• Mayoritas Pejabat Eselon II Kudus Pahami Inovasi

    0

         Kudus, jurnalsumatra.com – Mayoritas pejabat eselon II di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memahami inovasi dalam menjalankan roda pemerintahan yang menyangkut kualitas pelayanan terhadap masyarakat, kata Kepala UPT Diklat Bahasa Lembaga Administrasi Nasional Agung Nugroho.
    “Dari hasil penelitian di Kudus, dari semua pejabat eselon II tercatat 62 persen memahami inovasi dan 11 persen sangat paham, dan 17 persen kurang memahami,” ujarnya usai menghadiri penandatanganan nota kesepakatan antara Pemkab Kudus dan LAN di Pendopo Kudus, Kamis.
    Untuk tingkat eselon III, katanya, pejabat yang kurang memahami inovasi tercatat 32 persen, sedangkan 62 persennya memahami inovasi kerja.
    Kondisi berbeda, kata dia, ditunjukkan dari hasil penelitian untuk pejabat eselon IV terdapat 30-an persen pejabat yang belum memahami inovasi, sedangkan selebihnya paham dan sangat paham soal inovasi.
    Dia menjelaskan pejabat yang belum memahami inovasi perlu dilakukan pembinaan karena menyangkut kualitas pelayanan masyarakat.
    “Pejabat yang belum memahami inovasi dalam menyelesaikan sesuatu masih menggunakan cara lama dan belum membiasakan penyelesaian dengan cara baru yang benar-benar asing, namun hasilnya lebih baik,” ujarnya.
    Dalam rangka membudayakan munculnya inovasi, kata dia, perlu ada penghargaan sesuai dengan kreativitas masing-masing daerah.
    Ia mengaku siap memfasilitasi berbagai inovasi agar bisa dikenal daerah lain.

         Bahkan, kata dia, pemerintah juga menyediakan wadah bagi setiap daerah yang memiliki inovasi baru agar bisa ditiru daerah lain dengan cara dimodifikasi atau memunculkan inovasi yang memang lebih baik.
    Kepala LAN Adi Suryanto mengatakan inovasi tidak harus datang dari kepala daerah, melainkan bisa dari pejabat setingkat eselon bahkan staf.
    Untuk memunculkan inovasi, kata dia, harus dibangun kebiasaan dari semua jajaran pemerintahan di suatu daerah.
    “Ketika sudah menjadi kebiasaan bagi setiap pegawai untuk memunculkan gagasan baru, tentunya inovasi tidak akan pernah berhenti,” ujarnya.
    Dalam rangka mendorong inovasi, katanya, nantinya perlu dibuatkan indek inovasi serta perlu ada penghargaan terhadap pemilik inovasi yang memang bisa diaplikasikan di dalam pemerintahan.
    Beberapa waktu lalu, kata dia, ada pegawai yang mengusulkan rompi kedisiplinan untuk pegawai yang telat masuk kerja.
    “Setelah diterapkan dan membuahkan hasil, akhirnya pemilik gagasan tersebut mendapatkan penghargaan berupa promosi jabatan,” ujarnya.
    Nantinya, kata dia, akan digelar kompetisi inovasi untuk tingkat kabupaten/kota maupun tingkat internasional untuk memacu setiap kabupaten/kota membuat gagasan baru.
    Lewat nota kesepahaman dengan Pemkab Kudus, LAN siap memfasilitasi inovasi dari Kudus agar nantinya bisa dijadikan rujukan oleh daerah lain sehingga banyak daerah yang melakukan studi banding ke Kudus.
    Bupati Kudus Musthofa berharap, adanya kerja sama itu mampu meningkatkan kinerja pegawai di lingkungan Pemkab Kudus.
    Dengan penilaian dari LAN tersebut, dia mengakui, jajarannya ternyata memang ada yang siap dan ada yang tidak siap, meskipun mayoritas sudah memahami inovasi.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com