• Meningkatkan Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

    0
    Lina Santiana

    Lina Santiana,S.UD tenaga pengajar (guru), aktif pada organisasi himpunan mahasiswa islam (hmi) cab. palembang. alumni : uin raden fatah palembang.

    Lingkungan keluarga merupakan tempat seseorang memulai kehidupannya.Keluarga membentuk suatu hubungan yang sangat erat antara ayah, ibu dan anak.Hubungan tersebut terjadi karena anggota keluarga saling berinteraksi. Dari lingkungan itulah anak mengalami proses pendidikan dan sososialisasi awal. Keluarga memberikan pendidikan pertama bagi anak. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya, dengan kata lain sifat dan kepribadian anak merupakan cerminan perilaku atau didikan orang tuanya. Namun kadang orang tua tidak mengetahui apa peranan mereka dalam keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama bagi anak. Keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan tempat dimanaia menjadi diri pribadi. Sebagaimana dalam teori Sigmun Frued yang mengatakan bahwa, “Das Ueber Ich” atau aspek sosiologis dan nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat bagaimana ditafsirkan orang tua terhadap anaknya.Disamping itu keluarga adalah tempat belajar bagi anak dalam segala sikap untuk berbakti kepada tuhan sebagai perwujudan nilai hidup yang tinggi, dengan demikian jelaslah bahwa orang yang pertama dan utama bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan pendidikan anak adalah orang tua.

    Anak adalah peniru ulung.Sikap mereka disekolah, dilingkungan dan dimasyarakat adalah cerminan bagaimana kehidupan mereka dirumah.Rumah merupakan Madrasah (Sekolah) pertama bagi tumbuh kembang anak, dan orang tua adalah guru pertama bagi kehidupan mereka, karena orang tua adalah ujung tombak bagi tumbuh kembang sosio-emosinya.Akan tetapi dalam hal mendidik anak tak jarang orang tua selalu salah kaprah.Bahkan banyak orang tua yang tidak terlalu menekankan pembentukan moral dalam diri anaknya, sehingga yang mereka tahu adalah anak mereka harus disekolahkan pada lembaga pendidikan yang mahal, terkenal dan bagus.Kemudian setelah anak disekolahkan orang tua lepas tangan dan menyerahkan segalanya kepada sekolah, tanpa menyadari bahwa keberhasilan pendidikan anak berawal dari dalam keluarganya.

    Diera globalisasi dan informasi pendidikan tidak akan lepas adanya peran keluarga, dan peran keluarga tersebut merupakan kategori kebutuhan dasar. Karena bergitu besarnya pengaruh globalisasi dan informasi yang saat ini sedang booming, sehingga akan memberikan pengaruh signifikan terhadapat keluarga. Banyak dampak negative yang terjadi dari teknologi dan informasi saat ini pada anak.Maka dari dampak tersebut yang mampu memberikan solusi adalah pendidikan pada keluarga.

    Rendahnya pendidikan dan peran keluarga akan berdampak pada kehancuran generasi yang akan datang. Hal itu terjadi karena masyarakat tidak menyadari bahwa pendidikan yang pertama dan utama adanya pada lingkungan keluarga. Dalam hal ini sebenarnya pendidikan itu terbagi menjadi tiga bagian yaitu:Pertama,Pendidikan formal.Dimana pendidikanini dilaksanakan pada satuan lembaga pendidikan yang memiliki aturan-aturan baku serta memiliki jenjang tertentu dengan waktu terbatas dalam pembelajarannya.Kedua,Pendidikan nonformal, merupakan pendidikan yang dilaksanakan oleh satu lembaga yang dikelola oleh suatu masyarakat dalam rangka melayani kebutuhan pendidikan bagi masyarakat dengan tidak dibatasi usia, dan pembelajaran sangat fleksibel disesuaikan dengan keinginan dari peserta dengan prinsif belajarseumur hidup. Sertayang terakhir adalah pendidikan informal, merupakan pendidikan yang berada pada lingkungan keluarga yaitu pendidikan dari orang tua terhadap anak.Pendidikan informal inilah yang menjadi ujung tombak pada pendidikan lainnya. Baik buruknya hasil pendidikan keluarga akan menentukan hasil pendidikan lainnya.

    Sebagai contoh layaknya yang pernah dan sering kita temui dalam keseharian.Kadang ada seorang anak-anak di lingkungan rumah, sekolah, atau tempat-tempat umum lainnya, dimana mereka kadang berperilaku kurang ajar bahkan membuat jengkel.Dalam hal ini misalnya saja ketika anda sedang mengajar di kelas, kemudian ada salah satu anak didik anda berbicara kotor dan kasar, kemudian anda sebagai guru menegurnya dengan lemah lembuh penuh kasih sayang. Tapi apa yang ia lakukan, justru malah mengatakan kepada anda, biar saja! Di rumah ayahku atau ibuku juga suka berkata seperti itu.Lalu dikemudian hari pada tempat yang samaanda kembali menemukan anak-anak lain melakukan kekerasan kepada temannya, sebut saja mereka berkelahi. Kemudiaan anda melerai dan menasehati kedua anak yang sedang berkelahi tersebut.Lantas salah satu dari merekamengatakan, “Aku tak akan memaafkannya.Ibu dan ayahku bilang jika ada teman kamu yang memukulmu dibalas saja, itu tidak apa-apa.”Sebagai contoh lagi misalnya saat di sekolah anak didik anda mengambil sesuatu dari ruangan anda tanpa meminta izin, Lalu anda sebagai seorang guru yang ada dikantor menegur dan menasehatinya serta memberikan peringatan kepada si anak.Kemudian si anak ini mengatakan, “Dirumah aku juga seperti itu, ibu dan ayah tak pernah melarangku atau marah kepadaku saat aku melakukan sesuatu tanpa meminta izin kepada mereka.”Dari contoh ini jelas bahwa orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya.Mereka mengatakan dan melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan apa yang mereka lihat, mereka dengar bahkan mereka ingat. Tanpa dipungkiri Setiap orang tua memiliki gaya dan cara mendidik yang berbeda-beda. Dan tentunya gaya mendidik tersebut akan berpengaruh dalam perkembangan anak. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan kasih sayang kepada mereka adalah tidak boleh kurang atau tidak boleh lebih.

    Maka dari itu ada beberapa poin yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mendidik anak yaitu Pertama,penanaman aqidah.Penanaman aqidah adalah pendidikan pertama dan utama yang harus lebih dulu ditanamkan pada diri anak oleh orang tuanya. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ath Thabrani dalam kitab Al-Mu’jamul Kabir bahwa, ”setiap anak yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.”Dari hadits tersebut jelas menunjukkan bahwa orang tua adalah guru pertama dalam pendidikan anaknya.Karena orang tua adalah orang pertama yang menjadi teladan dan contoh dari pada anak-anaknya.Anak akan menjadi baik tergantung dari orang tuanya, bahkan anak akan menjadi tidak baik tergantung pendidikan yang diberikan orang tuanya. Sebagaimana pendidikan bukan hanya disekolah saja tetapi juga dari dalam lingkungan keluarga dengan membimbing dan mengarahkan anak kepada norma-norma dan sopan santun dalam kehidupannya nanti dimasyarakat. Dengan bimbingan dan pengarahan yang baik dari orang tua terhadap anak sejak usia dini dengan menanamkan aqidah Islamiyah, maka diharapkan dewasa nanti segala tindakannya selalu didasari dengan nilai-nilai agama dan aqidah Islamiyah. Sebagai orang tua harus dapat mengenalkan kepada anak siapa Allah dan mengapa kita wajib taat kepadanya.Ketaatan itu tidak karena Allah adalah pencipta dan pemilik kita, namun karena dengan taat kepadanya hidup kita akanmenjadi lebih baik dan bahagia. Dengan memberikan dasar demikian anak tidak akan menganggap Allah sebagai hakim atau pengawas namun sebagai zat yang memang dibutuhkan dalam kehidupannya. Salah satu cara untuk memberikan dasar Habbuminnallah adalah dengan mengajarkan shalat kepada anak semenjak kecil. Dan kemudian mulai memberikan pengertian mengapa harus shalat, apa manfaat dan seterusnya.

    Kedua, menanamkan akhlak yang baik.Sebagaimanadalam sebuah hadits dijelaskan bahwa, “Tidak Ada Pemberian Orang Tua Kepada Anaknya Yang Lebih Baik Dari Pada Pendidikan Yang Baik.”Dari sini jelas bahwa hal yang utama selain penanaman aqidah kepada anak, adalah memberikan pengajaran-pengajaran dan bimbingan kepada anak anak tentang akhlakul karimah, utamanya adalah pendidikan tentang agama.Dalam Islam hubungan antar manusia sama pentingnya dengan hubungan dengan Allah. Bahkan nabi Ibrahim berdoa kepada Allah “… agar mereka dicintai oleh orang-orang…” jadi wajib bagi orang tua mengajarkan tata cara bergaul yang baik terhadap sesama dengan dilandasi rasa saling hormat menghormati, serta mampu bersikap asertif. Dengan demikian anak akan terbimbing menjadi manusia yang berakhlak dan bermoral serta akan mampu menjalani kehidupan ini sesuai dengan ajaran Islam.

    Adapun yang Ketiga, hendaknya orang tua memberikan dasar yang kuat kepada anak guna menghadapi tantangan zaman. Nabi pernah bersabda bahwa beliau mengkhawatirkan umat dibelakangnnya yang akan seperti busa atau buih dilautan, banyak namun tidak memiliki pendiriaan yang kokoh. Hal semacam inilah yang harus kita pertimbangkan saat merencanakan pendididikan dasar kepada anak-anak kita. Misalnya bagaimana agar ia menjadi anak yang kuat imannya, santun kepada sesama, serta kuat pula ilmunya. Ilmu akan membuat ia mampu bertahan serta senantiasa memiliki jalan ikhtiar untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi.

    Akan tetapi beda halnya bila orang tua yang tidak memiliki kesadaran tentang pentingnya pengajaran yang baik kepada anak. Terlebih tidak mementingkan ilmu-ilmu agama, maka yang ada adalah anak akan menjadi tidak terarah. Banyak para orang tua semisalnya yang lebih mengarahkan anaknya kepada keahlian-keahlian dunia seperti mengarahkan anak bagaimana agar bisa menjadi seorang penyanyi terkenal, menjadi model dan menjadi seorang artis.Bahkan orang tua mengarahkan anaknya bagaimana caranya agar anaknya memperoleh harta dan menjadi popular.Anak-anak sejak dini sudah di suguhkan teladan-teladan yang tidak baik, sinetron-sinetron bahkan pigur-pigur yang kurang mendidik.Maka jelas hal ini akan membentuk anak memiliki akhlak yang tidak baik.

    Berkaitan dengan hal tersebut, Muhammad Rasyid Dimas (2005: 17-18)berpandangan bahwa, ada 20 kesalahan orang tua dalam mendidik anak.Diantaranyamenyebutkan hal-hal berikut yaitu:

    1. Memerintah anak dengan tanpa menjelaskan alasan pentingnya menunaikan perintah tersebut.
    2. Batasan strategis yang ditetapkan dalam berinteraksi dengan anak tidak berubah meskipun perilakunya telah berubah. Dalam banyak kondisi hal ini dapat merusak diri anak, baik dengan cara menerima kasih sayang atau kekerasan dalam kadar yang berlebihan. Karena jika anak kecil menerima kasih sayang yang berlebihan meski apapun yang ia kerjakan sebagai strategi yang ditetapkan, maka ia akan menjadi anak yang tak acuh. Tanpa berusaha mengubah diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Mengingat kasih sayang yang diperlukannya dapat ia peroleh secara berlebihan setiap saat. Demikian pula dengan anak yang selalu memperoleh kekerasan dari kedua orang tuanya, meskipun anak tersebut telah berusaha berbuat untuk menjadi terbaik dengan mengubah perilakunya dan memperbaiki kekurangannya. Namun sikap yang diperoleh itu justru menyebabkannya merasa berputus asa untuk mengubah perasaan kedua orang tuanya terhadap dirinya. Bahkan bisa juga menimbulkan perasaan tertekan dan teraniaya, yang selanjutnya menjadikannya menghancurkan kaidah yang telah dibangunnya dimasa mendatang mengenai nilai dan prinsip yang luhur karena ia mendapati kedua orang tuanya sebagai teladan yang buruk karena mereka telah berbuat zhalim. Sampai pada batasan inilah pengaruh negative yang diberikan oleh orang tuanya diatas yang tampak sepele dan tanpa memiliki pertimbangan.
    3. Sikap orang tua yang enggan menerapkan kedisiplinan pada anak. Seorang anak membutuhkan kedisiplinan sebagaimanaia membutuhkan masih sayang. Kedisiplinan disini adalah mengajarkan anak kecil untuk menguasai dirinya sendiri dan berprilaku baik sehingga dapat diterima oleh masyrakat.
    4. Tidak menyikapi kesalahan-kesalahan anak dengan kesabaran ekstra. Tidak diragukan lagi bahwa agama Islam tidak menyeru kita kepada suatu hal kecuali di dalamnya terdapat kebaikan bagi kita. Diantara yang diserukan Islam adalah bersabar dalam menghadapi berbagai permasalahan. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surah Ali Imran yang berbunyi: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

     Dalam sebuah hadits pun dijelaskan bahwa“Dari Anas R.A dari nabi Muhammad SAW, bahwasanya beliau bersabda “Barang siapa menahan amarahnya dan ia mampu melakukannya, maka Allah akan menyerunya dihadapan seluruh makhluk pada hari kiamat dan memberikan kebebasan memiliki bidadari manapun yang ia suka.” (H.R. At-Thirmidzi)

    Mengingat pada dasarnya ukuran atau kriteria dalam dunia anak itu berbeda dengan kriteria untuk orang yang telah berumur puluhan tahun, maka diharapkan orang tua dapat mendidik anaknya dengan kesabaran.Bahkan sesungguhnya salah satu arti pendidikan adalah meluruskan dan memperbaiki perilaku. Suatu perilaku tidak akan berubah sedemikian rupa dengan cara yang menyimpang. Namun akan berubah apabila nilai-nilai dan kriteria yang menghukuminya juga berubah. Karena itu usaha yang benar untuk mengubah perilaku pada anak pada mulanya adalah dengan mendekatkan pada nilai-nilai yang baik sedikit demi sedikit.

    Kesalahan adalah karakter dari semua anak. Tidak akan ditemukan anak yang tidak pernah melakukan kesalahan. Karena anak-anak memiliki fase-fase perkembangan.Di dalam fase-fase tersebut mereka berusaha menyikapi dunia yang ada disekelilingnya, meniru dunia orang dewasa dengan segenap kebaikan dan keburukannya.Menggunakan indera dan otot mereka, sikap berpetualang dan berinovasi.Kesadaran mereka tidak mampu memahami kebenaran dan makna-makna dasar sebagaimana yang kita pahami.

    Permasalah-permasalahan dalam diri anak tidak akan mungkin dapat terselesaikan dalam waktu yang cepat, namun butuh waktu yang lama sesuai dengan kepribadian, kondisi dan lingkungannya. Tidak diragukan lagi bahwa seorang pendidik terhadap hal diatas mengakibatkan orang dewasa menaruh perhatian tinggi pada kedisiplinan dan keperdulian serta kesabaran dalam menghadapi permasalahan dan kesalahan yang diperbuat anak-anak.Tidak diragukan pula bahwa banyak orang dewasa yang mengedepankan emosi dan sedikit kesabarannya.Sehingga mereka mudah sekali menampar, menendang, memukul, menghina dengan berbagai bentuk perkataan yang kasar dan tidak pantas.

    Untuk itu meskipun maksudnya baik, hendak meluruskan perilaku yang susah diantur pada anak, tetapi yang terjadi malah justru menambah anak menjadi lebih buruk. Maka dari itu sebagai orang tua sebaiknya menerima berbagai permasalahan dan kesalahan yang biasa muncul dari anak-anak dengan lapang dada, seraya mengontrol sifat pemarah dan emosional.Hadapi anak-anak dengan perilaku yang sabar, bijak, lapang dada, dan senantiasa pemaaf serta menahan amarah.Sebab jika kita tidak menerapkan prinsip-prinsip Islami dalam interaksi kita terhadap mereka justru memperaktikkan perilaku yang sebaliknya seperti suka marah, berteriak, dan permusuhan hal ini merupakan jaminan akan tumbuhnya sikap pada anak seperti kepala batu, pemberontak, pengecut, suka bermusuhan, merampas hak orang lain dan dengki.

    1. Berlebihan dalam memberikan janji yang berulang kepada anak serta sikap orang tua yang menerima persyaratan yang diajukan anak. Dalam hal ini tidak dilarang orang tua memberikan imbalan dan hadiah kepada anak untuk memotivasi mereka melakukan sesuatu. Akan tetapi hal ini diperbolehkan apabila benar-benar telah diyakini bahwa si anak telah mencurahkan upaya yang sungguh-sungguh dan murni dalam menunaikan perkerjaan yang dapat diterima dalam menjauhkan diri dari perkerjaan yang tidak sepantasnya. Ada beberapa prinsip umum yang harus kita ikuti dan praktikkan yaitu tidak boleh memberikan imbalan kepada anak atas suatu perkerjaan yang memang harus dilakukannya. Sebab hal itu akan membuatnya menjadi pribadi yang oportunis, materialis dan tidak akan menunaikan suatu perkerjaan kecuali jika mendapatkan imbalan. Para pendidik muslim telah menetapkan bahwa seorang anak tidak perlu diberi hadiah atas seluruh perkerjaan yang dilakukannya, apalagi hal itu telah menjadi tugasnya. Hal ini dimaksudkan agar “sogokan hadiah” tidak mengajar menjadi pola pikir anak dan hilangnya nilai sebagai pengarah dan pengokoh perilaku yang baik.
    2. Mengomentari anak dengan komentar yang justru dapat menghalanginya kembali berperilaku baik. Dan bahkan membiarkan anak tetap berperilaku buruk serta Tidak memberikan spirit yang positif pada diri anak. Apabila kita mengatakan kepada anak kecil, “kamu anak jorok,” “kamu anak durhaka,” atau “kamu anak yang tidak patuh, jelek dan bodoh.” Maka anak akan menerima opini-opini ini seakan sebagai gambaran hakiki tentang dirinya dan akan bertindak dalam koridor sifat-sifat ini. Sebaliknya jika anda berkata kepada anak anda, “Sesungguhnya kamu anak yang pemberani, pintar dan berakhlak mulia,” niscaya ungkapan-ungkapan seperti ini akan memberikan spirit positif yang tepat bagi anak.
    3. Kontradiktif dalam menerapkan system pendidikan anak. Apabila anda mengatakan, misalnya dusta itu adalah perbuatan yang buruk dan akan masuk neraka. Maka jagalah prilaku anda atas dasar prinsip tersebut. Sehingga anda sebagai orang tua tidak akan bertolak belakang dengan apa yang anda ucapkan di depan anak. Dalam hal ini kita sering memperhatikan seorang ayah atau ibu mengadopsi kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik. Seperti berkata jorok dan kasar. Dalam pada itu mereka mengingatkan anak untuk tidak berkata jorok dan kasar. Tapi pada kondisi lain orang tua melakukan itu didepan anak. Maka hendaknya jika kita melarang anak melakukan sesuatu itu dari apa yang memang sudah kita jauhi dan lakukan. Jika kita mendidik anak-anak dengan nilai-nilai dan perilaku tertentu, diharuskan nilai-nilai ini dan perilaku ini juga telah ada dalam diri kita dan telah kita praktekkan secara benar. Hal ini dimaksudkan agar apa yang kita ajarkan pada anak memiliki kredibilitas sehingga ia akan memperlajarinya.
    4. Protektif yang berlebihanbahkan cenderung lalai dan cuek. Sikap ini sangat berpengaruh kepada tubuh kembang anak. Anak akan merasa tertekan dengan sikap orang tua yang terlalu protektif. Mereka akan merasa sangat tidak bebas untuk melakukan segala sesuatunya, bahkan untuk mengeksporasi diri kepada hal-hal baru dilingkungannya. Dengan kondisi orang tua yang lalai dan cuek karena perkerjaan, juga akanmembuat anak merasa tidak di perhatikan.Sehingga nantinya anak akanterjerumus pada hal-hal yang tidak baik, karena kurangnya perhatian dari orang tuanya. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas bahwa, hendaknya orang tua memberikan perhatian, kasih sayang yang cukup kepada anak serta mengarahkan dan membimbing mereka dengan nilai-nilai Islami sehingga mereka menjadi pribadi yang kokoh akhlaknya di masa depan.

    Dari hal diatas maka, ada beberapa cara yang perlu diperhatikan orang tua dalam meningkatkan perannya terhadap pendidikan anak:

    1. Mengontrol waktu belajardan waktu bermain anak. Sehingga anak akan tau kapan waktu bermain dan kapan waktu belajar.
    2. Memantau perkembangan kemampuan akademik.
    3. Mengontrol kepribadian anak diluar rumah. Semisal di sekolah dengan cara berkomunikasi dengan wali kelas mereka.
    4. Apa bila anak melakukan kesalahan jangan menghukum mereka dengan kekerasan yang berlebihan sehingga membuat mereka terluka dan menimbulkan bekas.
    5. Mencermati psikologi perkembangan anak.
    6. Biasakan anak mengeluarkan pendapatnya tanpa rasa takut, malu dan berdiskusilah dengannya tentang suatu hal. Ajarkan etika secara continue disertai dengan sedikit kelembutan.
    7. Tunjukkan kepercayaan anda kepada anak dan kepada kemampuannya, serta perkokohlah kepercayaan dirinya.
    8. Hendaklah hukuman fisik menjadi pilihan terakhir bagi pendidik. Maksudnya adalah jika anak melakukan kesalahan pertama kalinya, maka berilah kesempatan kepadanya untuk menyesali kesalahannya dan meminta maaf atas apa yang ia lakukan.

    Sehingga dengan sikap dan prinsip-prinsip yang baik ini diharapkan anak-anak akan menjadi pribadi-pribadi yang memiliki akhlak yang baik. Dan terwujudnya generasi yang lebih baik dimasa mendatang. Tentu saja hal ini dapat tercapai apa bila para orang tua menyadari bertapa pentingnya peran mereka dalam pendidikan anak, sebagai “Madrasah” pertama dalam keluarga.

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com