• Disparekraf: Telusuri Unsur Sejarah Pacu Jalur Kuansing

    0

          Pekanbaru, jurnalsumatra.com – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Riau gencar menelusuri sekaligus mengangkat unsur sejarah Festival Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), antara lain mengundang Dubes Belanda pada 25-28 Agustus 2016.
    “Pemprov Riau melalui Pemkab Kuansing  mengundang beberapa Dubes,  salah satunya Dubes Belanda untuk menelusuri nilai sejarah karena dalam sejarah pacu jalur itu, dulunya diadakan untuk memperingati ulang tahun Ratu Wihelmina pada jaman penjajahan,” kata Kepala Disparekraf Riau Fahmizal di Pekanbaru, Senin.
    Perjalanan sejarah Pacu Jalur yang telah berjalan lebih dari satu abad silam perlu diangkat nilai historikalnya. Pada masa penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri rakyat dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda Wihelmina yang jatuh pada 31 Agustus.
    Kegiatan dilombakan selama 2-3 hari, tergantung pada jumlah jalur yang ikut pacu.
    “Berkaitan dengan itu, untuk menelusuri jejak-jejak sejarah kita undang Duta Belanda. Suratnya sudah dikirim menunggu konfirmasi ketersediaan beliau,” kata Fahmizal.
    Seiring dengan perkembangan zaman, kata dia, Pacu Jalur diadakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.

         Sebagai informasi, Pacu Jalur merupakan sebuah perlombaan mendayung di sungai dengan menggunakan sebuah perahu panjang yang terbuat dari kayu pohon. Panjang perahu ini bisa mencapai 25 hingga 40 meter dan lebar bagian tengah kira-kira 1,3 m s/d 1,5 m, dalam bahasa penduduk setempat, kata Jalur berarti Perahu.
    “Warisan budaya tak benda nasional ini merupakan legasi yang dimiliki Pemprov Riau yang harus kita lestarikan. Sangat syarat dengan kearifan lokal,” kata dia pula.
    Ia mengatakan, pihaknya bersama dengan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau menggali cacatan sejarah berkaitan dengan festival ini sebagai budaya masyarakat tradisional Kuansing.
    “Kita gali terus nilai budaya dari iven yang sudah sangat tua ini,” sebutnya.
    Selanjutnya, kata Fahmizal, ada pesan yang tersirat dari festival  perahu besar yang terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 40-60 orang pendayung (anak pacu) ini, yakni pesan menjaga lingkungan.
    “Pohon utuh yang dinaiki oleh 40-60 pendayung artinya masyarakat  harus menjaga hutan demi kelangsungan festival ini kalau tidak kemana lagi mereka mencari kayu untuk membuat perahu,” sebutnya pula.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com