• Warisan Budaya Yang Terlupakan

    0
    LINA SANTIANA,S.Ud

    Lina Santiana,S.UD tenaga pengajar (guru), aktif pada organisasi himpunan mahasiswa islam (hmi) cab. palembang. alumni : uin raden fatah palembang.

    Tradisi merupakan suatu aturan atau tata kelakuan yang dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola prilaku masyarakat. Karena tradisi ini adalah suatu tata kelakuan yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat, maka banyak sekali sering ditemukan hal-hal unik dalam suatu kelompok masyarakat tersebut. Mulai dari tradisi upacara kematian, tradisi upacara pernikahan dan tradisi keagamaan, atau banyak hal lainnya yang tentu dapat ditemukan di beberapa daerah apalagi di desa-desa. Akan tetapi, tradisi-tradisi yang merupakan sebuah aset suatu daerah yang harusnya terus dilestarikan, tak jarang kadang mulai ditinggalkan secara berangsur-angsur.

    Sebagai contoh misalnya, disebuah desa Pandan Agung Kecamatan Madang Suku II Kabupaten Oku Timur. Di desa ini ada banyak tradisi yang saat ini sudah mulai ditinggalkan, seperti tradisi hiring-hiring, robana; yang biasanya dilakukan oleh para ibu-ibu pengajian pada saat ada kegiatan-kegiatan keagamaan, dan torbangan yang biasanya dilakukan oleh bapak-bapak pada saat acara sunatan atau nikahan. Torbangan ini salah satu tradisi yang sudah lama menghilang berbarengan dengan hilangnya tradisi hiring-hiring. Torbangan ini didalamnya berisi lantunan shalawat atau lagu-lagu Islami dengan menggunakan alat music seperti robanaan.

    Nah, yang tak kalah lebih penting lagi adalah tradisi ningkuk. Tradisi ningkuk ini adalah sebuah tradisi yang dilakukan pada saat acara pernikahan. Biasanya ningkuk ini akan diadakan pada malam hari, sebelum acara pernikahan di esok harinya. Tradisi ningkuk ini sebuah acara yang dikhususkan hanya untuk para muda-mudi saja. Untuk keberlangsungan ningkuk ini, akan di tunjukkan seseorang dari keluarga baik laki-laki maupun perempuan yang sedang melakukan acara pernikahan untuk mengatur dan bertanggung jawab atas kelangsungan acara tersebut. Mereka yang ditugaskan mengatur acara ningkuk ini, akan menyiapkan segala halnya mulai dari agenda kegiatannya sampai dengan proses mengundang muda-mudi yang ada di desa tersebut.

    Beberap Petugas yang bertanggung jawab dari kelancaran kegiatan ini akan membagi-bagi tugas mereka, ada yang menyiapkan perlengkapan kegiatan seperti Microphone (pengeras suara), music-musik, selendang, kemudian ada gulungan kertas yang dipotong keci-kecil kemudian dimasukkan ke dalam pipet yang memiliki ukuran yang sama dengan kertas tersebut. Potongan kertas itu di dalamnya berisi tulisan berupan hukuman-hukuman bagi peserta ningkuk yang terkena jebakan dari panitia ningkuk tersebut. Ada lagi yang paling penting adalah cangkir berisi beras yang di balut dengan selendang atau bisa juga dengan piring yang dibalut dengan selendang sebanyak dua buah. Satu untuk bagian kelompok perempuan dan satu lagi untuk bagian kelompok laki-laki.

    Ketika sebagian panitia disibukkan dengan perlengkapan-perlengkapan termasuk juga mempersiapkan konsumsinya, ketika sore hari petugas lain akan keliling kampung mengunjungi rumah-rumah warga yang memiliki anak gadis atau anak bujang yang belum menikah untuk ikut pada kegiatan tersebut. Jika dalam suatu keluarga itu ada anak gadis atau bujang, petugas ini akan meminta izin kepada keluarganya agar diizinkan anaknya untuk mengikuti acara tersebut. Setelah meminta izin kemudian sang anak mendapat izin dari kedua orang tuanya, maka si anak boleh langsung ikut bersama si petugas yang mengundang untuk ikut membantu mengundang teman-teman yang lain. Akan tetapi biasanya hanya sebagian anak saja yang seperti itu, karna kebanyakan mereka lebih memilih untuk pergi sendiri berbarengan dengan teman-temannya secara berombongan pada saat malam hari ketika acara akan segera dimulai.

    Menjelang acara akan dimulai, biasanya para muda-mudi akan berbendong-bondong berdatangan ke acara itu selepas Maghrib untuk membantu persiapan ningkuk yang mungkin belum disiapkan oleh panitia. Namun tak jarang biasanya akan banyak muda-mudi yang datang selepas Isya’ ketika acara benar-benar akan dimulai. Ketika semua tamu undangan acara itu telah berkumpul dalam suatu ruangan yang telah disiapkan panitia, acara akan dimulai dengan dipandu oleh salah seorang panitia ningkuk yang telah dipilih. Adapun aturan main acara ningkuk ini yaitu: nantinya antara perempuan dan laki-laki akan duduk terpisah dengan posisi duduk antara laki-laki dan perempuan saling berhadapan. Ketika terdengar music dihidupkan, maka beras dalam gelas berbalut selendang atau piring berbalut selendang yang berada pada kelompok perempuan harus di lemparkan atau di berikan kepada salah satu laki-laki yang ia kehendaki. Bagi yang diberikan selendang harus menerimannya dan kembali memberikannya kepada orang lain. Bergitu juga dengan selendang yang ada pada kelompok laki-laki harus diberikan kepada salah satu perempuan yang ia kehendaki. Dan bagi yang menerima harus memberikannya pada yang lain pula. Bergitu seterusnya sampai music benar-benar berhenti. Ketika suara music masih terdengar, maka selendang itu harus tetap dijalankan. Nah, ketika music berhenti maka selendang juga tidak boleh lagi di jalankan, harus tetap pada orang yang terakhir mendapatkannya. Alhasil ketika selendang itu berada di salah satu mereka, bukan kebahagiaan yang di dapat tapi rasa malu yang terlihat. Alasannya adalah selendang yang berhenti di tangan salah seorang laki-laki atau perempuan yang memegang dan memberikan selendang itu, akan mendapatkan sebuah hukuman. Dan disinilah letak keseruannya.

    Bagi yang terkena jebakan selendang tersebut dipersilahkan maju kedepan berpasangan dengan seorang laki-laki atau perempuan yang memberikan selendang tersebut. Mereka akan di berikan potongan kertas berupa hukuman-hukuman yang dimasukkan ke dalam gelas kemudian di kocok seperti arisan ala ibu-ibu. Atau bisa juga potongan kertas dalam pipet itu dimasukkan di dalam balon kemudian pilih salah satu dari beberapa balon yang digantung lalu di pecahkan dengan jarum. Nantinya, setelah dapat kertas berisi hukuman-hukuman itu, si terhukum harus melakukan seperti yang ada di dalam kertas itu. Tak jarang yang terhukum kadang malu-malu bahkan mati kutu di depan para muda-mudi di acara ningkuk tersebut.

    Ada berbagai macam hukuman-hukuman yang sering di berikan kepada yang terhukum diantaranya adalah berbalas pantun, bernyanyi, berjoged, atau bahkan si laki-laki atau perempuan disuruh untuk saling merayu dan banyak lainnya termasuk menirukan gaya atau menirukan suara hewan. Tak jarang pula kadang si terhukum di paksa untuk menyatakan cinta kepada salah satu perempuan atau laki-laki yang ia sukai di acara tersebut. Hal yang sering mengejutkan adalah kadang secara tiba-tiba seseorang mendapatkan sebuah surat dari seseorang yang tidak tahu siapa, dan yang mendapatkan surat itu wajib untuk menjawabnya kala itu juga, di acara itu juga.  Jangan pula heran jika sehabis dari acara tersebut ada yang sampai mendapatkan pasangan hidupnya.

    Bergitulah uniknya sebuah tradisi yang dimiliki desa ini. Yang kian hari semakin pudar karena termakan waktu. Tak dapat di hindari, karena inilah faktanya. Dan semoga, muda-mudi yang masih berada di daerah tersebut, tetap bisa mempertahankan tradisi-tradisi yang ada di sana sebagai warisan dan kekayaan budaya.

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com