• Kohar Produsen Cincau Hitam Palembang

    0
    cincau hitam

    Kohar Prodesen Cincau Hitam Palembang

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Effendi Kohar (60 thn) salah satu pengusaha di Kota Palembang yang hampir  tiga puluh tahun lebih bergelut dengan memproduksi cincau hitam.

    Sejak awal tahun 1980-an Kohar memang sudah memulai usaha ini setelah berhenti dari sebuah pabrik pembuat cincau di Pasar  26 Ilir Palembang milik seorang pengusaha asal Jawa Barat. Saya berhenti bekerja karena pabrik terbakar dan pemilik tak sanggup mengupah kami lagi,” ujar dia.

    Berkat dorongan mantan bosnya, ia pun memberanikan diri untuk memulai usaha pembuatan cincau hitam. tepat sekitar awal tahun 1981 memulai dengan kecil-kecilan di rumahnya Jalan fagih Usman Lorong Lebak Seberang Ulu I. Cincau produksinya pun diberi merk 1 yang berarti Cincau seberang Ulu I.

    Semua ilmu yang dia dapatkan dari tempat kerja terdahulu ia praktikkan di pabrik miliknya sendiri. Sementara bahan rumput cincau diperoleh melalui kenalan di Ponorogo. “Tanaman ini berada di daerah pegunungan Ponorogo sehingga kami pasok dari sana,” ungkapnya.

    Ia kini memproduksi kurang  lebih 150 loyang dan ratusan kaleng cincau per hari. Di bulan Ramadhan ini produksi meningkat hingga 150 loyang perhari. Oleh karena itu tiap memasuki bulan suci ia selalu menerima pekerja tambahan dari Tugumulyo untuk membantu produksi.

    Harga cincau cukup terjangkau yaitu per loyangnya Rp10.000, sedangkan untuk kaleng Rp 50.000. Pelanggan cincau hitam effendi Kohar kini sangat banyak terutama para pedagang dari Pasar Induk Jakabaring, Pasar Kuto, Pasar Lemabang, Pasar Plaju, Kertapati, hingga luar kota seperti Curup, Kabupaten Rejang Lebong (Bengkulu) dan Tanjung Enim.

    Selama beberapa tahun terakhir usahanya  pun sempat diterpa isu miring tentang penggunaan formalin. “Saya jamin tidak ada sedikit pun bahan formalin masuk ke cincau produksi saya,”

    Dia pun tak segan-segan menjelaskan proses pembuatan cincau hitam. Pertama yang dilakukan adalah memilah rumput dan mencucinya karena proses pertama itu cukup mendasar.

    Setelah dicuci rumput pun direbus pada panci tong yang dipanaskan dengan kayu bakar dan sudah diisi air. Setelah matang  rumput diperas dan saripatinya disaring dengan saringan berbentuk kain.  Setelah itu saripati rumput cincau dimasak lagi hingga mendidih. Kemudian  air pati tadi ditambahkan air sagu untuk membantu mengentalkan saripati.

    Dengan usaha cincaunya itu  Kohar telah berhasil menyekolahkan kelima anaknya bahkan bisa naik haji dengan biaya sendiri. Ke depan besar harapannya salah satu anakanya bisa mewarisi usaha yang puluhan tahun sudah dijalaninya itu, jelasnya.(mdn)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com