• Edhy Prabowo : Mentan Kerja Sendiri

    0

    edhy-prabowoPalembang, jurnalsumatra.com – Masih tingginya harga daging dan sejumlah kebutuhan lainnya disebabkan tata kelola yang salah. Ini diperparah menteri pertanian (Mentan) yang kerja sendirian tidak didukung kementrian lainnya.

    Penilaian ini disampaikan Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo kepada Jurnalsumatra.com Sabtu (25/6). Edhy mengatakan jauh sebelum puasa, sekitar empat bulan lalu pihaknya sudah melakukan rapat dengan Menteri Pertanian guna membahas tingginya harga sejumlah kebutuhan pokok, termasuk daging.

    Dalam kesempatan tersebut kata Edhy mentan pun telah mendata semua kebutuhan selama masa Ramadan hingga puasa. Tercatat Indonesia membutuhkan 600.000 ekor sapi, sedangkan stok nasional hanya ada 400.000 ekor saja.

    Nah, mestinya data ini langsung direspons oleh kementrian lainnya. “Kan yang punya wewenang menentukan kuota Mentri perdagangan, tetapi ini tidak segera dilakukan. Malahan kuota dikeluarkan lamban. Kalau saja dikeluarkan dari awal dan impor dilakukan dengan baik tidak ada kejadian seperti sekarang. Toh kebutuhan sudah ada,” ujar Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini.

    Ini baru satu produk kata Edhy. Produk lainnya misalnya bawang, cabai merah atau pun gula. Kejadiannya, dari beberapa peninjauan lapangan yang ia lakukan kata Edhy, tidak di semua daerah mengalami harga yang melonjak. Ada daerah tertentu melonjak, tetapi tempat lain malah rendah.

    Tahun lalu kata Edhy saat harga cabai merah mahal, pemerintah bermaksud melakukan impor. Disaat itu gubernur Jawa Barat berteriak karena produksi mereka berlebihan. Akobatnya impor pun dibatalkan

    “Ini yang saya maksud tata kelola amburadul. Tugas menteri pertanian sudah benar, seharusnya setelah produksi ya selesai. Tugas lainnya diambil kementrian dibidang ekonomi lainnya. Saya sangat yakin kalau menteri pertanian tidak kerja seperti sekarang, harga daging bisa tembus Rp 160.000. Saya apresiasi yang sudah dikerjakan menteri pertanian,” katanya.

    Ia berharap dengan tata kelola yang bagus semua lini diuntungkan. Dari petani yang memproduksi, mereka yang menjadi penyalur atau penampung serta pedagang. Yang terjadi sekarang disaat harga tinggi petani tidak menikmatinya. Kalau ini bisa diperbaiki, semua lini boleh Untung tetapi jangan berlebihan dan semua menikmatinya.

    Kementrian terkait  berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada upaya yang serius dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Apalagi sebenarnya persoalan ini berlangsung setiap tahun. Pada periode atau waktu yang memang sudah rutin terjadi. Seharusnya pula antisipasi bisa dilakukan. Kalau ingin impor, sudah terencana dengan baik. Bukan dadakan seolah-olah tidak siap dengan situasi yang ada.

    Ketidakserisuan lainnya kata Edhy dengan belum terbentuknya badan pangan nasional. Badan ini merupakan amanat undang-undang mengenai pangan yamh dibentuk 2012 lalu. Dalam undang-undang disebutkan tiga tahun setelah diundangkan badan tersebut sudah terbentuk, kenyataannya sampai sekarang di tahun keempat belum juga.

    Hambatannya alasan pemerintah masih terkendala di kementrian aparatur negara. Padahal dengan adanya badan ini persoalan di atas akan ditangani secara khusus oleh badan khusus.

    Terkait program jangka panjang, Edhy mengatakan sebenarnya pada APBN induk 2016 sudah disusun program yang baik. Saat itu Indonesia diprogramkan mengimpor sapi indukan bunting. Nah, sapi terebut dibagikan kepada kelompok tani dan disebar ke seluruh Indonesia di Indonesia.

    Semula katanya diprogramkan diimpor 50.000 ekor sapi bunting. “Minimal 40.000 ekor, tetapi ini berjalan diangka itu akibat pemabgkasan APBN. Nanti setiap tahun kita impor sapi bunting sampai stok terpenuhi,” katanya.

    “Akan tetapi karena ada pemangkasan APBN sampai 20 persen, program ini tidak bisa berjalan penuh. Kami berharap ini tetap jalan dan tolong cek program yang kurang penting, itu saja dikorbankan,” katanya.(eka)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com