• MCA Fokus Turunkan Stunting di OKI

    0

    141227012penderitagiziburukKAYUAGUNG, jurnalsumatra.com –  Anak penderita stunting adalah anak yang gagal tumbuh hal ini berimplikasi terhadap kemampuan kognitif dan daya saing anak menjadi lemah. Hal ini juga berakibat terhadap pertumbuhan ekonomi. Demikian diungkapkan Hari Kristji Joe Kepala Satker pengelola Hibah MCA di aula rumah dinas Bupati OKI, Selasa (17/5/2016) Malam.

    Menurutnya, Stunting disebabkan oleh gizi buruk dan lazimnya terjadi pada anak-anak di keluarga miskin, kelompok yang minim informasi dan akses terhadap fasilitas kesehatan. Stunting pun berdampak mengurangi daya saing mereka, sehingga peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (Gross Domestic Product, GDP) yang sedang dinikmati Indonesia tak berpengaruh. Jika tak ditangani, maka mereka akan terus terjebak dalam kemiskinan. Untuk itu, perlu usaha khusus untuk  memutus rantai kemiskinan tersebut.

    Untuk itu kata dia, salah satu proyek Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia di Kabupaten OKI adalah Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat  (PKGBM) yang bermitra dengan dinas kesehatan setempat.

    Katanya, bentuk kerjasama dengan pemerintah OKI berupa traning dan pemicu sanitasi agar masyarakat tidak membuang air sembarangan ” Kebanyakan masyarakat pedesaan kita ini buang air besar di sungai dan air itu juga yang digunakan untuk masak itu berakibat infeksi dan mengakibatkan anak-anak menjadi stunting,”jelasnya.

    Saat ini katanya, pihaknya menargetkan untuk mengurangi stunting di indonesia karena saat ini indonesia berada di peringkat ke lima.

    Kepala Dinas Kesehatan OKI, H M Lubis, SKM mengatakan, PKGBM ini fokus untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan pemberian makanan bayi dan anak, pelatihan pemantauan pertumbuhan balita, dan pemicuan sanitasi total berbasis masyarakat.

    Katanya, sepanjang 2015, ada 24 kader Posyandu dan PNPM Generasi di OKI yang mendapatkan Pelatihan Pemberian Makanan Bayi dan Anak yang tepat. Sementara untuk sanitasi total berbasis masyarakat sasarannya adalah 36 desa, 12 Puskesmas dan 8 Kecamatan.

    Menurutnya, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

    Stunting bukan disebabkan faktor keturunan, namun masalah itu terjadi kurangnya asupan gizi kepada anak mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

    Dia menjelaskan, dalam dua tahun terakhir pihaknya berhasil menurunkan tingkat prevalensi stunting atau masalah kurang gizi kronis di kabupaten ini.

    Tingkat prevalensi stunting Kabupaten Ogan Komering Ilir sebelumnya berada pada angka 40,5 persen atau di atas rata-rata nasional 37,2 persen namun kini bisa ditekan menjadi 34 persen.

    Untuk menurunkan tingkat prevalensi dan mencegah stunting mengancam generasi penerus kabupaten ini, pihaknya berupaya mendorong masyarakat menggalakkan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, Air Susu Ibu (ASI) eksklusif sampai usia enam bulan, memantau pertumbuhan balita, serta meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi.

    Sementara itu, Bupati OKI, Iskandar, SE menyambut baik perhatian MCA di Kabupaten OKI. “Kami berterimakasih jadi bagian dari sedikit Kabupaten yang menerima program ini, semoga bermanfaat untuk masyarakat,”jelasnya.

    Sebagai solusi menurunkan jumlah orang yang hidup dengan penyakit tertentu/tingkat prevalensi “stunting” atau badan kurang pada anak. Pihaknya telah membentuk duta gizi untuk menurunkan tingkat prevalensi “stunting” yang disebabkan masalah kurang gizi kronis.

    Menurut dia, salah satu permasalahan pelayanan kesehatan di OKI, yaitu menyediakan pelayanan kesehatan yang dekat dengan jangkauan masyarakat. “Melalui program 1 desa 1 poskesdes ini diharapkan mampu menyentuh kebutuhan masyarakat,”jelasnya.(ata)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com