• Toilet Di Mal Panakukang Terus Menuai Protes

    0

        Makassar, jurnalsumatra.com – Pemberlakukan tarif toilet di Mal Panakukang, Kecamatan Panakukang terus menuai protes karena sudah memberatkan pengunjung dan pendapatan hasil toilet dianggap tidak transparan.
    “Jelas ini merugikan orang-orang karena dianggap memberatkan. Seharusnya toilet ini bagian dari sarana umum, lalu mengapa di komersilkan. Lagipula ini menjadi pertanyaan dikemanakan pendapatan itu apakah masuk ke kas daerah atau tidak,” ujar Laskar Merah Putih Sulsel Djaya Djumain di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu.
    Menurut Djaya, seharusnya manajemen Mal Panakukang menjadikan toilet sebagai fasilitas umum bagian dari kebutuhan sosial sama dengan mal lainnya di Makassar, namun faktanya berbeda di situ.

        “Kami juga pertanyakan apakah pendapatan toilet di Mal Panakukang itu masuk ke kas negara, atau jangan-jangan tidak, dan hanya menguntungkan mal tersebut. Ini harus menjadi perhatian pemerintah dan DPRD Makassar karena sudah memberatkan orang,” tegasnya.
    Pihak manajemen mal pun berkilah bahwa tarif yang dikenakan bagi pengunjung satu kali masuk toilet Rp2.000 itu untuk pembayaran gaji penjaga toilet serta perawatan, namun lagi-lagi Djaya memperanyakan apakah gaji mereka sudah sesuai UMK.
    “Kami akan mengawal persoalan ini hingga ke DPRD Makassar. Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang didapatkan mal itu kalau setiap hari ratusan orang masuk tiap harinya apalagi pada masa liburan panjang saat ini,” bebernya.

        Sebelumnya pihak manajemen memberlakukan tarif Rp1.000 satu kali masuk toilet bagi pengujung yang ingin membuang hajat, kemudian belakangan dinaikkan menjadi Rp2
    .000 dengan dalih perawatan serta membayar gaji pegawai.
    Kendati hal ini terus menuai protes, namun pihak DPRD Makassar terkesan tutup mata dan melalukan pembiaran. Meski sebelumnya anggota dewan telah melakukan kunjungan ke mal tersebut, namun tidak memberikan sanksi maupun solusi, diduga ada permainan dibalik persoalan itu.
    Sejumlah pengujung juga meresahkan pemberlakukan tarif itu karena terlalu mahal. Meski hanya Rp2.000 per sekali masuk tapi bila ratusan orang maka keuntungan akan semakin berlipat ganda.

        “Saya tidak tahu kenapa mal panakukang memberatkan pengunjungnya membayar toilet seharga Rp2.000, sedangkan mal lain di Makassar toiletnya digratiskan, banyak untungnya ini mal. Saya pun malas kesini kalau tidak terpaksa,” tutur Sulaiman salah satu pengunjung.
    Sedangkan Tabariah warga Sungguminasa, Gowa juga mengeluhkan hal yang sama. Dirinya sempat mengeluarkan uang Rp10.000 hanya untuk membayar toilet.
    “Kebetulan saya punya ganguan pencernaan terpaksa harus bolak balik ke toilet. Parah memang mal ini menyusahkan pengunjungnya. Satu lagi ruang menyusui dan penyandang cacat tidak ada disini disediakan,” bebernya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com