• Tim Evaluasi Lakukan Kajian Pemberantasan Terorisme

    0

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Tim Evaluasi Penanganan Terorisme yang beranggotakan 13 tokoh lintas organisasi melakukan kajian terkait usaha-usaha yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam pemberantasan dan pencegahan teror.
    Menurut salah satu anggota tim yang juga Komisioner Komnas HAM Hafid Abbas, kajian dilakukan secara ilmiah, termasuk dengan mengunjungi daerah-daerah yang lazim disangkutpautkan dengan kasus teror ataupun penangkapan terduga teroris seperti Solo, Jawa Tengah.
    “Kami juga bekerja sama dengan berbagai institusi yang terkait dengan penanganan terorisme,” ujar Hafid dalam temu pewarta di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat.
    Tim ini, lanjut dia, bekerja agar penanganan di kemudian hari tetap berada dalak koridor supremasi hukum dan hak asasi manusia (HAM).
    Adapun Tim Evaluasi Penanganan Terorisme beranggotakan 13 tokoh lintas profesi, organisasi kemasyarakatan dan agama yaitu Bambang Widodo Umar, KH Salahuddin Wahid, Trisno Raharjo, Ray Rangkuti, Dahnil Anzar Simanjuntak, Haris Azhar, Siane Indriani, Hafid Abbas, Maneger Nasution, Frans Magnis Suseno, Magdalena Sitorus, Todung Mulya Lubis dan Busyro Muqoddas.
    Busyro sendiri mengungkapkan bahwa dia dan angota tim lainnya diberikan waktu tiga bulan untuk melakukan kajian dan evaluasi penanganan terorisme.
    Setelah itu, tim yang didanai oleh APBN ini akan memberikan hasilnya ke Presiden Joko Widodo.
    “Sebab secara struktural, Presiden adalah yang peling bertanggung jawab dalam pemberantasan terorisme,” tutur Ketua KPK periode 2010-2011 tersebut.
    Selain itu, timnya juga berjanji mengungkapkan semua hasil temuan tim kepada masyarakat melalui media.
    Bom Solo
    Tim Evaluasi Penanganan Terorisme ini memberikan catatan khusus mengenai peristiwa pengeboman di Solo, Jawa Tengah beberapa waktu lalu, di mana Kepala BNPT ketika itu Komjen Tito Karnavian (sekarang sudah menjabat Kapolri berpangkat Jenderal) menyebut pelaku bernama Nur Rohman sudah menjadi buronan sejak tahun 2000.
    Nur Rohman sendiri diketahui lahir pada 1 November 1985. Artinya, jika pelaku sudah menjadi buronan sejak umur 14-15 tahun, atau usia setara Sekolah Menengah Pertama (SMP).
    Namun, tim melihat pemberitaan terkait hal tersebut cukup simpang siur. Oleh karena itu, tim meminta klarifikasi dari pihak terkait yang menyatakan Nur Rohman memang sudah menjadi teroris sejak umur sangat muda.
    Selain itu, penting juga ditegaskan apakah pelaku bom bunuh diri itu memang terkait dengan ISIS atau tidak.
    “Keterbukaan itu penting karena tanpa itu penegakan hukum bisa termanipulasi. Kami tidak ingin penanganan terorisme penuh dengan ketidakjujuran,” ucap Busyro.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com