• LPA Tuntut Pelaku Kekerasan Seksual Dihukum Mati

    0

         Mataram, jurnalsumatra.com – Lembaga Perlindungan Masyarakat (LPA) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menuntut para pelaku kekerasan seksual dihukum mati atau seumur hidup.
    “Kalau hukuman yang diberikan kepada pelaku kekerasan seksual hanya kebiri, justru bisa memberikan peluang pelaku menggunakan alat-alat lain lagi,” kata Pembina LPA Kota Mataram Nyayu Ernawati di Mataram, Jumat.
    Menurutnya, para pelaku kekerasan seksual yang sudah tidak memiliki akal sehat, selalu dan akan terus mencari jalan untuk melampiaskan nafsunya.
    Artinya, jika mereka hanya dikebiri mereka akan menggunakan alat yang dimiliki dan ada disekitarnya, seperti kasus Eno Parihah dari Banten, yang dibunuh dengan cangkul.
    “Oleh karena itu, kami lebih mendukung pemerintah memberikan hukuman mati atau seumur hidup kepada pelaku tindak kekerasan seksual,” katanya lantang.
    Di sisi lain, LPA juga mendukung langkah Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk memblokir situs porno.
    “Kita  setuju terhadap kebijakan yang dilontarkan wakil presiden (wapres),” katanya.

         Dukungan penuh diberikan LPA Kota Mataram, karena banyak pelaku tindakan kekerasan seksual melakukan kejahatannya setelah menonton film-film porno yang dapat diakses bebas melalui sistus-situs yang ada.
    Akibat mereka tidak dapat menahan hawa nafsunya, akhirnya para pelaku melampiaskannya kepada korbannya yang terdekat dan siapa saja.
    “Mereka tidak peduli, mau bayi, balita, anak kecil, remaja atau siapa saja yang seharusnya dilindungi,” ucapnya.
    Dikatakan Erna, begitu dia sering disapa, kemudahan mengakses situs-situs porno menjadi bom waktu bagi pemerintah sebab memicu orang yang menontonnya untuk berbuat adegan serupa dan merugikan masyarakat.
    Karena itu, jika pemerintah tidak segera melaksanakan kebijakannya dengan menutup situs-situs porno, dikhawatirkan kasus-kasus kekerasan seksual akan semakin menjamur.
    “Munculnya berbagai kasus kekerasan seksual membuktikan bahwa negara kita sudah sangat darurat kekerasan anak, karena itu mari kita lindungi anak-anak,” katanya mengajak.
    Erna menyebutkan, sejauh ini jumlah tindak kekerasan terhadap anak di Kota Mataram sejak 1 Januari 2016 tercatat sebanyak tiga kasus, yang merupakan tindak kekerasan seksual dan sudah dilakukan penanganan.
    “Sementara kasus yang ditangani tahun 2015 sebanyak 37 kasus meningkat dari tahun 2014 sebanyak 32 kasus, dengan kasus terbanyak adalah pencurian,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com