• Penghasilan Petani Aceh Barat RP20 Juta/Musim

    0

    Meulaboh, Aceh, jurnalsumatra.com- Pihak Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh memperkirakan penghasilan petani tanaman padi mencapai Rp20 juta per hektare untuk setiap musim panen (empat bulan sekali).
    Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Barat Safrizal kepada wartawan di Meulaboh Jumat mengatakan, petani bisa mendapatkan keuntungan mencapai Rp12 juta/musim panen setelah dipotong biaya sejak musim tanam sampai pascapanen senilai Rp10 juta.
    “Keuntungan itu setelah diperhitungkan dengan modal mereka keluarkan Rp9-Rp10 juta/musim. Petani belum menyatakan sejahtera karena untuk satu hektare luas lahan itu bukan satu orang pemilik,” jelasnya.
    Safrizal merincikan, untuk satu hektare lahan pertanian tanaman padi di kawasan itu yang aman dari bencana alam seperti banjir, akan mampu berproduksi paling rendah 5 ton/ha, bila dijual dengan harga ketetapan pemerintah (Bulog) Rp3.700/Kg maka jumlah nominal pendapatan petani Rp24 juta/tahun atau 2 kali Indeks Pertanian (IP).
    Terlebih lagi disaat awal-awal musim panen, masyarakat petani banyak yang menjual gabah mereka kepada pengusaha dari luar yang datang membeli padi mereka dengan harga Rp4.000-Rp5.000/Kg, harga tersebut tentunya lebih menguntungkan.
    Hanya saja persoalan dihadapi rentannya terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi di daerah tersebut karena menurut Safrizal, secara nasional ketersediaan pupuk belum seimbang dengan tingkat kebutuhan sektor pertanian dalam satu daerah.
    “Memang untuk pupuk bersubsidi bukan hanya daerah kita yang terbatas, saya pikir memang secara nasional tidak cukup. Untuk Aceh Barat kita butuh pupuk 2.250 ton per IP, sementara kuota untuk daerah kita hanya 1.700 ton,” imbuhnya.
    Meski demikian kata Safrizal, Pemkab Aceh Barat memiliki alternatif lain untuk pemerataan distribusi pupuk agar tidak menjadi kendala masyarakat, demikian halnya untuk sara infrastruktur pertanian yang sedang dipacu merupakan wujud kepedulian pemerintah kepada petani.
    Kata dia, Kabupaten Aceh Barat gagal memulai program perluasan lahan atau cetak sawah baru pada 2016 dengan luas lahan 4.000 hektare karena kendala teknis, demikian juga luas kawasan lahan sawah baru semakin diperkecil menjadi 2.000 hektare dan pekerjaan akan dimulai pada 2017.
    Sementara itu Bupati Aceh Barat H T Alaidinsyah menambahkan, apabila irigasi teknis pada irigasi raksasa Lhok Guci di Kecamatan Pante Ceureumen tuntas pembangunannya, maka dipastikan kesejahteraan petani akan semakin meningkat.
    “Sebab petani sudah mudah bekerja dan tidak lagi terkendala air seperti yang dirasakan selama ini “menanti hujan turun sawah”. Mulai 2016 telah mendapat kucuran dana Rp300 miliar APBN untuk mempercepat penuntasan irigasi itu,” jelasnya.
    Irigasi Lhok Guci tersebut akan mengaliri lebih dari 20 ribu hektare sawah petani dalam enam kecamatan yang menjadi kawasan sentra produksi pertanian tanaman padi, sementara enam kecamatan lain juga didukung oleh tersedia Daerah Irigasi (DI).
    Dirinya mengklaim selama priode pemeritahan dirinya bersama Wakil Bupati Rachmad Fitri HD, untuk produktivitas tanaman padi meningkat capai 7,3 ton/hektare melebihi target nasional, dibandingkan pemerintahan daerah sebelum mereka.
    Dirinya berpesan petani tetap berfokus pada masing-masing sektor ril pertanian itu, jangan sampai melakukan alih fungsi lahan pertanian menjadi kebun sawit, terutama adalah kawasan-kawasan yang masuk daerah aliran irigasi teknis Lhok Guchi.
    “Ini juga berkat dukungan Presiden kita saat ini Jokowi, beliau begitu serius menyukseskan program swasembada pangan dan menyejahterakan masyarakat lewat pertanian, pusat menyalurkan bantuan yang kita butuhkan,” katanya menambahkan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com