• Rusdi Tewas Saat Memasang Baleho Selamat Datang Kapolda

    0

    kunker-kapolda_20160531_233436Kayuagung, jurnalsumatra.com – Duka mendalam masih menyelimuti, keluarga Jumanah (47), sejak kepergian suami tercinta Rusdi (51) pada 31 Mei 2016 lalu, akibat kesetrum listrik tegangan tinggi ditiang baleho Simpang Tiga Celikah Kayuagung Ogan Komering Ilir (OKI), saat memasang spanduk “Selamat Datang Kapolda Sumsel” .

    Saat itu (Selada 31 Mei 2016, red) Rusdi dimintai untuk memasang spanduk penyambutan kehadiran kapolda Sumsel.

    Setelah kejadian itu, Jumanah mengaku masih bingung menghadapi kehidupan kedepan sebagai single parent menghidupi keenam anaknya yang masih sekolah.

     “Sedang cak ini raso mati langkah dengan keadaan sekarang, cakmano kami nak behidup kedepannyo ini, anak masih kecik-kecik.” ungkap Jumanah, Rabu (22/6).

    Jumanah mengatakan, kepergian suaminya bagaikan mimpi saja. Ia masih tak percaya bakal kehilangan suami tercinta yang telah memberinya enam anak. “Kareno beliau itu idak ninggal dalam kondisi sakit. Bahkan sebelum meninggal semalam masih ngomong dengan anaknyo.” ujarnya.

    Kendati merasa sangat kehilangan, mau tidak mau ia harus merelakan dengan penuh keikhlasan.”Nak cakmano lagi ini lah takdir. Mungkin sudah jalannyo  Tuhan memanggil suami aku dengan caro cak itu,” katanya.

    Jumanah, tidak mendapat firasat sebelum kepergian sang suami. Namun diakui, kata dia, memang Rusdi memiliki keahlian dalam hal memanjat. “Selain ngojek, beliau galak bantua warga manjt kelapo untuk tmbahan. Jadi bukan masalah bagi dio manjat tiang baleho untuk masang spnduk yang disuruh polisi.” ucapnya.

    Sebelum mengetahui suaminya meninggal, Jumanah saat itu masih bekerja disawah dekat rumahnya di Desa Celikah. Warga setempat mengabarkan suaminya jatuh dari pohon.”Ado warga yang ngasi tahu kalu laki ku campak dari pohon. Aku disuruh datang ke rumah sakit.”katanya.

    Namun, setelah melihat kondisi sebenarnya, sang suami bukanlah jatuh dari pohon melainkan, jatuh dari tiang baleho akibat kesetrum saat memasang spaduk”Selamat Datang Kapolda.”.”Kondisi kepalanyo pecah, badannyo gosong.” ujarnya.

    Dari kejadian itu, kata Jumanah, pihak kelurga mendapat santunan dari pihak kepolisian sebesar Rp10 juta. “Ya kami dibantu Rp10 juta.” akunya.

    Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan sedekah kematian, serta membayar utang-utang yang ada. “Kami berharap kalau bisa, santunan yang diberikan tidak sebatas Rp10 juta saja. Anak-anak yang masih sekolah butuh biaya. “harapnya.

    Jumanah, terus berjuang dengan berharap belas kasihan. Ia sempat mendatangi pihak sekolah tempat anaknya menuntut ilmu.”Aku datang ke sekolah anak aku. Aku temui gurunyo. Aku ngomong kalu ado bantuan tolong anakku dimasukke. Biar pacak sekolahterus dio.”katanya sambil berlinang air mata.
    Ia mengatakan, Camat Kayuagung juga memberikan perhatian atas kepergian suaminya. “Pak camat ngomong minta urus KK dan surat keterangan tak mampu biar nanti kalau ada bantuan bisa diusulkan untuk mendapat bantuan.”

    “Pak camat juga memberikan semangat kepada kami untuk tabah menjalani hidup ini. “Ibu harus sabar dengan semua ini, saya juga dulu orang miskin bu. Kalau kita sabar Insya Allah pasti ada jalannya.” Kata Jumanah meniruhkan perkataan Camat Kota Kayuagung.

    Kematian memang rahasia Tuhan yang kapan saja pasti terjadi. Jumanah dengan besar hati harus ikhlas menerima cobaan ini, dengan status baru sebagai single parent  Jumanah mau tidak mau harus siap menjalani kehidupan kedepan bersama enam buah hatinya. (ata)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com