• LRT Proyek Tanpa Study Kelayakan

    0
    lrt

    LRT Proyek Tanpa Study Kelayakan

    Palembang, jurnalsumatra.com – Pembangunan sarana transportasi modern ini dibangun tanpa study kelayakan, hal ini terungkap ketika kepala dinas perhubungan Nasrun Umar mengadakan jumpa pers di kantornya beberapa waktu lalu.

    Nasrun mengungkapkan untuk meraih pembangunan ini dirinya dirugaskan gubernur sumsel Alex Noerdin tanpa bekal document studi kelayakan sebagai bahan untuk mendapatkanya, setelah mendapat lampu hijau LRT untuk Palembang, maka dirinya mempersiapkan segalanya hanya dalam satu bulan.

    Sehingga setelah proyek berjalan baru timbul berbagai masalah yang ada, seperti AMDAL, pipa milik pertamina dan PGN, jalur telekomunikasi Telkom, PDAM juga bertabrakan dengan rencana pembangunan jangka panjang. Belum dampak social masyarakat yang tidak masuk dalam pertimbangan.

    Namun semuanya dibantah oleh Alex Noerdin dengan membuat jumpa pers dan menekannya kegunaanya LRT hanya untuk memanjakan Asian Games dengan mengatakan, Pembangunan Light Rail Transit (LRT) dan ditarget mulai digunakan 18 Agustus 2018. Gubernur Sumsel, Alex Noerdin mengatakan, Palembang sebagai ibukota Bumi Sriwijaya akan memiliki LRT pertama kali di Indonesia. Bahkan disebut-sebut sebagai paling modern.

    Pertama kali di Indonesia. Atlet, official dan suporter yang turun dari bandara, langsung menuju venues tanpa ada hambatan,” kata Alex menjadi pembicara acara ‘Bangga Jadi Wong Sumsel: Kupas Tuntas LRT’ di Hotel Arista Palembang, Sabtu (4/6/2016).

    Ia juga mengklaim, LRT di Kota Palembang hanya satu-satunya di dunia. “Cari di seluruh dunia, ada kah yang macam ini? Langsung ke wisma atlet tidak ada gangguan sama sekali,” tegasnya.

    Pemerintah pusat mengucurkan dana Rp 12,4 triliun untuk membangun LRT di Kota Palembang. Pembangunan infrastruktur diprediksi menghabiskan Rp 11,2 triliun, sedangkan dana Rp 1,2 triliun diproyeksikan untuk rangkaian gerbong dan lokomotif serta Depo”ujarnya”

    Gubernur menambahkan, dalam 2 tahun pembangunan LRT merupakan masa yang amat sangat sulit. Bahkan, kurva S yang biasa digunakan dalam setiap proyek menunjukan tegak lurus, dengan tingkat kesulitannya sangat tinggi, meleset sedikit akan sangat terpengaruh.

    Ternyata, dalam pengerjaan mega proyek LRT Kota Palembang juga menyebabkan berbagai kegaduhan. Mulai dari masyarakat, hingga melibatkan instansi seperti PDAM, PLN, Telkom dan sebagainya.

    Kami sempat ribet dengan pipa gas, pipa pdam, kabel listrik, kabel telkom. Jadi ribet ruwet. 2018 selesai, pada 1 Juni akan mulai full operation. Jadi, hampir 3 bulan sebelum Asian Games (LRT) sudah selesai,” tegasnya.

    Semenjak dimulainya pembangunan LRT, kemacetan mulai dirasakan oleh masyarakat Kota Palembang. Sebagai dampak adanya penyempitan di sejumlah ruas jalan yang digunakan. Mulai dari Bandara SMB II Palembang sampai Jakabaring. “Bukan selama 2 tahun macet total. Untuk itu, saya (gubernur) minta maaf, karena macet itu pasti,” ujarnya.

    LRT Kota Palembang yang saat ini tengah dikerjakan merupakan koridor pertama, dan akan dilanjutkan pembangunan koridor selanjutnya pada tahun-tahun mendatang.

    Sebenarnya, kita (Sumsel) memang tidak siap, kita (Sumsel) memang ketinggalan bila dibandingkan dengan Jakarta. Sarana pendukung, seperti parkir di sekitar stasiun sudah dipikirkan. Karena, kalau tidak berani ngambil keputusan, tidak akan pernah ada (LRT) di Palembang. Rencananya akan ada 4 koridor, 3 koridor selanjutnya setelah selesai koridor ini. 3 koridor selanjutnya tanggung jawab Gubernur yang akan datang. Untuk itu, saya memerlukan dukungan penuh masyarakat,” tambahnya.

    Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya, Prof Didik Susetyo membenarkan apa yang disampaikan oleh Gubernur Sumsel. Apabila, Ada kajian yang menunjukan pada 2019 akan Grand Lock alias macet total di Kota Palembang. “Kalau semua pertumbuhan kendaraan dibiarkan dan jumlah atau luasan jalan tidak bertambah,” ungkapnya.

    Menurutnya, pembangunan LRT akan mendorong perekonomian, pembangunan daerah dan pertumbuhan kawasan perkotaan dan honterland.

    Jadi, lrt harus difungsikan secara maksimal. Sebagai moda transportasi masa yang menjembatani konektivitas kawasan. Menjadi layanan publik dengan tarif uang yang seharusnya murah dan mudah,” pintanya.

    Pakar Transportasi Universitas Trisakti, Dr Yayat Supriatna menjelaskan, pembangunan LRT di Kota Palembang akan memberikan dampak tersendiri bagi masyarakat Palembang. Dengan adanya pembangunan struktur, maka akan membangun kultur dengan sendirinya.

    Ini akan mengubah cara pandang masyarakat dengan sesuatu yang baru,” terangnya.

    Salah satu contoh, adanya kemacetan yang muncul imbas dari pembangunan LRT. Masyarakat Kota Palembang telah berupaya menghindari kemacetan dengan mencari jalan-jalan alternatif menuju tujuannya.

    Menurutnya, apabila orang dihadapkan dengan angkutan umum yang ada saat ini seperti bus dan angkot. Maka, orang-orang tidak akan tertarik naik angkutan umum, dan memilih menggunakan tranportasi ojek online. Seharusnya, LRT akan lebih memanusiakan masyarakat. Sehingga mendapatkan pelayanan yang maksimal. Sturktu kultur dan proses, pembangunan itu pasti menjadi budaya baru,” paparnya.

    Kota Palembang merupakan kota pertama di Indonesia mengoperasikan LRT, yang bisa menjadi percepatan pembangunan. Karena, adanya kekuatan anggaran akan mempercepat pembangunan.

    Masalahnya, sesudah LRT dibangun, apakah masyarakat mempunyai budaya tertib. Kalau tanpa disiplin akan agak berat juga,” ungkapnya.

    Sebagai Pakar Transportasi, Dr Yayat Supriatna tidak memungkiri, apabila ada protes dalam proses pembangunan LRT. Karena, apa yang disampaikan pemerintah dan masyarakat tidak sepenuhnya benar.

    Dia mencontohkan, ketika comuter line di Jakarta mengubah prilaku umum masyarakat. Ketika LRT Kota Palembang menggunakan tiket atau kartu. Bagaimana prilaku akan mengikuti sistem didalamnya. Sekarang, di Jakarta dalam 1 tahun penumpang comuter line mencapai 450 ribu orang-900 ribu orang.

    Yang paling penting itu kepastian. Bagaimana mengelola, LRT harus bisa membuat orang tertib. Karena apa, kalau buruk sistemnya, akan buruk juga penumpangnya,” tegasnya.

    Menurutnya, adanya LRT di Kota Palembang akan menjadi City branding, akan menjadi kekuatan yang menambah daya tarik Palembang. Karena, sebagai satu-satunya kota yang menggunakan LRT hanya di Palembang. “Orang-orang mau seminar aman dipalembang, tidak akan macet. Inikan menjadi kebanggaan warga palemabnag, dan bisa menjadi ikon baru,” paparnya.

    Untuk itu, diperlukan adanya sinergi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Untuk melakukan reformasi transportasi. Mengenai sinergi tata ruang transportasi. Karena, akan ada TOD tranportasi masal, atau diberikan semacam insentif pendirian bangunan. Di beberapa simpul yang dilewati, untuk segera dibuat peraturan oleh Pemda.

    Palembang akan menjadi kota ramah pejalan kaki. Karena harus ada ruang pejalan kaki. Duitnya dari bentuk insentif, Selamat datang LRT, selamat datang perubahan,” tambahnya.

    Psikolog Sosial, Reni Permataria mengatakan, dirinya mempertanyakan mengenai kesiapan psikologi masyarakat Kota Palembang. Untuk bersama-sama dapat menjaga dan memelihara angkutan masal ini.

    Budaya masyarakat kita (Palembang) apakah akan siap. Karena, mereka akan lebih memilih gojek (ojek online) dibandingkan angkutan umum (bus kota/angkot) yang kurang nyaman. Adanya LRT, akan sangat aman membantu. Jangan ada banyak coretan disana (LRT). Sehingga, diperlukan pembelajaran, dan sosialisasi menjelang LRT dilaunching,” paparnya.

    Melihat sarana transportasi masa LRT Kota Palembang, yang sangat nyaman dengan fasilitas yang cukup nyaman. Akan memberikan tekanan psikologis tersendiri bagi masyarakat dengan perekonomian menengah kebawah. Pemerintah, sudah sepatutnya memperhatikan hal tersebut. “Bagi masyarkat menengah kebawah, pasti ada keengganan naik kesana,” terangnya”(mdn)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com