat dalam meyakinkan masyarakat dunia bahwa gerakan zakat dapat menjadi komponen kunci dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat,” katanya.
    Maka dengan ini gerakan zakat Arif berharap dapat mewujudkan berbagai program yang akan mengembangkan mustahik (penerima) zakat mencapai kesejahteraannya sekaligus diukur melalui ukuran SDGs. Sehingga pada gilirannya zakat akan menjadi sebuah alternatif untuk menyelesaikan permasalahan dunia.
    Selama 2015, Baznas telah menyalurkan zakat dan infak kepada 229.714 mustahik melalui berbagai program pemberdayaan maupun karitas. Angka ini belum termasuk penerima zakat dan infak dari Bznas Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota, serta Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk oleh masyarakat.
    “Harap diingat, sebagian besar problematika yang ditawarkan menjadi bidang yang digarap SDGs telah terdapat di negara-negara Islam maka gerakan zakat tidak bermimpi jadi kontributor kecil. Gerakan zakat harus bermimpi jadi kontributor besar dalam mengembangkan SDGs,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com