• Lipi Sarwono Award Untuk Tjia May On

    0

          Jakarta, jurnalsumatra.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberi anugerah Penghargaan Ilmu Pengetahuan berupa LIPI Sarwono Award (LSA) kepada ahli fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Tjia May On atas dedikasinya memajukan penelitian ilmu fisika di tanah air.
    “Apresiasi tinggi sangat patut diberikan kepada tokoh atau ilmuwan yang telah berjasa memajukan iptek dan mengabdikan hidupnya untuk kemajuan sains ini. Berkat dedikasi dan konsistensinya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bidang fisika,” kata Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain pada penyerahan LSA di Jakarta, Kamis.
    Ilmuwan kelahiran Probolinggo, Jawa Timur, 81 tahun lalu ini, menurut dia, telah menulis ratusan publikasi dan jurnal nasional maupun internasional.
    Sebagai pendidik, pemilik gelar PhD dari Northwestern University, Amerika Serikat, tahun 1969 ini juga telah mendorong publikasi nasional dan internasional untuk magister dan doktor.
    Mantan guru besar fisika Institut Teknologi Bandung ini, menurut dia, telah menekuni bidang partikel kuantum dan kosmologi relativistik, dan kemudian penelitian polimer, optik nonlinier, dan semi  superkonduktor.
    Selain mengajar di jurusan Fisika ITB, lanjutnya, penerima LSA 2016 ini juga mengajar di program Optoelektronika Universitas Indonesia.
    Sementara itu, Tjian May On usai menerima LSA mengatakan penghargaan tersebut bukan hanya untuk pribadi. Penghargaan ini juga dipersembahkan untuk seluruh semangat yang tumbuh dalam peneliti yang melakukan riset yang diperlukan negara ini.
    “Saya memang dididik melakukan riset secara mandiri, tapi dalam perjalanan selanjutnya saya menikmati perjuangan bersama dgn rekan peneliti lain, bahkan dengan mahasiswa. Sebenarnya kerja sama mandiri bersama ini membuat saya dapat berdiri di sini,” ujar dia

         Ia mengatakan kehidupan penelitiannya cukup berliku usai belajar di Amerika Serikat karena khusus belajar fisika energi tinggi. Setelah pulang ke Indonesia dirinya sempat pindah menekuni bidang apa saja yang bisa dikerjakan.
    Ia pun mengaku sempat  “berpetualang” ke pascasarjana teknik laser di Universitas Indonesia (UI), mengajar dan membimbing mahasiswa di sana dan akhirnya kembali menggeluti ilmu fisika, yakni lebih tepatnya fisika material.
    Ia menjelaskan bahwa suatu  negara yang maju, makmur, dan kuat harus didukung ekonomi dan industri yang sama-sama maju. Dan industri yang kuat dan maju itu adalah industri yang menpunyai kegiatan dan fasilitas penelitian dan pengembangan yang kuat.
    “Kita sementara ini merasa nyaman dengan membeli, sehingga Indonesia justru menjadi pasar,” ujar dia.
    Ia berharap suatu ketika riset di Indonesia tumbuh menyaingi riset di negara-negara lain, karena potensi sumber daya manusia yang sangat besar. Yang harus dilakukan saat ini adalah mencerdaskan dan membekali mereka dengan ilmu yang canggih supaya dapat melakukan riset-riset bagus hingga akhirnya menciptakan produk yang menembus pasar luar negeri.
    “Jadi, mari fokus menumbuhkan budaya riset,” ujar peraih LIPI Sarwono Award 2016 ini.
    LIPI Sarwono Award dan Sarwono Memorial Lecture (SML) ada sebagai bentuk penghargaan atas jasa almarhum Sarwono Prawirohardjo sebagai Bapak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sekaligus Ketua LIPI pertama.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com