• Komersialisasi Ramadhan

    0
    malik

    Abdul Malik Syafei (Ketua Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Sumsel)

    (Sebuah Pergeseran antara Diskon Pahala dan Belanja)

    RAMADHAN selalu memberikan warna tersendiri bagi umat muslim, khususnya di Indonesia. Selalu saja ada kehangatan dan kejutan yang terjadi selama bulan yang disebut penghulu para bulan ini. Tak jarang, kegembiraan menghiasi wajah kaum muslimin dan muslimat ketika memasuki bulan Ramadhan. Bulan gudang pahala ini pun menjadikan masyarakat berbondong-bondong meningkatkan iman dan taqwa.

    Hal ini tampak dengan penuhnya masjid-masjid dan mushalla/langgar di setiap jadwal shalat, tadarusan siang malam berdendang tanpa henti, bahkan persaudaraan umat Islam tampak erat dengan shalat berjama’ah dan saling bersilaturahim. Tidak hanya itu, umat Islam dalam menyambut dan melaksanakan bulan Ramadahan tidak henti-hentinya mensyiarkan dakwah islamiyah baik secara lisan maupun tulisan. Banyak halaqoh-halaqoh (diskusi) kecil serta kajian yang tersebar di media cetak dan elektronik.

    Meskipun demikian, jika kita berkaca dengan ibadah puasa yang dilakukan orang tua kita terdahulu, maka banyak sekali terjadi pergeseran, baik secara kualitas maupun kuantitas. Kualiatas dalam artian banyak diantara kita sekarang yang menjalankan puasa hanya sekedar formalitas. Dengan kata lain, puasa merupakan ritual tahunan yang selalu dilaksanakan tanpa didasari rasa bahwa puasa adalah suatu Ibadan yang sarat makna dan hikmah terkandung dalam pelaksanaannya. Pun secara kuantitas, nilai-nilai ibadah puasa yang kita laksanakan harus diiringi dengan ibadah-ibadah lain sebagai penunjang keafdholan puasa.

    Puasa bukan saja menahan lapar dan haus, kegiatan saur, buka, tarawih, dan kembali saur lagi. Tapi, sesungguhnya lebih dari itu. Betapa keistimewaan Ramadhan Allah berikan, sepuluh malam pertama sebagai rahmat, lalu maghfiroh (pengampunan) pada sepuluh malam kedua dan itqu minannar atau pembebasan dari api neraka di akhir Ramadhan.

    Ironisnya, dewasa ini, pergeseran Ramadhan bukan lagi kenikmatan klimaks beribada dan penghanyatan terhadap puasa untuk meraih derajat takwa. Akan tetapi, Fenomena yang terjadi, Ramadhan dianggap sebagai bulan bisnis yang didalamnya banyak terkandung komerialisasi atas nama Ramadhan.

    Mari kita amati, puasa beberapa tahun terakhir ini, terjadi fenomena yang mengeluskan dada. Jika diawal-awal bulan Ramadhan, Masjid penuh dengan jama’ah yang salat isya, tarawih dan witir, hingga tak tertampung sampai ke luar halaman Masjid. Tapi, memasuki pertengahan dan akhir, lenggang. Kemana jama’ah tersebut? Hanya menyisakan beberapa shaf dan segeletir jamaah, bahkan tak ada pemuda sama sekali.

    Dulu, orang-orang sibuk beri’tikaf dan meramaikankan masjid diawal terlebih diakhir-akhir Ramadhan untuk mendapatkan rahmah, maghfiroh dan itqu min al-nar serta lailatul qadr. Tapi, sekarang orang-orang terlebih kaum muda lebih senang meramaikan mall-mall dan berbelanja di pasar, mengejar diskon belanja yang diobral setinggi-tingginya, dari pada memilih beri’tikaf di Masjid.

    Fenomena ini juga dimanfaatkan oleh para artis dengan berubah penampilan secara spontan dan banyak juga grup band yang berubah aliran, semua dengan alasan untuk mengejar pasaran Ramadhan. Ini menunjukkan bahwa betapa pergeseran nyata terjadi, bahwa bulan ramadhan tak lagi sesakral yang digaungkan para ulama di mimbar Masjid, tapi telah menjadi bulan komersial bagi sekompok muslim untuk sebuah keuntungan.

    Mari kita bercermin sejauh mana ibadah yang kita lakukan selama ini. Puasa bukan hanya sekedar ritual tahunan dengan segala simbol-simbol atas nama keaagamaan. Bukan juga sekedar menahan lapar dan haus, terlebih menganggap Ramadhan sebagai sarana untuk bisnis. Lebih dari itu, puasa mencoba mengajak kita mensrtukturisasi kesadaran keagamaan dari yang sifatnya personal ke kesadaran yang sifatnya sosial dengan harapan mendapatkan derajat muttaqin. Semoga kita mampu memanfaatkan bulan gudang pahala ini, sebagai momen meraih diskon pahala, bukan malah meraih diskon bisnis yang hanya orientasi dunia. Masih banyak waktu, mumpung di pertanghan Ramadhan. (Wallahu a’lam)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com