• Titik panas di Sumatera Selatan jauh berkurang

    0

    Palembang, jurnalsumatra.com – Jumlah titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan jauh berkurang selama Juni hingga Juli 2016 jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Selatan Sigit Wibowo di Palembang, Jumat, mengatakan keberhasilan menekan titik api ini tak lain berkat upaya dini dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Berdasarkan data yang dimilikinya, Sigit mengatakan saat ini tergambar jumlah hotspot terhitung tanggal 1-10 Juli 2016 hanya berjumlah 33 titik atau menurun drastis jika dibandingkan periode yang sama pada 2015 yang mencatat 203 titik.

    Sedangkan hotspot selama Juni 2016 hanya berjumlah 76 atau menurun tajam dibandingkan bulan yang sama tahun 2015 yang mencapai 229 titik.

    Jumlah hotspot terkini ini juga jauh menurun jika dibandingkan tahun 2014 yakni pada Juni sudah mencapai 117 titik dan Juli 51 titik, dan tahun 2012 pada Juni mencapai 436 titik dan Juli mencapai 64 titik.

    “Artinya upaya serius yang dilakukan Sumsel beserta pemangku kepentingan lainnya sudah memberikan efek nyata,” kata Sigit seusai menghadiri rapat koordinasi pencegahan karhutla di Gedung BPBD Sumsel.

    Menurutnya, tereduksinya jumlah hotspot ini tak lepas dari ketepatan strategi yang dilakukan tim pencegahan kebakaran hutan dan lahan setelah kejadian hebat pada 2015.

    Tim sangat fokus mencegah munculnya titik api di tiga titik rawan yakni di kawasan Pantai Timur, Ogan Komering Ilir (OKI), perbatasan Banyuasin dan OKI, dan sebelah Utara dari Kabupaten Musi Banyuasin dengan luas areal sekitar 1,4 juta hektare.

    Kawasan ini diperkirakan kelompok gambut dalam yang apabila terbakar maka sangat sulit untuk dipadamkan karena api menjalar dibawah tanah dengan kecepatan tinggi.

    “Ini semua berdasarkan analisa mendalam bahwa sejak 2007, selalu saja tiga lokasi ini sebagai daerah memproduksi asal (kebakaran). Sehingga pada tahun ini sangat diharamkan sekali kebakaran terjadi di tiga lokasi ini,” kata dia.

    Untuk itu, Pemprov, BPBD, TNI, Polri, perusahaan perkebunan saling merapatkan barisan mengingat tiga lokasi ini merupakan kawasan ratusan ribu hektare Hutan Tanam Industri, dan kawasan hutan lindung yang menjadi kewenangan pemerintah.

    “Seperti Kawasan Hutan Padang Siguhan yang terbakar tahun lalu, pemerintah sudah memerintahkan pemilih HTI di sekitarnya turut menjaga agar tidak terbakar karena disadari kemampuan pemerintah sangat terbatas,” kata Sigit.

    Lantaran kesigapan sejak awal ini membuat titik hotspot berada di wilayah tengah di tiga kabupaten (Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir) yang sebagian besar merupakan tanah mineral.

    Meski demikian, Sigit menegaskan bahwa Sumsel tidak melepaskan kewaspadaan mengingat sudah memasuki musim kemarau yang diperkirakan akan total pada Agustus 2016.

    “Saat ini memang masih ada hujan di beberapa lokasi dan masih bisa dimanfaatkan untuk menabur garam (hujan buatan) karena masih ada awan, tapi jika tidak ada lagi awan maka tidak ada cara lain selain berupaya sekuat tenaga mencegah,” kata Sigit.

    Sumatera Selatan menarik perhatian dunia pada saat peristiwa karhutla pada 2015 karena terdapat 736.563 hektare lahan yang terbakar dan 74 persennya berada di dalam area konsesi perkebunan HTI.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com