• Pelajar SLTA Harus Hindari Bahaya Rokok

    0

         Medan, jurnalsumatra.com -  Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebagai calon-calon pemimpin nasional ke depan harus menghindari bahaya rokok, karena dapat mengganggu kesehatan dan pola berpikir saat di bangku sekolah.
    “Bahaya rokok tersebut, juga bisa menimbulkan penyakit jantung, paru-paru,  stroke, dan berbagai penyakit lainnya,” ujar Pengamat Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Dr Badaruddin,MA, di Medan, Jumat.
    Memang saat ini, menurut dia, penyakit yang ditimbulkan akibat bahaya pengaruh rokok itu, belum kelihatan terasa bagi generasi muda pelajar SLTP dan SLTA, karena masih berusia 14 hingga 17 tahun.
    “Namun, bahaya rokok tersebut, baru dapat dirasakan nantinya setelah mereka berusia 50-60 tahun dan lanjut usia (Lansia),” ujar Badaruddin.

          Ia menjelaskan, penderitaan bagi para perokok berat itu, akan mempengaruhi daya tahan tubuh, karena stamina yang terus semakin menurun.
    Selain itu, perokok tersebut mudah terserang berbagai penyakit, dan hal ini merugikan kesehatan yang seharusnya tetap dijaga dengan baik.
    “Kalau sudah menderita sakit, dan tidak sedikit pula biaya yang akan dikeluarkan untuk mengobatinya.Inilah pengaruh dari bahayanya merokok sejak usia muda,” ucapnya.
    Badaruddin berharap kepada generasi muda tidak usah merokok, sebab kalau sudah kecanduan akan susah dihentiukan. Dan merokok itu, juga tidak ada manfaatnya, malahan mengeluarkan biaya yang cukup besar bagi warga tersebut.
    Oleh karena itu, katanya, generasi muda yang tidak merokok menjadi awet muda, kualitas intelektual semakin tinggi dan memiliki pola pikir yang sangat cerdas.

          “Generasi muda yang tidak merokok dapat terhindar dari segala penyakit, dan kesehatan tetap dalam keadaan prima,” kata mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) USU.
    Sebelumnya, Generasi muda Indonesia khususnya yang memiliki usia produktif terancam bahaya rokok karena puncak usia perokok dini dimulai pada umur 15-19 tahun, kata pengamat ekonomi Emil Salim.
    Padahal, generasi tersebut nantinya akan menjadi penopang ekonomi dan sumber daya manusia Indonesia pada tahun 2045 mendatang, katanya.
    “Generasi produktif harus ditingkatkan kualitas intelektualitas dan kesehatan jasmani rohani untuk membawa Indonesia lepas landas pada 2045,” kata Emil dalam diskusi “Ekonomi Indonesia dalam Bahaya Rokok” di Jakarta, Kamis.
    Menurut Emil, Indonesia akan memiliki bonus demografi pada 2045 dimana jumlah usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan jumlah usia nonproduktif yang harus ditanggung.
    Namun, apabila bonus tersebut diselimuti oleh bahaya rokok, maka ekonomi Indonesia juga akan terancam.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com