• P2TP2A: 63 Kasus Kekerasan Perempuan-Anak Di Riau Riau

    0

         Pekanbaru, jurnalsumatra.com – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Riau mencatat sampai pertengahan Mei 2016 ini sudah ada sebanyak 63 kasus kekerasan di daerah berjuluk “Bumi Lancang Kuning” itu.
    “Sampai pertengahan Mei 2016 ini atau catur wulan II sudah tercatat sebanyak 63 kasus kekerasan pada perempuan dan anak, itupun baru yang melapor sama kami,” ujar Kepala P2TP2A Riau, Risdayati, di kantornya Pekanbaru, Jumat.
    Dikatakannya, angka tersebut mengalami kenaikan 20 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya pada bulan yang sama. Dari 63 kasus tersebut di dominasi oleh kejahatan seksual dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
    “Angka 63 itu belum rekap secara keseluruhan se provinsi Riau, tetapi baru yang melapor langsung sama kami. Belum lagi data yang ada pada P2TP2A yang ada di kabupaten/kota masing-masing. Kekerasan pada anak terus saja mengalami peningkatan beberapa bulan ini,” ungkapnya.

        Dari 63 kasus tersebut yang sudah selesai ditangani ada delapan kasus, sedangkan yang lainnya masih dalam proses penanganan oleh badan hukum, psikolog, dan pihak lainnya yang termasuk dalam menejer kasus P2TP2A Riau.
    Diinformasikannya, kekerasan pada perempuan dan anak terus meningkat dua tahun terakhir. Pada 2014 tercatat sebanyak 98 kasus yang masuk, sedangkan 2015 mengalami kenaikan 17 kasus menjadi 115 kekerasan.
    Diantaranya, 41 kasus KDRT, 32 kejahatan seksual, 14 kasus perebutan hak asuh anak, 6 penganiayaan, 7 kasus anak, 5 kasus kekerasan psikis, 3 kenakalan remaja, 3 kasus karena terlibat narkoba, selebihnya karena kekerasan fisik, trafficking, dan ABH.
    “115 kasus yang masuk pada 2015 tersebut, sudah selesai ditangani secara keseluruhannya,” katanya.
    Dikatakannya lagi, pada umumnya perempuan dan anak sering mendapat perlakuan kasar karena adanya relasi posisi “power” atau kekuatan dan juga sebagai tempat pelampiasan yang aman. Artinya, sipelaku akan memilih mangsa yang kira-kira tidak akan bisa memberi perlawanan.

        “Mereka memilih perempuan untuk perlakuan kasar dan anak-anak untuk pelampiasan seksnya karena dianggap tidak akan memberi perlawanan. Kekuatan sikorban sangat jauh dibawah dia, atau bisa jadi tersangka juga pernah menjadi korban kekerasan dan seksual dimasa kecilnya,” ulas Risdayati.
    Menurutnya, berpedoman dari kasus-kasus yang sudah ditangani, adanya temperamental pada pelaku yang pernah menjadi korban pelecehan seksual dan kekerasan di masa lampau, atau karena adanya kesempatan untuk melakukannya.
    Untuk itu, ia menghimbau pada seluruh orangtua dan masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap anak-anaknya. Selain itu juga mengajarkan sikap mampu menolong diri sendiri ketika dalam bahaya.
    “Tanamkan pada anak sikap harus mampu menolong diri sendiri ketika bahaya mendekat, selain itu kita juga minta pada masyarakat disekitarnya untuk peduli ketika ada melihat anak berada pada situasi butuh pertolongan, jangan karena dia bukan keluarga kita lalu diabaikan begitu saja,” tutup Risdayanti pada Antara.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com