• Tata Kelola Pariwisata Sumsel Minim Sekali

    0

    boy fahlevi meizanoPALEMBANG, jurnalsumatra.com – Belum maksimalnya tata kelola parawisata di Kota Palembang, membuat aktitivas parawisatawan yang masuk Palembang masih sangat minim Padahal, kalau berkaca dari sejarah Sriwijaya banyak yang bisa dikemas dan dikomersilkan untuk konsumsi parawisata.

    Untuk parawisata palembang yang masih stagnan, sebenarnya sederhana. Karena kita punya tempat parawisata sejarah dan religi. Tapikan sekarang yang ada hanya ziarah kubro, seharusnya yang perlu di besarkan sejarah sriwijaya. Jika kita bicara sejarah, maka ada beberapa tempat yang perlu di maksimalkan. Namun harus juga diketahui bagaimana tata kelolanya,” ungkap Anggota DPRD Sumsel daerah pemilihan Palembang, Fahlevi Maizano, tentang sepinya aktivitas parawisata di gerbang Bumi Sriwijaya ini.

    Politisi PDI P ini menjelaskan, konsep wisata itu sudah dilakukan pemerintah Jawa Barat (Jabar) yang mengemas sejarah-sejarah mereka dalam bentuk berbagai legenda. Sudah tentu, akan banyak orang yang penasaran dan mencari informasi kebenaran tentang semua cerita dari legenda tersebut. “Kalau cerita-cerita legenda seperti itu dihidupkan, maka akan terbangun budaya-budaya Sumsel. Parawisata budaya juga harus ditentukan apa ikonnya, dimana letak sejarahnya dan reliji. Misal, perayaan capgome di pulau kemarau, sebaiknya ada agenda dan jangan hanya tahu ada kegiatan setahun sekali. Apa yang harus di gali dari sejarah dan reliji kegiatan tersebut,” terang Ketua Komisi V DPRD Sumsel itu.

    lanjutkan, selain memaksimalkan tata kelola parawisata dan mengemas bentuk-bentuk wisata di Palembang, juga harus ada wisata yang perlu di perbaharui. “Wisata bukan saja tentang pembangunan insfrastruktur fisik, tapi agenda kegiatan parawisata dan harus ada wisata yang perlu di perbaharui”(RN)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com