• Ketum IGI: Bangun Kolaborasi Majukan Pendidikan

    0

        Makassar, jurnalsumatra.com – Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim mengatakan, sudah saatnya menanggalkan kompetisi dan mulai membangun semangat kolaborasi untuk memajukan pendidikan.
    “Sekian lamanya dunia pendidikan kita dibangun dengan semangat kompetisi, bukan hanya siswa, guru pun dipaksa untuk berkompetisi,” kata Ramli pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Makassar, Senin.
    Dia mengatakan, dari ajang kompetisi itu, lahirlah guru hebat satu atau dua orang dan disaat yang sama lahirlahlah pula jutaan guru yang terkalahkan.
    Menurut dia, begitu banyak yang merasa hebat karena menjadi Gupres provinsi dan sedikit guru yang merasa luar biasa karena menjadi Gupres Nasional.

        “Mereka hebat karena menjatuhkan begitu banyak guru lainnya, banyak yang bangga pada mereka, tapi tahukah kita bahwa jutaan guru telah menjadi “guru terkalahkan” mereka telah kehilangan kepercayaan diri karena tak memegang label “guru berprestasi” bahkan mereka datang ke sekolah tertunduk malu karena berstatus “kalah”.
    Kondisi serupa juga terjadi pada siswa-siswa yang dibangun dengan sistem “rangking”. Dampak dari hal itu, siswa yang tidak berhasil meraih rangking merasa tersisihkan, namun fenomena di lapangan, banyak juga yang sukses luar biasa, kendati tidak mendapatkan rangkin ketika bersekolah.
    Menurut dia, kompetisi akan melahirkan persaingan dan persaingan menjadi juara akan membuat manusia cenderung menggunakan segala macam cara untuk “menang”.
    “Mereka yang juara tak akan mau berbagi dengan yang lain karenaa takut “terkalahkan” sehingga yang terjadi adalah sebagian dari kita menjadi superior dan mayoritas dari kita menjadi imperior,” katanya.

       Dia mengatakan, pemerintah dapat saja mengubah sistem kompetisi dengan membuat “Standar Juara”, sehingga bukan hanya satu atau dua orang guru yang bisa berstatus juara tapi seluruh guru bisa saja berstatus juara.
    Contoh paling sederhana adalah Tahfidz Al Quran, lanjut dia, berapa pun jumlah penghafal 30 juz akan keluar sebagai juaranya.
    “Karena itu sudah saatnya menumbuhkan sistem  kolaborasi, di sini siswa akan saling mendukung, saling berbagi, saling menyemangati untuk bersama-sama menjadi juara. Begitu pula guru-guru,” katanya.
    Dengan demikian, kolaborasi akan melahirkan karakter juara, bukan karakter mengalahkan dan terkalahkan, sehingga ada yang merasa tersisihkan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com