• Masyarakat Baduy Komitmen Lestarikan Hutan Adat

    0

    Lebak, jurnalsumatra.com – Tetua Adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Saija menyatakan masyarakat Baduy komitmen menjaga kelestarian hutan adat sehingga dapat memberikan manfaat besar terhadap kelangsungan hidup manusia juga habitat ekosistem lainya.
    “Kami terus mengoptimalkan pengamanan secara swadaya agar kawasan hutan adat seluas 3.100 hektar tetap lestari dan hijau,” kata Saija, di Rangkasbitung, Jumat.
    Selama ini, pelestarian hutan adat di kawasan Baduy berjalan baik dan tidak ditemukan lagi pelaku penebangan liar.
    Masyarakat Baduy sejak nenek moyang hingga kini wajib menjaga pelestarian lingkungan sebagai amanat adat untuk keseimbangan ekosistem alam juga kelangsungan hidup manusia.
    Bahkan, saat ini memberlakukan penjagaan kawasan hutan tersebut agar tidak terjadi pencurian kayu, karena kawasan hutan lindung yang rusak akan menimbulkan banjir, longsor dan kekeringan.
    Saat ini, kawasan hak adat ulayat Baduy seluas 5.101,85 hektare sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 32 tahun 2001.
    Dari 5.101,85 hektar itu diantaranya seluas 3.100 hutan adat dan warga tidak diperbolehkan melakukan kegiatan penggarapan pertanian.
    Sedangkan, menurut dia, sisanya seluas 2.000 hektare dijadikan garapan pertanian oleh masyarakat Baduy.
    “Kami melarang hutan adat digarap pertanian karena khawatir menimbulkan kerusakan hutan,” katanya.
    Menurut dia, masyarakat Baduy hingga tidak boleh melakukan penebangan pohon maupun perusakan hutan, sebab kalau hutan itu rusak tentu akan menimbulkan malapetaka bagi manusia dan ekosistem lain.
    Masyarakat Baduy yang berpenduduk 11.600 jiwa itu tinggal di kawasan Gunung Kendeng berlokasi di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, merupakan sebagai hulu air wilayah Provinsi Banten.
    Kawasan wilayah hulu Baduy memiliki beberapa daerah aliran sungai (DAS), di antaranya Ciujung, Cisimeut, Ciberang, dan Cimadur.
    “Kami sangat serius menjaga pelestarian hutan dan lahan untuk mengantisipasi bencana alam,” jelasnya.
    Tetua Wakil Jarong Tangtu tujuh Ayah Mursyid mengatakan bahwa pihaknya tetap sangat konsisten menjaga gunung-gunung dan hutan yang ada di Provinsi Banten agar tetap terpelihara kelestarianya.
    Pelestarian hutan dan gunung, menurut dia, untuk menghindari daerah ini dari segala bencana alam, seperti banjir dan longsor.
    “Kami terus mengawasi hutan dan lahan agar tidak terjadi penebangan liar yang dilakukan masyarakat luar kawasan Baduy,” katanya.
    Sementara itu, Humas Wadah Musyawarah Masyarakat Baduy (Wammby) Tono Soemarsono mengatakan  masyarakat Baduy sejak nenek moyang hingga sekarang tetap menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai pilar kehidupan.
    Bahkan, dikemukakannya, kawasan Baduy hingga kini menolak pembangunan infrastuktur jalan dan jembatan permanen juga gedung.
    Selain itu juga kawasan Baduy dilarang dilintasi berbagai jenis kendaraan, seperti motor, mobil, dan truk.
    “Pelarangan itu untuk menjaga pelestarian hutan adat agar tidak menimbulkan kerusakan,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com