• Tokoh: Perbuatan Korupsi Akibat Tidak Faham Pancasila

    0

         Lebak, jurnalsumatra.com – Tokoh masyarakat Kabupaten Lebak KH Nurdin Tajri menyatakan perbuatan korupsi yang saat marak  di Tanah Air akibat tidak faham nilai-nilai Pancasila, khususnya sila pertama yakni sifat Ketuhanan Yang Maha Esa.
    “Kami yakin jika mereka mmeiliki Tuhan, juga paham terhadap Pancasila dipastikan tidak akan melakukan tindakan korupsi,” kata Nurdin saat mengenang hari lahirnya Pancasila di Lebak, Kamis.
    Selama ini, mental Bangsa Indonesia sangat lemah karena mereka sudah tidak faham lagi nilai-nilai Pancasila, terlebih bangsa ini menghadapi era globalisasi.
    Era globalisasi itu mereka lupa terhadap jati diri bangsa dengan mengenyampingkan nilai-nilai Pancasila, agama dan budaya.
    Mereka hidup mencari materi dengan bermewah-mewahan juga menguasai lahan-lahan milik masyarakat kecil dengan cara melakukan korupsi.
    Ciri-ciri perilaku korupsi itu hidup rakus, tamak, dan serakah.
    Ironisnya, kata dia, pelaku korupsi tersebut melibatkan berbagai profesi termasuk pejabat negara, kepala daerah, politisi, hakim, pengacara, wakil rakyat, pengusaha, guru, pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) hingga kalangan akademisi.

         “Kami minta ke depan pejabat pemerintah itu tidak melakukan korupsi, sebab korupsi itu sangat bertentangan dengan Pancasila juga hukum agama Islam,” ujar mantan Ketua MUI Kabupaten Lebak.
    Menurut dia, tindakan korupsi, juga bisa dikatakan tindakan merusak di muka bumi, karena itu pelakunya harus ditindak secara hukum, sesuai UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
    Sebab, jika tidak dilakukan tindakan tegas dikhawatirkan menimbulkan kerusakan di muka bumi dan akan terjadi dekadensi moral serta pemiskinan.
    Selain itu juga Allah Swt akan menurun adzab,sehingga perbuatan korupsi harus diberantas hingga akar-akarnya.
    Perbuatan korupsi masuk kategori dosa besar karena mencari kekayaan dengan tidak halal hingga bisa menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak.
    Mereka pelaku korupsi memperkaya diri sebanyak-banyaknya karena mereka takut hidup miskin.
    “Kami setuju hukuman bagi pelaku korupsi diperberat hingga hukuman mati,” kata dia.
    Ketua Pengurus Persatuan Islam (Persis) Kabupaten Lebak Ustad Cedin Nurdin mengatakan untuk pemberantasan korupsi lembaga hukum harus bekerja sinergis antara KPK, Kepolisian dan Kejaksaan. Sebab, pelaku korupsi itu perbuatan melawan hukum juga bertentangan dengan UU45 dan Pancasila.
    “Kami berharap dengan sinergitas antarlembaga hukum itu bisa mencegah korupsi di tanah air,” ujar dia.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com