• Dinas Pasar Kesulitan Relokasi Pedagang Pasar Rejomulyo

    0

         Semarang, jurnalsumatra.com – Dinas Pasar Kota Semarang mengaku masih kesulitan untuk merelokasi pedagang Pasar Rejomulyo lama ke Pasar Rejomulyo baru meski upaya sosialisasi berkali-kali dilakukan.
    “Upaya sosialisasi telah dilakukan jauh-jauh hari kepada pedagang di Pasar Rejomulyo lama agar mau segera pindah,” kata Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Trijoto Sardjoko di Semarang, Kamis.
    Ia menyebutkan setidaknya 66 pedagang ikan skala grosir di Pasar Rejomulyo lama atau dikenal dengan sebutan Pasar Kobong yang harus dipindahkan seiring rampungnya pembangunan pasar baru.
    Apalagi, di lokasi Pasar Rejomulyo lama itu akan segera dibangun ruang terbuka hijau (RTH) oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) yang direncanakan mulai dibangun pada 2017.
    Tidak hanya pedagang ikan skala grosir, pedagang-pedagang lainnya yang selama ini beraktivitas di Pasar Rejomulyo lama yang berjumlah 20-an pedagang juga akan direlokasi ke pasar yang baru.
    Meski demikian, Trijoto mengatakan Dinas Pasar akan terus melakukan upaya pendekatan kepada para pedagang agar bersedia segera menempati lokasi baru yang telah disiapkan tak jauh dari pasar lama.

         “Saat ini, kami sedang menyiapkan simulasi pemindahan pedagang ke lokasi yang baru. Ini akan dilakukan dalam beberapa tahapan. Yang jelas, (langkah, red.) pendekatan terus kami lakukan,” katanya.
    Salah satu pedagang di Pasar Rejomulyo lama, Sumiyati, mengaku sudah beberapa kali diundang Dinas Pasar untuk mengikuti rapat mengenai sosialisasi relokasi ke Pasar Rejomulyo baru.
    “Saya dan pedagang lain sudah beberapa kali diundang sosialisasi. Namun, dari rapat-rapat itu belum menghasilkan keputusan pasti mengenai kapan jadwal untuk pindah (relokasi, red.),” katanya.
    Dari Paguyuban Pedagang Ikan Basah dan Pindang (PPIBP) Pasar Rejomulyo, Mujiburrohman selaku ketuanya, sudah menyampaikan kesiapan pindah jika sarana dan prasarana di pasar yang baru sudah dibenahi.
    Alasan keberatan pedagang untuk pindah, antara lain kondisi lantai yang dikeramik, sementara dagangan mereka tidak lepas dari lendir ikan yang dikhawatirkan akan membahayakan dan rawan terpeleset.
    Kondisi saluran pembuangan dari pipa yang bersifat tertutup juga dikeluhkan, sebab tidak akan memadai menampung debit air yang mencapai 200 kubik dari aktivitas pedagangan ikan skala grosir/malam.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com