• Komnas Perempuan : kekerasan seksual cenderung meningkat

    0

    Palembang, jurnalsumatra.com – Komisioner Komnas Perempuan Masruchah mengatakan kecenderungan kasus tindak kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan secara nasional dalam kurun waktu tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup tinggi.

    Berdasarkan data pada 2011 secara umum tercatat 119 ribu kasus tindak kekerasan terhadap perempuan, kemudian pada 2012 meningkat menjadi 216 ribu kasus, dan pada 2013 menjadi 279 ribu kasus, kata Masruchah pada acara dialog publik kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan di Palembang, Kamis.

    Menurut dia melihat jumlah kasus tindak kekerasan terhadap perempuan itu yang trennya terus meningkat, perlu dilakukan berbagai upaya untuk mencegah timbulnya korban baru dan menindak tegas siapa pun yang menjadi pelaku tindak kejahatan tersebut.

    Tindak kekerasan terhadap perempuan dapat mengancam di mana-mana, baik di dalam rumah tangga maupun di area publik seperti di angkutan umum, lingkungan kerja, lingkungan sekolah, dan di tempat lainnya.

    Untuk menghadapi ancaman tersebut, selain diperlukan perhatian dari semua pihak, perempuan yang menjadi sasaran pelaku tindak kejahatan itu perlu melakukan tindakan yang dapat menutup peluang terjadinya tindak kekerasan dan pelecehan, meningkatkan kewaspadaan, dan tidak takut melaporkan pelakunya kepada aparat kepolisian.

    Pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan dan pelecehan seksual perlu ditindak tegas dan diberikan hukuman yang berat sehinga jika ada yang akan melakukan tindakan melanggar hukum itu akan berpikir panjang serta dapat memberikan efek jera bagi pelaku yang terbukti melakukan tindakan kekerasan itu, katanya.

    Sementara Ketua Women’s Crisis Centre (WCC) Palembang Yeni Roslaini Izi pada kesempatan itu menjelaskan
    tindak kekerasan seksual terhadap perempuan terutama yang menimpa remaja putri dalam beberapa tahun terakhir ini mencapai lebih dari 100 kasus.

    Remaja putri yang mengalami tindak kekerasan seksual itu mulai dari pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga mahasiswa.

    Tindak kekerasan yang dialami para remaja putri tersebut antara lain diperlakukan oleh pasangan prianya kurang “sehat” dalam berpacaran, pelecehan seksual, dan perkosaan.

    Korban tindak kekerasan seksual tersebut ada yang meminta WCC mendampinginya mengambil langkah hukum menyelesaikan kasus tersebut dengan melaporkan pelakunya kepada polisi, ada yang memendam kasusnya karena merasa malu jika diketahui publik.

    Korban tindak kekerasan seksual yang meminta bantuan WCC, diberikan pendampingan advokasi jika ingin mengambil tindakan hukum dan diberikan penanganan psikologis untuk mengatasi traumanya, kata Yeni. (anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com