• Karyawan Rumah Sakit Islam Purwokerto Mogok Kerja

    0

         Purwokerto, jurnalsumatra.com – Ratusan karyawan Rumah Sakit Islam Purwokerto (RSIP), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menggelar aksi mogok kerja sebagai bentuk protes terhadap penggantian delapan pejabat RSIP karena tidak sesuai dengan prosedur.
    “Rencananya, kami akan mogok kerja hingga satu minggu ke depan. Aksi mogok kerja ini dilatarbelakangi oleh penggantian delapan pejabat RSIP dengan cara yang tidak sesuai pola ketenagakerjaan,” kata Ketua Serikat Pekerja RSIP Agus Riyanto di Purwokerto, Kamis.
    Kendati demikian, dia mengatakan alasan yang paling mendasari aksi mogok kerja yang dilakukan 250 karyawan RSI adalah pengambilalihan RSIP oleh golongan atau kelompok tertentu.
    “RSIP bukan milik Muhammadiyah. Pengakuan dari pimpinan Muhammadiyah dan UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto) menyatakan bahwa RSIP adalah amal usaha mereka,” tegasnya.
    Menurut dia, negosiasi yang selama ini dilakukan oleh karyawan RSIP tidak ada kejelasan.
    Padahal, kata dia, pihaknya harus memikirkan nasib RSIP itu sendiri karena berdasarkan Surat Rekomendasi Nomor 445.04.XII.51.86 yang ditandatangani Bupati Banyumas almarhum Roedjito pada tanggal 31 Desember 1986.
    Dalam surat rekomendasi itu disebutkan “Rumah Sakit Islam Purwokerto adalah milik Yayasan Rumah Sakit Islam Purwokerto yang didirikan secara swasembada murni yang dibiayai oleh kaum muslimin Indonesia khususnya kaum muslimin Banyumas”.
    Lebih lanjut, dia mengatakan selama aksi tersebut berlangsung, sebagian besar layanan rumah sakit dihentikan.

         “Hanya cuci darah dan instalasi gawat darurat yang tetap memberikan layanan, lainnya tutup termasuk rawat inap. Hari ini tidak ada pasien rawat inap, biasanya penuh, berkisar 80-100 orang,” katanya.
    Ia mengharapkan polemik yang terjadi di RSIP dapat segera ditangani oleh pihak-pihak yang berkepentingan, yakni Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi), UMP, dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Banyumas.
    “Kalau bisa jangan berlarut-larut, kasihan kami, karyawan yang menanggung anak dan istri karena selama ini, pembina (yayasan) dan jajarannya selalu tutup mata terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan pola ketenagakerjaan,” katanya.
    Selain itu, dia mengharapkan RSIP kembali memberikan layanan yang independen seperti semula, bukan atas kepemilikan golongan tertentu.
    Salah seorang karyawan RSIP, Yasminah mengatakan penggantian jabatan itu dilakukan secara mendadak dan tanpa pemberitahuan lebih dulu.
    “Kebetulan saya Kepala Bagian Keuangan yang turut digantikan. Pada tanggal 1 Juni, saya diberitahu kalau mau ada pelantikan dan ternyata yang dilantik itu pejabat baru. Surat pemberhentian saya terima hari Minggu,” katanya.
    Menurut dia, pejabat-pejabat baru itu tidak melalui proses perekrutan, tes, dan sebagainya serta bukan berasal dari RSI melainkan dari luar rumah sakit.
    Ia mengaku sudak mencoba klarifikasi kepada pengurus Yarsi terkait pemberhentian jabatan tersebut namun tidak ada yang bisa memberikan penjelasan yang memuaskan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com