• P2TP2A Riau Imbau Berani Laporkan Kekerasan Anak

    0

    Pekanbaru, jurnalsumatra.com-  Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Riau mengimbau seluruh masyarakat daerah setempat untuk berani melaporkan tindak kekerasan pada pihak yang berwajib dalam menangani masalah tersebut.
    “Jika selama ini mereka mengalami kekerasan dan pelecehan seksual tidak tahu harus melaporkan kemana, sekarang ayo laporkan pada P2TP2A yang ada di daerah di kabupaten/kota masing-masing,” ujar Kepala P2TP2A Riau Risdayati di Pekanbaru, Sabtu.
    Dikatakannya, biasanya masyarakat hanya tahu melaporkan kasus kekerasan dan pelecehan seksual anak sebatas pada pihak yang berwajib seperti polisi saja, padahal permasalahannya tidak cukup sampai disitu, psikis si korban juga harus diobati kembali melalui psikolog.
    “Untuk si anak itu sendiri harus berani melaporkan pelecehan yang ia alami kepada orangtua atau keluarga terdekat lainnya, kemudian baru dari mereka akan diteruskan kepihak yang berwajib. Nah, tugas dari P2TP2A berkewajiban untuk membantu menangani masalah tersebut, karena disini ada beberapa manejer kasus yang akan membantu sesuai hasil asesmen si korban,” ungkapnya.
    Adapun prosedurnya dengan cara pihak si korban atau orang lain melaporkan pada P2TP2A bahwa ada tindak kekerasan atau pelecehan seksual. Nanti pihaknya akan menindaklanjuti dengan cara menyelidiki sejauh mana tindakan tersebut. Kemudian berdasarkan asesmen baru akan ditentukan intervensi melalui manejer kasus.
    “Kita kordinasikan pada psikolog, jika trauma yang dialami korban sedang-berat, kemudian ke badan hukum untuk mengusut masalah tersebut (dalam hal ini untuk tersangka). Kemudian dengan pihak rumah sakit untuk perawatan jika si korban mengalami luka-luka atau kekerasan yang melukai anggota tubuhnya,” jelas Risdayati kepada Antara.
    Akan tetapi ditekankan Risdayati, pelaporan yang disampikan oleh orang lain tentang kekerasan dan pelecehan seksual tersebut harus bersifat pasti bukan hanya kabar-kabarnya saja. Karena katanya, jika hanya hanya sedang kabar-kabarnya, pihaknya tidak akan menanggapi.
    “Kita khawatirnya pelapor yang tidak jelas itu hanya memperlama di kasus tersebut, karena banyak orang yang lebih pasti kasusnya yang harus kami selesaikan,” tuturnya.
    Diinformasikannya, semua kasus yang ditangani oleh P2TP2A bersifat gratis bagi masyarakat yang tidak mampu, mulai dari psikolog untuk mengobati psikisnya, ahli saksi untuk pengadilan, pengacara, dokter, dan sebagainya tanpa dipungut biaya.
    “Semua itu kami gratiskan bagi keluarga yang tidak mampu, bagi yang mampu kadang kami gratiskan juga, cuman kami tanyakan jika ia mampu membayar pengacara silahkan, biar uangnya bisa kami gunakan buat kasus yang lain, karena dana yang kami punya pun terbatas,” ucapnya.
    Disampaikannya lagi, bimbingan dan panduan tidak hanya berlaku buat sikorban saja, tetapi sipelaku pun juga akan dilihat psikologinya, apakah dia melakukannya karena psikisnya kena dan temperamental atau hanya sekedar modus atau kesempatan saja.
    “Jika karena psikis atau kelainan jiwa, maka kita juga tunjuk psikolog untunya,” tutupnya.
    Sebelumnya telah diinformasikan P2TP2A Riau bahwa kasus kekerasan perempuan dan anak sampai pertengah Mei 2016 ini sudah mencapai 63 kasus, dan selesai ditangani delapan kasus, selebihnya masih dalam proses penanganan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com