• Kisah orang tua hebat dari penjuru negeri

    0

    Jurnalsumatra.com-Setiap orang tua pasti memiliki keinginan agar anaknya menjadi orang yang sukses dalam hidup dan karier, namun rupanya tak mudah mencapainya dan tidak setiap orang dapat mewujudkannya.

    Ada orang tua yang secara materi memiliki harta berlimpah  sehingga dapat memenuhi semua kebutuhan anaknya, tetapi itu bukan jaminan buah hatinya akan menjadi orang sukses.

    Sebaliknya, tak sedikit dijumpai para orang tua yang hidup sederhana bahkan terbilang miskin tetapi mampu mengantarkan putra putrinya menjadi orang-orang cemerlang dan luar biasa sukses.

    Di Ketandan, Imogiri Bantul, Yogyakarta, Yuniati hanyalah seorang buruh cuci yang saban hari bergelut dengan tumpukan pakaian kotor demi mencari sesuap nasi penyambung hidup.

    Namun siapa kira meski hanya seorang buruh cuci, istri dari Febdi Nuryanto itu mampu mengantarkan kedua buah hatinya meraih pendidikan tinggi.

    Anak pertamanya Satya Candra Wibawa Sakti (29) berhasil  melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor di Universitas Hokaido Jepang berkat beasiswa dari Dikti.

    Sementara anak kedua Octaviani Ratna Cahyani (26) telah lulus dari Akademi Perawat Bethesda dan kini berkarir di Rumah sakit Harjo Lukito Yogyakarta.

    Yuniati rela harus berutang sana sini demi mencari biaya sekolah anaknya karena berharap kedua buah hatinya bisa menjadi orang hebat dan lebih baik darinya.

    “Kata tetangga makan saja cari utangan kok malah menguliahkan anak,” ujarnya mengenang masa-masa sulit.

    Sementara dari Flores, Petrosa Dua Ate atau akrab disapa Pepy rela turun naik kapal demi mencari nafkah bagi ketiga anaknya pasca-meninggalnya suami tercinta Yakobus Ponang.

    Mulai dari berjualan bubur kacang hijau hingga barang-barang secara kredit ia lakoni agar ketiga anaknya dapat sekolah.

    “Saya bertekad anak-anak harus sarjana, karena ayahnya bercita-cita seperti itu,” kenangnya.

    Karena itu ia memilih untuk menyekolahkan ketiga anaknya ke luar Flores mengingat pendidikan di daerah itu belum begitu memadai.

    Akhirnya tiga anaknya, Edwin, Matheus Paaceli dan Yolis mampu menyelesaikan sekolah hingga sarjana dan kini telah bekerja bahkan membangun perusahaan sendiri.

    Sementara dari Bangka Belitung  La Ode Abu Hanafi (35) seorang guru mengaji yang saban hari juga berkebun karet berhasil mendidik anaknya Musa menjadi penghafal Al Quran pada usia 5,5 tahun.

    Kecemerlangan putra pertamanya Musa yang mampu menghafal Al Quran ini diganjar rekor dari MURI sebagai hafiz yang mampu menghafal kitab suci umat Islam itu pada usia 5,5 tahun.

    Bahkan Musa dikirim mengikuti lomba Hafiz Al Quran internasional di Jeddah dan menempati peringkat ke-12 dari 15 peserta.

    Sejak Musa berusia dua tahun, La Ode telah mengajarkan buah hatinya menghafal Al Quran secara rutin meskipun masih sulit karena belum paham rangkaian ayat.

    Tetapi ia tetap sabar dan mengulang ayat-ayat yang diajarkan kepada Musa sehingga dalam usia dini telah hafal dua juz.

    Dari Jeneponto  Sulawesi Selatan seorang petani bernama  Ruddin daeng Rurung (65) yang hanya tamat  SD berhasil membimbing anaknya Sudirman melanjutkan pendidikan S2 ke Science Education School of Education , University  Colloge Cork , Irlandia.

    Ruddin punya harapan dan niat yang besar  agar anak-anaknya maju dan berkembang sehingga lebih baik darinya kelak.

    Pada 2014 lalu tentu  publik masih ingat sosok Raeni lulusan terbaik Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, dengan indeks prestasi nyaris sempurna 3,96 yang mengikuti wisuda  diantar ayahnya Mugiyono  naik becak.

    Jika mahasiswa lainnya bersama keluarga naik mobil ke kampus mengikuti prosesi wisuda, Mugiyono dengan bangga mengayuh becak yang menjadi sumber penghidupan sehari-harinya.

    Kini Raeni telah melanjutkan pendidikan S2 di program Magister of Science in International Accounting  and Finance di Birmingham  University Inggris melalui program beasiswa  Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

    Mugiyono rela mencari penghasilan tambahan sebagai penjaga malam agar putrinya bisa kuliah. Kini karena usianya sudah kian lanjut ia memilih menjadi tukang ojek.

    Pendidikan Keluarga
    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan  untuk mewujudkan keberhasilan dalam dunia pendidikan perlu melibatkan tiga komponen yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat.

    “Ketiga unsur itu perlu dilibatkan secara serempak, semua sama-sama penting,” kata dia di Jakarta  pada acara Semarak Pendidikan Keluarga 2016.

    Menurut dia publik  tidak boleh  membebankan  urusan masa depan bangsa ini khususnya tanggung jawab mendidik pelajar hanya kepada sekolah saja.

    “Sekolah, keluarga, masyarakat harus saling bergandengan  dan berangkulan menata masa depan anak-anak untuk kemajuan bangsa ke depan,” ujarnya.

    Ia mengatakan selama  ini sekolah selalu dipandang sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam mempersiapkan masa depan anak.

    Padahal sebetulnya keluarga yang paling bertanggung jawab karena anak lahir dan dibesarkan di rumah dan jika berhasil maka keluarga yang akan menikmati pertama kali, katanya.

    Ia melihat pada hari ini terutama di kalangan keluarga modern cenderung menuntut terlalu banyak terhadap sekolah dalam kesuksesan anaknya.

    Ada yang memandang apapun harus ditanggung sekolah padahal di sekolah anak hanya beberapa jam dan selebihnya di masyarakat dan keluarga, kata dia.

    Oleh sebab itu ia mengajak semua pihak meningkatkan peran keluarga dalam kesuksesan pendidikan masyarakat.

    Muhadjir mengakui saat ini banyak pelaksanaan pendidikan  yang tidak sinkron antara  sekolah dengan keluarga.

    Karena itu orang tua harus dididik melalui ilmu kepengasuhan agar menyadari dan memiliki tanggung jawab terhadap anak, lanjut dia.

    Ia menambahkan ini mendesak dilakukan agar hadir generasi terpilih yang mampu berkompetisi menghadapi persaingan.

    Sementara mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Anies Baswedan mengatakan rumah, sekolah dan lingkungan harus bekerja sama dalam pendidikan.

    “Semua orang tua harus menjadi keluarga pembelajar,” katanya.

    Ia mengingatkan  dunia berubah cepat, cara orang tua dulu mendidik anak dengan saat ini harus berubah karena kondisinya sudah berbeda.

    Kalau semua keluarga berkomitmen terus belajar makan akan lahir anak-anak yang siap menghadapi  masa depan, katanya.

    Keluarga adalah pendidik  pertama dan utama  yang memiliki peran amat penting mendukung keberhasilan pendidikan anak, karena itu keteladanan  dalam keluarga adalah investasi luar biasa bagi masa depan bangsa.

    Di tengah beragam dinamika bangsa ini ada cukup banyak kiprah para orang tua hebat yang dapat diteladani perjuangan dan kesungguhannya dalam mendidik dan mengantar anak menuju jenjang kesuksesan.

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com