• Zakat dan Implikasinya dalam Kehidupan Sosial

    0
    Dr. H. Abdurochman, M.Ed

    Dr. H. Abdurochman, M.Ed

    Sholat merupakan tiang agama Islam dan puasa adalah benteng bagi orang yang menjalankannya. Adapun zakat adalah sebagai sarana pembersih jiwa seseorang agar terhindar dari penyakit bakhil (kikir), penyakit ini merupakan penyakit yang tercela dan harus diperangi dalam diri setiap umat Islam. Ibadah ini dituntut karena keberhasilan seseorang meraih kesuksesan tidak terlepas dari keterlibatan pihak lain di tengah-tengah kehidupan masayarakat.

    Zakat tidak terbatas hanya pada zakat fitrah saja, melainkan terhadap barang-barang yang bergerak maupun benda-benda mati dan diwajibkan jika telah sampai pada nisab dan hawlnya seperti: zakat mal (harta benda), sawah ladang, tanaman buah-buahan, binatang peliharaan dan ternak, emas, perak, perniagaan, bangunan seperti perkantoran, tokoh-tokoh maupun mal-mal dan juga zakat profesi.

    Fungsi zakat di antaranya adalah mengembangkan harta benda, karena dengan memberi kepada yang membutuhkan, daya beli pasar bertambah dan produksi dapat ditingkatkan. Zakat bisa diwujudkan dengan bentuk modal kerja dengan harapan seseorang yang butuh dapat beralih dari mustahiq menjadi muzakki.

    Dengan zakat menjadikan harta muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) akan tumbuh berkembang dan berkah. Yang dimaksud berkah di sini bukanlah dilihat dari nominalnya (banyak dan sedikitnya) melainkan bermanfaat dan melimpahnya kebaikan bagi muzakki. Salah satu ayat yang merekam hal ini adalah firman Allah: Sungguh beruntung orang-orang yang telah mensucikan jiwanya (as-Syams : 09). Zakat tidak menjadikan muzakki jatuh miskin, bangkrut maupun gulung tikar dari perusahannya sebagaimana hal ini merujuk pada pengertian zakat secara bahasa yaitu: at-Thathir wa al-numuw (mensucikan dan berkembang).

    Pada zaman Khalifah Abu Bakar as-Sidiq dan Umar al-Faruq keduanya telah memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat. Pada zaman sekarang bisa diaplikasian untuk memeranginya dengan cara melakukan sosialisasi pentingnya zakat dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya baik melalui media elektronik, cetak dan jejaring sosial maupun dari satu mimbar ke mimbar lain. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Thabari: orang-orang yang menahan zakat itu (tidak melaksanakan zakatnya) pada hari kiamat kelak akan berada di dalam neraka.

    Bakhil (Kikir) merupakan sifat yang tercela baik di mata manusia, terlebih lagi di mata Allah SWT. Hal ini dengan tegas dipaparkan dalam al-Qur’an bagi mereka yang bakhil (kikir) tehadap harta mereka digambarkan akan dikalungkan harta benda mereka pada hari kiamat.

    Dalam menyalurkan zakat akan melibatkan tiga golangan. Pertama Muzakki: orang yang mengeluarkan zakat dengan niat membersihkan harta dan jiwanya dari sifat rakus dan tamak. Dalam surah at-Taubah 103 dijelaskan: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Ayat tersebut menjelaskan bahwa yang dizakatkan adalah hanya sebagian dari harta yang diperoleh bukan keseluruhan yang dimiliki Muzakki disalurkan ke dalam zakat. Tentunya harta yang dizakatkan adalah yang diperoleh dari cara yang halal dan dihalalkan dalam Islam, tidak dibenarkan menyalurkan zakat dengan cara yang haram dan diharamkan dalam Islam dan hendaknya yang baik kualitasnya sehingga dalam berzakat hendaknya dihindari pemberian yang kualitasnya buruk. Hal ini ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 267, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkkanlah di jalan Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dari hasil usaha kamu dan dari apa yang kamu keluarkan dari kamu dari bumi.(hasil bumi/pertanian) Dan juga berdasarkan hadits Nabi Muhamad saw: Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak menerima, kecuali yang baik (HR. Muslim).

    Kedua Amil zakat: orang yang menyalurkan zakat. merupan perantra atara Muzaki dan Mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Ketiga Mustahik, yang mencakup Fakir, Miskin, Amil zakat,Mualaf, Rikab, Gharim, Fisabililahi, Ibnu Sabil. Mampu memberikan sandang, panggan mapan bagi mereka dan memotivasi Mustahik agar kelak dia juga sebagai Muzaki.

    Hikmah zakat di antaranya sebagai berikut:

    Penyempurna rukun islam. Dalam hadist, Nabi Muhamad saw bersabda: Islam dibangun atas lima pilar, yaitu kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhamad adalah seorang hamba dan utusan Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat; menunaikan ibadah haji dan puasa Ramadhan (HR. Muslim).

    Zakat sebagai lambang solidaritas dan kesediaan memberi “hidup” kepada siapapun yang membutuhkan. Sebagaimana yang dermawan membutuhkan yang miskin, antara lain guna menjunjung kelemahan fisiknya. Sebaliknya yang miskin pun membutuhkan yang dermawan untuk menunjang kebutahan materialnya.

    Pemberi lebih mulia dari pada yang meminta-minta sebagaimana dituturkan dalam untaian kata hikmah: Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah.

    Salah satu ibadah yang menyebabkan hamba-Nya masuk ke dalam surga. Sekian banyak hadist Nabi Muhamad saw seputar keutamaan orang yang menunaikan zakat dengan balasan surga-Nya. Di antara contoh sabda nabi tersebut adalah “Seorang laki-laki mengahadap Rasululaah seraya berkata: wahai Rasulullah, informasikan kepadaku amal (perbuatan) apa yang menyababkan aku masuk surga, Rasulullah berkata: Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan segala apapun, tegakkan sholat, tunaikan zakat dan menyambung tali silaturahim. (Muttafaqun ‘Alaihi).

    Sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Tidak menutup kemungkinan umat Islam selama menjalankan puasa Ramdhan tidak mampu mengontrol gejolak emosinya untuk melakukan ghibah, namimah dan melakukan ma’siat-ma’siat kecil sehingga dengan zakat fitrah akan menambal kekurangan-kekurangan tersebut. Sabda Nabi: Nabi saw telah diwajibkan zakat fitrah sebagai pembersih orang yang berpuasa dari omongan dan perbuatan yang kotor, dan sebagai suatu hidangan bagi orang fakir miskin (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud dan Hakim).

    Demikian zakat yang diperintahkan oleh al-Qur’an karim dan Sunnah Nabawiyah sehingga menjadikan seseorang yang tidak mampu beralih status menjadi mampu, bahkan zakat dapat diberikan kepada yang mampu mengelola keuangan dalam bentuk tunai sehingga terpenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian zakat menjadi solusi pengentaskan kemiskinan walapun sekali lagi bukan itu cara yang terbaik yang diajarkan dan dianjurkan dalam Islam. Wa Allah A’lam

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com