• DINKES Situbondo Bentuk KADER Cinderakasih Cegah DBD

    0

    Situbondo, jurnalsumatra.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, membentuk kader cinderakasih yang anggotanya siswa dan siswi SD sebagai upaya pencegahan dini penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) karena Kota Santri itu pada tahun ini berstatus kejadian luar biasa atau KLB untuk DBD.
    “Kami membentuk kader cinderakasih yang anggotanya anak-anak siswa dan siswi SD di semua sekolah di Situbondo untuk pencegahan dini. Karena tahun ini masuk kemarau basah, sehingga dengan hujan yang tidak menentu sangat berpotensi semakin berkembangnya nyamuk aedes aegypti,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Situbondo Abu Bakar Abdi di Situbondo, Jumat.
    Ia mengemukakan dengan dibentuknya kader cinderkasih di lingkungan sekolah dasar, selain dapat melakukan pencegahan dini berkembangnya jentik-jentik nyamuk aedes aegypti di lingkungan sekolah juga bisa menjadi sarana edukasi bagi para siswa.
    Tugas kader cinderakasih, kata dia, yang utama yaitu menjaga kebersihan di lingkungan sekolah. Mulai dari kebersihan di kamar mandi sekolah hingga menjadi motivator kepada teman-teman sekolahnya agar tetap menjaga kebersihan atau perilaku hidup bersih dan sehat.
    “Pembentukan kader cinderkasih di tingkat sekolah dasar ini adalah inovasi Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo. Ini baru pertamakalinya kita lakukan yang tujuannya mencegah jentik-jentik yang bisa berkembang di kamar mandi sekolah,” katanya.
    Dengan adanya kader cilik ini, siswa bertugas menjaga kebersihan kamar mandi dan saat ini di sekolah diterapkan kamar mandi kering, yang artinya tidak menggunakan bak permanen, tetapi menggunakan timba.
    Inovasi membentuk kader mencegah jentik nyamuk aedes aegypti kepada siswa SD, lanjut Abu, karena pada 2016, jumlah penderita demam berdarah dengue meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
    Pada 2015, jumlah penderita DBD 429 orang, lima diantaranya meninggal dunia, sedangkan 2016 dari Januari-Juli tercatat sebanyak 567 orang dengan 10 orang di antaranya meninggal dunia.
    “Karena jumlah penderita serta jumlah meninggal dunia akibat gigitan nyamuk mematikan itu, pada Maret 2016 kita sudah tetapkan Situbondo KLB DBD. Karena sampai pertengahan tahun saja jumlah penderita meningkat dan jumlah penderita meninggal juga meningkat,” paparnya.
    Ia menambahkan, dengan membentuk kader untuk mencegah dini berkembangnya jentik nyamuk di lingkungan sekolah SD, diharapkan korban DBD berkurang. Sebanyak 10 penderita yang meninggal dunia rata-rata masih berstatus pelajar SD dan SMP.
    “Setiap tahun penderita DBD mayoritas masih pelajar. Makanya kami latih siswa SD mencegah berkembangnya jentik-jentik nyamuk di sekolah mereka. Sampai saat ini sudah banyak sekolah yang kami bentuk kader cinderakasih dan kami sudah sosialisasikan cara mencegah pengembangbiakan nyamuk aedes aegypti,” katanya.
    Sementara Ferdi, salah satu siswa SD Negeri 1 Mimbaan, Kecamatan Panji, mengatakan menyambut baik dibentuknya kadre cenderakasih di sekolahnya karena mereka dapat belajar sejak dini bagaimana mencegah jentik nyamuk yang mematikan itu berkembang biak.
    “Saya bersama teman-teman senang bisa menjaga kebersihan di sekolah karena kami belajar dari teman kami yang sebelumnya juga menderita demam berdarah dengue, tetapi beruntung teman saya bisa sembuh setelah menjalani perawatan medis di rumah sakit,” ujarnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com