• Pembangunan Perpustakaan Dan Museum Multatuli Rp14,5 Miliar

    0

         Lebak, jurnalsumatra.com – Pembangunan gedung Museum Multatuli dan Perpustakaan seluas 2.200 meter persegi di Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten  ditargetkan rampung tahun 2016 hingga menelan dana sekitar Rp14,5 miliar.
    “Pembangunan gedung itu sudah ditenderkan oleh pihak ketiga yakni kontraktor,” kata Kepala Dinas Cipta Karya Kabupaten Lebak Wawan Hermawan saat ditemui di Lebak, Rabu.
    Pembangunan gedung Museum Multatuli guna mengembangkan destinasi wisata sejarah ‘Max Havelaar’ seorang Asisten Residen Lebak 1850 yang mengangkat nasib buruk rakyat yang dijajah Belanda.
    Pihaknya berharap gedung museum Asisten Residen itu nantinya dibangun dengan bentuk asli seperti tempo dahulu.
    “Kami optimistis gedung museum Max Havelaar itu berdampak positif terhadap proses percepatan pembangunan di daerah itu,” ujarnya.
    Menurut dia,pembangunan gedung Museum dan Perpustakaan diintegrasikan sebagai kawasan bekas Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Kepegawain Daerah (BKD) yang lokasinya tidak jauh dengan Kantor Pemerintah Kabupaten Lebak.
    Adapun, pembangunan gedung Perpustakaan dialokasikan oleh APBD Provinsi Banten sebesar Rp12 miliar dan gedung Museum Multatuli Rp2,5 miliar dari APBD Kabupaten Lebak.
    Pembangunan gedung tersebut guna mendongkrak minta baca masyarakat juga pelestarian sejarah yang mendunia.
    Bahkan, gedung museum itu nantinya dilengkapi dokumen tentang Multatuli juga benda peralatan tempo dulu.
    Gedung museum Max Havelaar itu dipastikan akan berdampak positif bagi pemerintah daerah, terlebih Kabupaten Lebak mengejar ketertinggalanya dan bisa sejajar dengan daerah lainya di Provinsi Banten.

         “Kami yakin gedung museum Multatuli dan perpustakaan itu cukup menguntungkan salah satunya bisa mendatangkan investor dan pendapatan asli daerah (PAD) melalui retribusi kunjungan wisata sejarah itu,” ujarnya.
    Ia juga mengatakan, pembangunan gedung museum rumah Max Havelaar itu manfaatnya cukup besar, selain mendatangkan ribuan wisatawan mancanegara.
    Sebab sejarah Multatuli sudah menembus dunia dan cukup terkenal di Benua Eropa, seperti Belanda, Inggris, Swis dan Italia.
    Pembangunan museum itu juga merupakan pelestarian sejarah kehidupan tempo dahuli saat Indonesia dijajah oleh Belanda.
    Di samping itu, dapat meningkatkan ilmu pengetahuan bagi masyarakat, akademis tentang karya novel Max Havelaar itu.
    “Saya kira pembangunan rumah Max Havelaar optimistis rampung tahun ini,” katanya.
    Dekan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Lebak Akhmad Kusaeni mengatakan pihaknya mendukung pembangunan gedung museum Multatuli guna pelestarian sejarah yang terjadi pada masa penjajahan Belanda.
    Karena itu, sejarah ini harus dikenang oleh anak-anak cucu karena tempo dulu masyarakat Kabupaten Lebak mengalami kepedihan oleh kaum penjajah.
    Mereka keluarga para kuli tinggal di desa-desa sekitar perkebunan secara melarat dan ditindas dengan diperlakukan kurang adil oleh para petugas pemerintah setempat. Karena itu, novel Max Havelaar karya pena Multatuli merupakan bagian sejarah dunia.
    Bahkan, sejarah Multatuli itu sudah dikenal hingga Benua Eropa dan Amerika Serikat.
    “Kami berharap gedung Multatuli ini bisa dikenang oleh masyarakat Lebak juga dijadikan pelajaran sejarah kepada anak-anak cucu,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com