• Sejarawan Harus Dilibatkan Susun Kurikulum Pendidikan

    0

    Medan, jurnalsumatra.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus tetap melibatkan sejarawan dalam penyusunan kurikulum mata pelajaran sejarah pendidikan dasar dan menengah sehingga tidak terjadi kekeliruan.
    “Sejarawan merupakan orang yang dianggap ahli dan memahami luas tentang sejarah dan mereka harus diikutsertakan dalam penyusunan buku pendidikan tersebut,” ujar Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Mutsyuhito Solin, MPd di Medan, Rabu.
    Menurut dia, penyusunan kurikulum mata pelajaran sejarah yang tidak meminta saran dari sejarawan memiliki potensi kesalahan dan kekurangan.
    “Hal ini banyak ditemui dalam penyusunan buku-buku sejarah pendidikan dasar dan menengah,” ujar Solin.
    Ia menjelaskan, dalam penyusunan buku kurikulum pendidikan tersebut tidak boleh sampai terjadi kekeliruan atau karena dapat merugikan siswa SD, SMP, dan SMA yang akan mempelajarinya.
    Selain itu, para pelajar yang membaca buku-buku sejarah tersebut juga akan merasa bingung, serta tidak mengetahui mengenai sejarah yang sebenarnya.
    Oleh karena

    itu, sebelum menyusun kurikukulum mata pelajaran tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus terlebih dulu membentuk tim ahli dan melibatkan para pakar sejarah.
    “Ini perlu dilaksanakan agar tidak terjadinya kekeliruan dalam penyusunan buku sejarah yang merupakan kumpulan dari berbagai budaya daerah di Indonesia,” ucapnya.
    Solin menambahkan, pengenalan sejarah yang keliru dapat berdampak negatif kepada para pelajar sebagai calon-calon pemimpin nasional ke depan.
    “Jadi pemerintah harus secepatnya merevisi kurikulum mata pelajaran sejarah yang mengalami kekeliruan itu, dan menyempurnakannya dengan benar,” kata Dosen Unimed itu.
    Sebelumnya, Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia Prof Dr Susanto Zuhdi mengungkapkan bahwa penyusunan kurikulum mata pelajaran sejarah pendidikan dasar dan menengah tidak melibatkan sejarawan.
    Oleh karena

    itulah, ia menyebut ada sejumlah materi yang dinilai keliru dalam mata pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
    Susanto yang juga mendalami tentang sejarah bahari Indonesia tersebut mencontohkan salah satu materi yang dianggapnya keliru dalam pelajaran sejarah ialah mengenai masa penjajahan Belanda di Nusantara selama 350 tahun.
    Menurut dia, negara kincir angin itu tidak menjajah nusantara selama tersebut mengingat perlawanan-perlawanan yang diberikan oleh kerajaan-kerajaan kala itu.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com