• KEJAR DUNIAMU JANGAN LUPAKAN AKHIRATMU

    0
    lina

    Lina Santiana,S.Ud tenaga pengajar (guru), aktif pada organisasi himpunan mahasiswa islam (hmi) cab. Palembang. Alumni : uin raden fatah palembang

    Kita hidup dizaman yang serba ada. Berkat kemajuan ilmu dan teknologi. Apa yang kita butuhkan asal ada uang dapatlah kita beli di toko. Maka karena kekayaan, manusia dapat hidup secara nikmat dan mewah. Perhatikanlah rumah-rumah dan gedung-gedung yang indah dan lengkap dengan isi peralatannya. Kelihatannya kadang para penghuni di dalamnya hidup senang sehari-harinya. Apakah mereka betul-betul senang dan bahagia?

    Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan adalah dengan memiliki mobil mewah, Handphone sekelas Blackberry, memiliki rumah real estate, dapat melakukan tur wisata ke luar negeri, dan lain sebagainya. Mereka menyangka bahwa inilah yang dinamakan hidup bahagia. Namun apakah betul seperti itu?

    Kesemuanya itu karena perkembangan budaya yang pesat saat ini baik dibidang ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, kesenian, dan lain-lain membawa perubahan baru bagi peradaban manusia. Tidak saja dengan perangkat-perangkat iptek yang berkembang, tetapi pengaruh ideology baru pun mulai ibarat jamur yang tumbuh di musim hujan. Seiring dengan kemajuan budaya, tawaran-tawaran iptek yang menggiurkan menjadikan budaya manusia tumbuh semakin kompleks bahkan plural. Pada sebagian manusia kondisi ini membuat mereka kebingungan untuk mengatakan tidak atau ya kepada sesuatu persoalan khususnya etika yang sedang mereka hadapi. Sering persoalan tersebut menjadi lebih abu-abu ketimbang terlihat putih atau hitam secara jelas.

    Sehingga pada abad modern, manusia lebih mementingkan kualitas dari pada kuantitas, manusia modern cenderung untuk bersaing. Pandangan hidupnya telah diubah menjadi material oriented, yaitu materi sebagai ukuran sehingga manusia sedemikian diperhamba oleh teknologi yang telah menjauhkan mereka dari komunal yang hakiki. Kuntowijoyo menamakan hal semacam ini sebagai akibat urban culture yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat tradisional agraris, yaitu masyarakat kota yang semakin nisbi dengan nilai kemasyarakatannya dalam arti yang hakiki.

    Itu semua terjadi karena manusia telah kehilangan identitas dirinya sebagai manusia dan sudah kehilangan orientasi hidup. Padahal salah satu kebutuhan manusia yang fundamental adalah “Orientasi”. Sebab manusia dalam melakukan apapun harus mencari orientasi terlebih dahulu. Maka manusia harus mengetahui dirinya berada dan kearah mana ia bergerak untuk mencapai tujuan.

    Kita lihat, Setiap detik semenjak manusia di lahirkan sampai wafat, sejak ia bangun dari tidur sampai kembali tidur lagi, selama itu detik demi detik manusia di hadapkan kepada berbagai ujian dan cobaan. Kemana dan dimana manusia itu berada, baik sebagai kepala rumah tangga, kepala kantor, sebagai karyawan, buruh atau tani. Disana dia akan melihat berbagai tingkah laku dan sikap manusia yang bergulat mencari kebutuhan hidup. Ia akan tahu pula bahwa hari kemarin bukanlah hari ini. Perjalanan waktu akan tetap menerjang setiap hambatan dan rintangan, tetapi manusia tidak akan tahu, apakah gerangan takdir yang akan datang esok atau lusa. Dalam keadaan semacam itu manusia akan tersentuh di benaknya, dimana ia akan menempatkan diri. Kadang ia di desak oleh dorongan nafsaniahnya, makan dan minum, pangkat dan kedudukan, dan mengejar keuntungan  harta menjadi tujuan utama. Namun manusia tidak akan bisa merangkul; sekaligus seluruh keinginan. Mungkin juga dalam beberapa hal ia berhasil. Tetapi keberhasilan itu membawa konsekwensi semakin besarnya ujian dan cobaan yang dia hadapi. Hal inilah yang membuatnya bertanya. Siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana manusia memenuhi keinginan-keinginannya? Bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas maka dia telah menyadari akan hakikat dirinya dan hakikat hidup ini.

    Apa yang telah dikatakan mengenai kurang keaslian dalam hal perasaan dan pemikiran berlaku juga dalam tindakan berkehandak. Untuk mengetahui hal ini adalah sangat sulit manusia modern melihat, jika ada apa-apa, dengan harapan yang bergitu besar dan masalahnya hanya melihat untuk menjadi seperti itu, walaupun ia tahu bahwa apa yang ia inginkan, tidak dapat dimilikinya. Semua energy kita diarahkan pada tujuan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dan kebanyakan orang tidak mempersoalkan premise dari akivitas ini: bahwa mereka mengetahui keinginan mereka yang sebenarnya. Mereka tidak berhenti berpikir apakah tujuan-tujuan yang mereka kejar adalah sesuatu yang mereka inginkan itu sendiri. Disekolah mereka ingin mengejar nilai-nilai yang bagus, sebagaimana orang dewasa mereka ingin memperoleh kesuksesan yang besar, untuk mendapatkan uang yang banyak, untuk memperoleh prestasi yang besar, untuk membeli mobil yang bagus untuk berpergian dan sebagainya.

    Namun ketika mereka berhenti untuk berpikir di tengah aktivitas yang menakutkan ini, pertanyaan berikut mungkin muncul di benak mereka: Jika saya dapat perkerjaan yang baru, jika saya memperoleh mobil yang lebih bagus, jika saya dapat melakukan perjalanan apa selanjutnya? Apa gunanya semua itu? Apakah saya adalah orang yang benar-benar menginginkan semua itu? Apakah saya setelah beberapa tujuan yang kiranya membuat saya bahagia dan melegakan saya mengajar lagi bergitu saya berhasil mencapainya? Pertanyaan pertanyaan seperti ini, kapanpun muncul, adalah menakutkan, karena itu semua adalah pertanyaan mendasar yang diatasnya seluruh aktivitas manusia dibangun: pengetahuannya akan apa yang ia inginkan. Orang cenderung mengesampingkan secepat mungkin pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu ini. Mereka merasa bahwa mereka telah disusahkan oleh pertanyaan-pertanyaan ini karena mereka telah lelah atau tertekan dan mereka terus mengejar tujuan-tujuan yang mereka yakini merupakan milik mereka sendiri. Namun semua ini memperlihatkan suatu perwujudan yang suram dari kebenaran-kebenaran bahwa orang modern hidup di bawah ilusi.

    Oleh karena itu, Modernisasi yang ditandai dengan kehidupan serba instan dan kemakmuran, ternyata tidak berhasil menghantarkan manusia kepada kebahagiaan yang hakiki. Justru di tengah dunia modern ini kita lihat adanya kegelisahan pada sejumlah kelompok manusia. Jiwa mereka Nampak gersang padahal mereka bergelimang dengan kemewahan dunia. Maka tidaklah heran jika sekarang ini muncul fenomena pencarian makna kehidupan demi mencapai kebahagiaan dan kedamaian hati.

    Kebahagiaan adalah keadaan subjektif yang dengan itu seseorang merasa dalam dirinya ada kepuasan atas keinginannya, dan sadar dirinya memiliki sesuatu yang baik. Karena kebahagiaan itu merupakan keadaan yang subjektif maka, setiap orang bahkan setiap agama pun memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam mengartikan kebahagiaan. Bahkan untuk mencapai kebahagiaan itu pun memiliki jalan yang berbeda-beda. Dalam agama Hindu kebahagiaan sejati adalah ketika manusia telah mampu mencapai keadaan Sat-Cit-Ananda. Keadaan dimana manusia telah mampu merasakan kehadiran Tuhannya, dengan sikap yang paling tepat yaitu bahwa manusia harus berbakti kepada Tuhan, menghormati dan dengan cinta menyerahkan diri secara total kepada Tuhan agar di anugrahi persatuan kebahagiaan bersamanya.  sedangkan Dalam pandangan Taoisme kebahagiaan itu adalah keadaan dimana manusia telah mencapai Tao. Karena Tao melebihi surga. Dan untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian itu maka manusia harus mentaati hukum. Sedangkan Dalam Islam, pusat segala kebahagiaan adalah saat seseorang bertemu dengan sang kholiq. Untuk sampai kepada kebahagiaan itu maka seseorang harus bertakwa. Menghindari segala yang dilarang-NYA dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sejatinya kebahagian dalam islam bukanlah hanya kebahagiaan dunia dengan hidup mewah dan jaban tapi juga mengutamakan kebahagiaan akhirat. Bukan hanya kebahagiaan jasmani tapi mengutamakan kebahagiaan rohani, ditunjukkan dengan ketenangan jiwa.

    Sebagaimana harapan untuk mendapatkan kebahagiaan dalam diri manusia seperti tersirat dalam doa, “Ya tuhan kami, berikanlah kebaikan (kebahagiaan) di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Kebaikan-kebaikan di sini merupakan amal-amal yang positif yang dapat membawa manusia kepada ketenangan batin. Sebenarnya kebahagiaan dalam pandangan islam bertumpu kepada upaya untuk tidak kecewa dengan apapun yang diterima dari Allah. Sedikit atau banyak tetap disyukuri dan diterima sebagai yang terbaik menurut pilihan Allah. Atau dengan kata lain bersifat qana’ah. Qana’ah di sini berarti, manusia rela dengan apa yang diberikan oleh Allah, memohon kepada Allah tambahan yang pantas dan tetap berusaha, menerima dengan sabar akan ketentuan Allah, bertawakal kepadanya dan tidak terlena dengan kesenangan duniawi.

    Kelima aspek tersebut dapat mengarahkan manusia mendapatkan kebahagiaan. dengan sikap qana’ah, seseorang tidak akan silau dengan prestasi yang diraih oleh orang lain tetapi ia sibuk mengurusi dan mengelola apa yang sudah diterimanya dan senantiasa mensyukurinya. Demikian pentingnya sikap ini sehingga Rasulullah SAW. Menganggapnya sebagai harta yang tidak akan hilang. Rasulullah bersabda,

    “Qana’ah adalah harta yang tidak akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap.”

    Berkaitan dengan ini, Hutami’ah, seorang penyair mendendangkan syairnya, “Bukanlah kebahagian itu pada mengumpulkan harta, tetapi kepada ketakwaan kepada Allah itulah dia kebahagiaan. takwa kepada Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan. Pada sisi Allah sajalah bagi orang yang bertakwa.” Demikian adalah makna kebahagiaan bagi orang yang beriman ia mampu menilai dan menghiasi hidup ini dengan nilai dan porsi yang semestinya. Sebagaimana dalam sebuah hadits pula disebutkan bahwa,

    “Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Sebagaimana bahagia adalah perasaan sehat rohani yang karenanya ia tidak merasa susah, gelisah, takut, gentar, tidak kekurangan dan tidak merasa sakit, bahkan ia dapat merasakan kedekatan kepada Allah. Maka gaya dan sikapnya senantiasa tenang dan berseri-seri. Ia juga bersikap sabar dan percaya akan hari akhir. Tidak mesti bahwa orang yang kaya-raya, berumah besar, mobilnya mengkilat itu pasti bahagia hidupnya. Itu hanya tampak dari luarnya saja. Dan mungkin juga ia memperlihatkan tampak dirinya bahagia supanya jangan dicemooh orang namun hakikatnya dalam hatinya ia gelisah. Takut karena kejaran hutang, khawatir rugi daganyannya, keluarga dan dirinya selalu pusing kalau-kalau akan ada yang merampok harta bendanya dll. Sebaliknya, ada orang yang miskin, hidup sebagai buruh kasar, uang seidkit rumahnya kecil malah selalu menunjukkan senyuman dan sering berdendang karena bahagia. Tidurnya sering pulas, makannya enak meskipun sederhana sekali, tampak dari luar ia sengsara namun jauh di dasar hatinya ia sangat bahagia dan tentram. Mengakhiri tulisan pada bagian ini, Imam Al-Qazali pernah, mengatakan : kebahagiaan dan kelezatan sejati adalah bila seseorang dapat mengingat Allah. ”Dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang dan damai.” Hal ini dijelaskan melalui surah Al-Ra’d ayat 28.

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com