• BPBD Bentuk Desa Tangguh Bencana Secara Bertahap

    0

    Bantul, jurnalsumatra.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membentuk Desa Tangguh Bencana secara bertahap di desa-desa setempat yang terdampak gempa bumi Yogyakarta-Jawa Tengah pada 2006.
    “Sampai saat ini desa-desa yang terdampak gempa 2006 belum semua dibentuk desa tangguh bencana, karena dari sisi anggaran dan waktu terbatas, sehingga kita bentuk pelan-pelan secara bertahap tetapi pasti,” kata Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Selasa.
    Dia mengatakan setidaknya ada belasan desa dari total 75 desa di Bantul yang terdampak gempa bumi tektonik 5,9 SR pada 10 tahun silam, namun hingga saat ini sudah ada sekitar 10 desa tangguh bencana, yang mana desa-desa itu menjadi prioritas dibentuk desa tangguh bencana.
    Desa tangguh bencana dibentuk untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakatnya dalam menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi, misalnya gempa bumi, sehingga tahu apa yang harus dilakukan dalam rangka pengurangan risiko bencana.
    Selain pertimbangan anggaran dan waktu, kata dia, pembentukan desa tangguh bencana yang bertahap juga berdasarkan hasil kajian lembaganya, apakah masuk dalam prioritas dengan melihat potensi bencana yang mungkin terjadi.
    “Minimal masyarakat bisa tahu apa yang dilakukan ketika terjadi gempa. Saat ini seluruh enam desa yang ada di pesisir selatan sudah menjadi desa tangguh bencana. Desa-desa ini diprioritaskan karena berpotensi terkena tsunami jika ada gempa besar,” katanya.
    Ia mengatakan desa-desa penyangga masih belum semua, bahkan di wilayah Kecamatan Pundong yang merupakan pusat gempa 2006, yaitu Desa Srihardono belum terbentuk desa tangguh bencana sehingga akan jadi prioritas pada 2017.
    “Untuk Srihardono malah belum, karena diprediksi pergerakan gempa itu ke arah wilayah pantai, sementara di Srihardono kemungkinan ada gempa butuh waktu lama. Namun di 2017 Desa Srihardono jadi prioritas kami,” katanya.
    Dia mengatakan pembentukan desa tangguh bencana di Bantul sudah dilakukan bertahap sejak 2008, setelah masyarakat Bantul bangkit dari keterpurukan karena menjadi satu-satunya kabupaten yang terdampak paling parah bencana alam tersebut.
    “Sebenarnya gempa itu tidak membunuh, tetapi yang membunuh itu adalah ruang atau banguan untuk aktivitas kita, karena kalau gempa terjadi saat kita berada di lapangan tidak apa-apa. Ini yang harus diperhatikan masyarakat,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com