• Pertamina Sosialisai Penertiban Ilegal Driling Muba

    0
     Pertamina Sosialisai Penertiban Ilegal Driling Muba


    Pertamina Sosialisai Penertiban Ilegal Driling Muba

    Palembang, jurnalsumatra.com-Dengan maraknya para penambang minyak liar (Ilegal drilling) yang terjadi di wilayah kerja PT Pertamina EP Aset I Field Ramba, khususnya Area Mangungjaya dan Keluang, di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan.

    Akan dilakukan sosialisasi tangani illegal drilling oleh PT. Pertamina EP, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) di sector eksplorasi dan produksi migas, untuk melakukan menertipkan para penambang minyak liar (Ilegal drilling) bekerja sama dengan aparat pemerintah daerah, kepolisian daerah, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

    Hal ini disampaikan Heru, Irianto, Field Manager Pertamina EP Asset-1 Field Ramba kepada jurnalsumatra.com yang dikatakannya “Kegiatan penertiban tersebut dimaksudkan untuk mengamankan asset sumur minyak milik Pertamina yang juga masuk dalam wilayah objek vital nasional (obvitnas) serta meningkatkan kegiatan pemberdayaan masyarakat, yang menurutnya ada 104 sumur milik Pertamina EP yang diserobot oleh penambang liar di wilayahnya (Pertamina) dengan sebanyak 81 sumur di Mangunjaya dan 23 sumur di Keluang.” Ungkapnya. Rabu (20/07).

    Iya mengatakan, penyerobotan sumur milik Pertamina EP oleh masyarakat mengakibatkan hak Negara atas hasil mingas hilang yang dikuasai para penambang liar. “Kegiatan pemboran sumur illegal itu juga mengabaikan aspek kerusakan lingkungan dan bahaya kecelakaan tambang mengingat tidak ada standar operasional yang jelas” ungkapnya.

    Menurutnya, dari pengamatan Pertamina, kegiatan penambangan liar tersebut setidaknya dilakukan dengan tiga cara. Yaitu pertama, para penambang illegal itu langsung mengambil sumur yang sudah dibor oleh Pertamina. Kedua, mengebor sumur sendiri di wilayah kerja Pertamina dan Ketiga mengebor di sekitar tempat tinggal mereka tetapi masih termasuk dalam wilayah kerja Pertamina EP Asset-1.

    Lebih lanjut dikatakannya, aksi penyerobotan sumur migas Pertamina itu sulit diberantas mengingat lokasinya tersebar di berbagai tempat dan hasil produksinya bisa mencapai ribuan barel per hari. Sedangkan produksi minyak Pertamina EP diwilayah tersebut (Station Pengumpul Mengungjaya) hanya berkisar 400 barel perharinya.

    “Tidak mengherankan jika hasil produksi minyak mereka bisa dijual tidak hanya di Sumatera tetapi juga hingga ke Tangerang, bahkan ke Singapura, makanya pemboran sumur migas illegal itu kian subur karena kegiatan mereka diduga mendapat dukungan modal dari cukong dan pihak yang bertindak sebagai penadah dan hasil produksi minyaknya.” Jelas Heru.

    Hal tersebut juga diungkapkan Muhammad Baron pria yang berasal dari Sumatera Selatan sebagai Manager Humas Pertamina EP yang menambahkan “Penertiban terhadap kegiatan illegal drilling di wilayah Mangunjaya dan Keluang akan diawali dengan sosialisasi dan koordinasi dengan Muspida Kabupaten Muba, Polri, TNI, dan LSM, karena dinilai kegiatan pengeboran illegal di wilayah tersebut sudah dilakukan secara turun temurun dengan cara tradisional.” Bebernya.

    Menurutnya, sosialisasi juga akan dilakukan terkait dampak yang akan terjadi akibat kegiatan illegal drilling. Dampak lingkungan sudah pasti akan terjadi karena kegiatan tersebut meninggalkan limbah yang tidak dikelola dengan baik sehingga merusak tanah dan eksosistem yang ada.

    Tidak saja dengan aspek keselamatan pekerja, juga aspek keselamatan lingkungan dan kesehatan pekerja yang merupakan prioritas utama dalam kegiatan industry migas. Karena kegiatan illegal drilling sudah dilakukan sejak lama, maka harus dilakukan dengan hati-hati agar menghindari konflik social.

    Lanjut Baron lagi, nasib para penambang yang sumurnya diambilalih oleh Pertamina, Pemda setempat akan membuat semacam pemetaan social (social mampping) sehingga nantinya bisa ditindak lanjuti dengan upaya pemberdayaan masyarakat. “Bentuk pemberdayaan itu bisa macam-macam yang salah satu contohnya membentuk peguyuban sebagai wada para eks-penambang liar tersebut” tegasnya.

    Sementara Mulyadi selaku Ketua Paguyuban Pemuda Borang Keluang, kelompok penambang minyak tradisional di wilayah kerja Pertamina EP Asset-1 Field Ramba di Kecamatan Keluang, Kabupaten Musi Banyuasin, mengakui kalau lokasi kegiatan penambangan warga dilakukan pada sumur yang dimiliki Negara. Ia berharap nantinya ada pembinaan dari pemerintah daerah dan juga Pertamina terkait kegiatan penambangan minyak oleh warga tersebut. “Kami mohon untuk segera diadakan dibinaan, karena penambangan minyak ini juga akan bisa meningkatkan lifting” jelasnya. (edchan)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com