• Bupati Lampung Timur Tanggapi Rencana Tambang Pasir

    0

         Lampung Timur, jurnalsumatra.com – Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim menanggapi keresahan dan penolakan warga terutama nelayan di Kecamatan Labuhan Maringgai atas rencana sebuah perusahaan tambang pasir dikabarkan telah mengantongi izin akan beroperasi di wilayah laut kecamatan tersebut.
    Bupati Chusnunia Chalim di Sukadana, Lampung Timur, Selasa mengatakan pihaknya segera menggelar rapat untuk membahas keresahan dan penolakan masyarakat setempat atas rencana pengelolaan tambang pasir di wilayah laut di Kecamatan Labuhan Maringgai tersebut.
    “Saya sudah mendengar keresahan warga terkait akan beroperasi tambang pasir itu, makanya kami akan menggelar rapat soal itu,” kata Chusnunia lagi.
    Dia menyatakan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim untuk mempelajari masalah tersebut.
    “Rapat belum, baru akan kami bahas, tapi kami sudah turunkan tim untuk masalah ini, apa duduk persoalannya,” ujarnya pula.

         Tapi menurutnya, jika Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pertambangan dan Energi telah menggeluarkan izin atas perusahan tambang itu, dia pun meminta warganya untuk tetap tenang.
    “Kalau provinsi sudah mengeluarkan izin berarti semua syaratnya sudah lengkap,” ujar dia lagi.
    Dia menegaskan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur akan bersama masyarakat menghadapi permasalahan tersebut.
    “Pemkab Lampung Timur apa pun yang terjadi akan bersama masyarakat, dan masyarakat tidak boleh anarkis serta tidak boleh menang sendiri,” ujarnya lagi.
    Bupati yang mantan anggota DPR RI dari Fraksi PKB ini masih enggan mengomentari lebih jauh tentang masalah tambang pasir laut tersebut.
    “Aku nggak bisa statement, karena aku belum lihat sendiri ya, dan mau dirapatkan,” ujarnya lagi.
    Saat ini, sejumlah nelayan di Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur mengaku resah sehubungan adanya rencana eksploitasi tambang pasir laut di wilayah kecamatan itu.
    Sejumlah nelayan di Desa Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai, Sabtu (9/7), mengaku telah mendengar rencana eksploitasi tambang pasir di wilayahnya yang akan dikerjakan oleh sebuah perusahaan tambang pasir.

         Menurut mereka, perusahaan tambang pasir tersebut akan segera beroperasi karena telah mengantongi izin dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung.
    Mereka menyebutkan lokasi tambang pasir laut yang akan diekploitasi itu berada di laut Tanjung Sekopong, Gusung Syahbandar, dan Laut Pedamaran yang jaraknya 2 jam perjalanan kapal laut dari muara Sungai (Way) Penet Desa Margasari.
    Warga setempat menyampaikan penolakan rencana aktivitas pengusahaan tambang pasir di wilayah laut sekitar tempat tinggal mereka itu.
    “Kami menolak tambang pasir di lokasi tersebut, karena akan merusak ekosistem laut,” kata salah satu nelayan setempat, dan dibenarkan sejumlah warga lainnya.
    Selain itu, menurut para nelayan itu, dampak dari tambang pasir laut itu akan mengurangi secara drastis hasil tangkapan ikan mereka.
    “Itu tempat biota laut yang biasa kami menebar jaring di situ, semua habitat dan populasi ikan di situ, kalau jadi ditambang maka kami tidak akan dapat hasil tangkapan ikan dan biota lautnya juga semua akan rusak,” kata nelayan itu pula.

         Para nelayan di Desa Margasari ini juga menyatakan telah menyampaikan permasalahan tersebut kepada kepala desa dan camat setempat.
    “Sudah kami sampaikan penolakan kami kepada kepala desa, camat, pihak kepolisian, dan TNI dalan pertemuan di rumah kepala desa beberapa waktu lalu,” katanya lagi.
    Nelayan itu menjelaskan tidak pernah memberika izin terhadap perusahaan tambang pasir itu, dan mereka mengaku hanya pernah memberikan izin terhadap aktivitas pengerukan muara di sungai setempat pada 2013 lalu.
    Mereka pun berharap kepada pemerintah agar membatalkan rencana tambang pasir tersebut oleh perusahaan itu. “Kami minta rencana tambang pasir ini dihentikan,” kata nelayan itu pula.
    Nelayan setempat juga berharap Pemkab Lampung Timur segera memberikaan penjelasan kabar rencana tambang pasir laut di wilayah itu.
    Sikap penolakan nelayan atas adanya rencana tambang pasir itu ditunjukkan dengan memasang sejumlah spanduk penolakan.
    Isi spanduk itu, salah satunya berbunyi, “Kami menolak penambangan pasir laut Sekopong, jangan memikirkan diri sendiri pikirkan kami masyarakat kecil,” bunyi spanduk itu.
    Bunyi spanduk lainnya, “Penolakan penyedotan pasir laut, kami rakyat kecil khususnya nelayan tidak setuju dengan adanya penambangan ini,”.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com