• Disbud Undang Penyuluh Bahasa Bali Teken Kontrak

    0

          Denpasar, jurnalsumatra.com – Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengundang para penyuluh bahasa Bali yang akan bertugas pada 716 desa di Pulau Dewata untuk meneken kontrak kerja pada 28 Juni 2016.
    “Selain menandatangani surat kontrak kerja, para penyuluh juga akan dibagikan surat tugas penempatan kerja dari Pemerintah Provinsi Bali. Surat tugas inilah yang nanti dibawa ke desa dan kelurahan tempat mereka bertugas mulai 1 Juli 2016,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha di Denpasar, Kamis.
    Bagi para penyuluh bahasa Bali yang belum melengkapi berkas administrasi pada saat pengarahan umum beberapa waktu lalu, diharapkan agar membawanya pada saat penandatanganan kontrak kerja.
    “Penyuluh dari sembilan kabupaten/kota kami bagi menjadi dua hari untuk meneken kontrak, yakni pada tanggal 28 dan 30 Juni, bertempat di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Pembagiannya berdasarkan kabupaten/kota, dan untuk lebih jelasnya bisa diakses melalui website www.disbud.baliprov.go.id,” ujarnya.
    Menurut Dewa Beratha, saat teken kontrak itu akan dibagikan pula buku pedoman penyuluh bahasa Bali yang berisi mengenai tugas-tugas dan berbagai hal yang harus dikerjakan saat sudah ada di desa, termasuk contoh format pelaporan dan absensi.

          “Pembekalan rencanaanya akan dilakukan setelah para penyuluh bertugas sehingga mereka bisa sekaligus memberikan gambaran mengenai potensi dan kendala yang dihadapi ketika bertugas di desa,” ucapnya.
    Terkait dengan kelengkapan administrasi lainnya, seperti surat keputusan penetapan dan penempatan dari Gubernur Bali, saat ini masih sedang diproses di Biro Hukum Provinsi Bali dan ditargetkan selesai sebelum akhir Juni ini.
    “Pemprov Bali juga membuat nota kesepahaman (MoU) dengan bupati/wali kota yang salah satu isinya agar pemerintah kabupaten/kota khususnya melalui Dinas Kebudayaan setempat juga ikut membina dan memonitoring para penyuluh bahasa Bali. Di samping dari pemprov sendiri, juga menyiapkan tim monitoring,” ucapnya.
    Dewa Beratha menambahkan, para penyuluh selain melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian aksara, bahasa, dan sastra Bali juga diharapkan bisa membantu desa dalam membuat “perarem” atau aturan adat yang menyangkut konteks kekinian.
    “Misalnya, perarem mengenai bahaya narkoba, penduduk pendatan, pemelihaaraan anjing untuk mencegah rabies dan sebagainya, termasuk program Bali Bersih dan Hijau (Bali Clean and Green) tentu akan bagus sekali,” katanya.
    Di sisi lain, pihaknya juga berencana untuk menunjuk koordinator penyuluh untuk tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan agar memudahkan komunikasi dan koordinasi.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com