• Pakar: Reklamasi Bukan Sekadar Menguruk Laut

    0

    Semarang, jurnalsumatra.com – Pakar lingkungan Sudharto P. Hadi mengatakan reklamasi bukan sekadar menguruk laut untuk menjadikannya daratan yang baru, tetapi memperbaiki lingkungan yang rusak.
    “Banyak proyek reklamasi pantai yang justru merusak lingkungan di sekitarnya, termasuk di Semarang. Itu karena tidak berwawasan lingkungan. Tidak sesuai kaidah lingkungan,” katanya di Semarang, Jumat.
    Mantan Rektor Universitas Diponegoro Semarang itu menyebutkan reklamasi pantai yang terjadi mulai perbatasan Kota Semarang dengan Kabupaten Kendal, Pantai Marina, hingga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
    Reklamasi pantai yang dilakukan, kata dia, membuat banyak bangunan yang berdiri menjorok ke laut sehingga mengakibatkan abrasi di wilayah kanan dan kirinya karena terjadi perubahan pola arus laut.
    “Saya melihat reklamasi pantai yang dilakukan di Indonesia, termasuk di Semarang berdampak buruk terhadap lingkungan. Berbeda dengan reklamasi pantai yang dilakukan di Jepang dan Hongkong,” katanya.
    Pengajar Pascasarjana Ilmu Lingkungan Undip itu menjelaskan istilah reklamasi berasal dari kata “to reclaim” yang artinya memperbarui lingkungan yang rusak bagi daerah-daerah bekas pertambangan.
    Namun, kata dia, sekarang ini banyak yang salah kaprah asal menguruk laut dengan dalih melakukan reklamasi pantai, tetapi justru menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan yang ada di sekitarnya.
    “Memang, daerah yang direklamasi itu jadi bagus, seperti jadi kawasan industri, perumahan, dan sebagainya. Akan tetapi, daerah-daerah di kanan dan kirinya terdampak dengan kian parahnya erosi,” katanya.
    Sudharto tidak melarang reklamasi pantai dilakukan, namun harus berwawasan lingkungan, antara lain memperhatikan sisi “hydrooceanography” dengan reklamasi yang tidak langsung nempel bibir pantai.
    “Ada jarak antara proyek reklamasi dengan bibir pantai. Jadi, arus laut tetap bisa lewat. Ya, memang itu rekayasa teknis. Reklamasi jangan hanya memikirkan dirinya sendiri, namun sekitarnya,” katanya.
    Parahnya abrasi, kata dia, juga menjadi salah satu penyebab semakin parahnya rob menggenang daratan, sebagaimana kerap terjadi di Semarang, di samping karena faktor terjadinya penurunan muka tanah.
    “Daratan yang terabrasi terus menerus akan menjadi lebih rendah dari permukaan laut. Akibatnya, daerah yang terabrasi tergenang rob saat air laut pasang. Tidak ada hujan, tetapi air menggenang,” pungkasnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com