• DISBUD Beri Catatan Penyuluh Bahasa Yang Mundur

    0

    Denpasar, jurnalsumatra.com- Dinas Kebudayaan Provinsi Bali akan memberikan catatan tersendiri bagi 65 tenaga kontrak penyuluh bahasa daerah setempat yang telah mengundurkan diri dan tidak akan diloloskan jika kembali melamar pada tahun mendatang.
    “Mereka itu akan kami jadikan catatan karena ternyata tidak betul-betul mempunyai sifat mengabdi dan melestarikan bahasa daerah kita,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha, di Denpasar, Senin.
    Pihaknya sangat menyayangkan 65 dari 716 penyuluh bahasa Bali yang direkrut itu mundur, karena proses seleksi telah dilakukan secara susah payah, dengan biaya yang tidak sedikit.
    Untuk mengisi kekosongan pada 65 desa yang penyuluh bahasa Balinya mundur tersebut, Dewa Beratha mengusulkan agar diatasi secara bersama-sama atau berkelompok oleh penyuluh yang bertugas tidak jauh dari lokasi desa yang penyuluhnya kosong.
    “Forum koordinator penyuluh di kabupaten/kota pada prinsipnya sepakat dengan usulan ini, dan mereka akan segera melakukan pendataan terkait para penyuluh yang wilayah tugasnya tidak begitu luas. Mereka ini yang diprioritaskan bertanggung jawab membantu mengisi kekosongan, tetapi saat turun ke lapangan tentu secara bersama-sama,” ujarnya.
    Menurut Dewa Beratha, jika posisi yang kosong harus dilakukan seleksi ulang, tentu tidak akan efektif dan waktu yang tersedia tidak mencukupi karena para penyuluh untuk tahun ini hanya bekerja selama enam bulan (dari Juli-Desember 2016).
    Sementara itu, Koordinator Penyuluh Bahasa Bali untuk tingkat provinsi Nyoman Suka Ardiyasa mengatakan tidak keberatan terhadap usulan Dinas Kebudayaan tersebut, apalagi memang sudah dibentuk koordinator penyuluh mulai dari tingkat kecamatan hingga provinsi.
    “Koordinator kecamatan ini tidak kerja sendiri, contohnya ketika menemukan lontar yang tidak bisa dibaca misalnya, maka secara berkelompok untuk menyelesaikan permasalahan itu. Jika tidak bisa dipecahkan juga, baru dibawa hingga tingkat kabupaten,” ucap Ardiyasa yang juga Ketua Aliansi Peduli Bahasa Daerah Bali itu.
    Pihaknya mau tidak mau memang harus menerapkan usulan itu karena melestarikan bahasa, aksara dan sastra Bali merupakan tugas yang mulia.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com