• Tim Garam Farmasi Raih BJ Habibie Award

    0

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Tim garam farmasi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meraih anugerah Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) ke-9 atas inovasi garam farmasi yang diharapkan mampu menghentikan ketergantungan Indonesia dari impor.
    “Jumlah yang terseleksi 19 dari ratusan peserta, akhirnya tim garam farmasi menang. Pemilihan pemenang dilakukan tujuh juri dengan latar belakang berbeda dan di antaranya juga ada yang berasal dari luar negeri,” kata Kepala BPPT Unggul Priyanto sebelum menyerahkan BJHTA di kediaman Presiden ke-3 BJ Habibie, Jakarta, Kamis.
    Anugerah ini, ia mengatakan pada dasarnya diberikan kepada mereka yang menghasilkan inovasi, dan diberikan pada tokoh yang mempunyai jasa membantu memajukan teknologi bangsa.
    Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, BJHTA kali ini diberikan kepada sebuah tim yang terdiri dari tujuh peneliti dan perekayasa sekaligus. Menurut Unggul, penghargaan ini sejak awal memang terbuka juga untuk tim.
    Yang akan dilihat, lanjutnya, adalah produk hasil penelitian dan perekayasaan yang menonjol, tidak kontroversial, dan nilai tertinggi tentunya inovasi bukan invensi yang belum diproduksi sehingga belum bermanfaat untuk masyarakat.
    Selain itu, ia juga mengatakan bahwa konten teknologinya yang semakin mutakhir juga menjadi nilai tambah, contohnya saja satelit.
    Sementara itu, Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Eniya L Dewi yang juga menjadi salah juri mengatakan bahwa tim garam farmasi BPPT banyak mendapatkan pesaing dari lembaga penelitian maupun pihak swasta.
    Juri, lanjutnya, berhasil menyeleksi lima besar peserta yang di antaranya hasil penelitian dan rekayasanya adalah drone, e-KTP, sistem pembangunan pabrik gula, dan radar.
    Namun, menurut dia, penilaian tidak berhenti semata-mata hanya inovasi saja, tetapi harus inovasi berbasis originalitas dan dampak ekonomi yang ditimbulkannya. “Drone originalitasnya kurang, lalu e-KTP ternyata sistemnya ‘open source’, sedangkan radar sebenarnya juga bagus tapi sayangnya belum sampai produksi,” ujar dia.
    Tim juri, lanjutnya, juga melihat secara personal, dan ternyata masing-masing pribadi di dalam tim  garam farmasi pun cukup kuat bahkan ada juga pemegang paten selain pemilik paten garam farmasi. “Sehingga masing-masing mereka kuat untuk mendapat BJ Habibie Technology Award”.
    Penghargaan BJHTA ke-9 diberikan kepada Imam Paryanto yang juga pemilik paten garam farmasi, Bambang Srijanto, Eriawan Rismana, Wahono Sumaryono, Tarwadi, Purwa Tri Cahaya, dan Arie Fachruddin oleh Kepala BPPT dihadapkan Presiden ke-3 BJ Habibie dan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir.
    Imam Paryanto yang juga merupakan Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika di BPPT usai menerima BJHTA mengatakan timnya bertekad mengatasi impor garam. Harapannya garam farmasi yang patennya didapat pada 2010 berhasil dikembangkan juga akan mampu memenuhi kebutuhan infus, cairan pencuci darah, pelarut vaksin, dan bahan obat lainnya di dalam negeri tanpa harus impor.
    Ia mengatakan bahwa untuk bisa membuat invensi bermanfaat bagi masyarakat tidak hanya membutuhkan kesungguhan peneliti dan perekayasa, tetapi juga dukungan kebijakan dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan.
    Ia menegaskan bahwa semangat dan konsistensi penggunaan teknologi hasil anak bangsa sendiri sangat penting. Motivasi dan semangat dari Presiden ke-3 BJ Habibie bahwa hanya anak bangsa sendiri yang harus memenuhi kebutuhan teknologinya, bukan dari bangsa lain, semoga terus bergelora.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com