• Pengacara Kecewa Jaksa Tidak Hadirkan Saksi

    0

        Jakarta, jurnalsumatra.com – Tim kuasa hukum dua pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Tigor Gemdita Hutapea dan Obed Sakti Andre Dominika kecewa karena jaksa tidak bisa menghadirkan 10  saksi dalam sidang.
    “Kami kuasa hukum sangat kecewa karena jaksa gagal menghadirkan saksi di persidangan, padahal para saksi semuanya berasal dari kepolisian. Seharusnya lebih patuh kepada hukum karena mereka merupakan penegak hukum,” kata anggota tim kuasa hukum Maruli Tua Rajagukguk di pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin.
    Hari Senin rencananya jaksa penuntut umum menghadirkan 10 orang saksi yang seluruhnya berasal dari pihak kepolisian.

        Padahal sidang sudah dipenuhi oleh massa dari Gerakan Buruh Indonesia (GBI) dan juga Wakil Indonesia untuk ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) Dinna Wisnu.
    “AICHR punya dua tanggung jawab yaitu untuk menegakkan nilai HAM di kawasan dan meminta informasi dari pihak berwenang misalnya mengenai kriminalisasi bagi aktivis HAM seperti saat ini,” kata Dinna Wisnu.
    Menurut Dinna, AICHR sudah mengirim surat resmi yang meminta kejelasan kasus tersebut kepada pihak kepolisian maupun kejaksaan namun tidak mendapat jawaban.
    “Setidaknya saya hadir di sini untuk memberikan dukungan dan bila nanti sidang AICHR kami dapat memberikan jawaban mengenai kondisi kasus ini,” tambah Dinna.
    Tidak bubarkan diri

        Tigor dan Obed bersama seorang mahasiswa FISIP Universitas Mulawarman, Hasyim Ilyas Riciyat Nor didakwa oleh jaksa penuntut umum Sugih Carvallo dengan Pasal 216 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 218 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
    Ketiganya dianggap tidak menaati perintah petugas untuk membubarkan diri dalam aksi demo belasan ribu buruh yang menolak PP No.78 Tahun 2015 tentang Pengupahan pada 30 Oktober 2015.
    Aksi damai dilakukan oleh Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), Federasi Serikat Pekerja Aneka Sektor Indonesia (FSPASI), Dewan SBSI, dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).
    Dalam surat yang ditujukan kepada Kapolda Metro Jaya tersebut,  diberitahukan demo akan dimulai pukul 08.00 WIB sampai selesai.

        Namun pada pukul 18.00 WIB, massa buruh, diantaranya Tigor, Obed, Hasyim, dan 23 terdakwa lainnya (penuntutan terpisah) masih berunjuk rasa di depan Istana Merdeka padahal menurut jaksa sesuai Pasal 7 ayat (1) a Peraturan Kapolri No.7 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Pelayanan Pengamanan dan Penanganan Perkara Penyampaian Pendapat di Muka Umum, penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan antara pukul 06.00 WIB s/d 18.00 WIB.
    Polisi mengimbau massa agar membubarkan diri tapi karena imbauan tidak dihiraukan pihak keamanan menyemprotkan air ke massa dari watercanon guna membubarkan kerumunan massa.
    Namun, tindakan itu belum cukup efektif, lalu pihak keamanan menembakkan gas air mata, sehingga kerumunan massa bubar.
    Pihak keamanan kemudian melakukan penangkapan terhadap Tigor, Obed, Hasyim, dan para terdakwa lainnya, serta menyita sejumlah alat untuk melakukan aksi seperti pengeras suara dan mobil.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com