• Jelang Ramadhan Daging Sapi dan Bawang Merah Rawan

    0
    permana

    Jelang Ramadhan Daging Sapi dan Bawang Merah Rawan

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Jelang bulan suci Ramadan, dan mengantisipasi lonjakan harga sembako di Sumsel, Pemprov Sumsel mengumpulkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),

    Hal tersebut diungkapkan, Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda Sumsel, Yohanes H Toruan, mengatakan, pihaknya khususnya mendeteksi komoditas khususnya yang jangka pendek jelang bulan puasa terjadi harga melonjak. “Kelihatannya masing-masing terkendali kecuali ada beberapa komoditas rawan seperti daging sapi, bawang merah,”jelas dia.

    Untuk itu, sambung dia, adanya rapat ini, segera diketahui komoditas apa yang akan menyumbang inflaso tinggi agar bisa dilakukan antisipasi dengan cepat. “Seperti di OKU Timur, harga daging masih Rp 110 ribu per kilogramnya, itu masih tinggi,”jelas dia.

    Ia menambahkan, selanjutnya akan dicari penyebabnya, apakah stok yang kurang, itu akan dihitung stoknya secara angka, jangan mengada-ada. “Hasilnya, segera, nanti sebelum akhir bulan atau tepatnya setelah tanggal 23 nanti (Mei,red) akan ada pertemuan lagi untuk komoditas utama penyumbang inflasi.”

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov Sumsel, Permana, Senin (16/5/2016) mengatakan, pihaknya melakukan invenstarisasi kebutuhan pokok penyumbang inflasi (mempengaruhi harga).

    Komoditi diinventarisir yakni besar, gula, tepung terigu, telur, daging ayam, cabai dan barang. Namun komoditi paling prioritas yakni daging, cabai, beras dan bawang. ”Dari ini, kami ingin mengetahui berapa data rill ketersedian stok pangan di Sumsel dan berapa kebutuhan pangan selama ramadhan,” katanya.

    Biasanya, sambung Permana, jelang ramadhan pasti kekurangan stok pangan 10-20 persen. Ini terjadi karena tingginya permintaan sementara stok yang tersedia terbatas. Karena itu, perlu dilakukan rapat guna mengetahui langkah (antisipasi) yang diambil agar tidak terjadi lonjakan harga signifikan. ”Baik itu mendatangkan komoditi pangan dari provinsi lain atau pun dikirim dari negara lain (ekspor, red),” jelasnya.

    Yang jelas, kata Permana, komoditi seperti daging, cabai dan bawang harus di datangkan dari luar Sumsel. Mengingat, Sumsel bukanlah sentra produksi komoditi tersebut. Termasuk, jika terjadi kelangkahan stok pangan. Pihaknya pun siap untuk melakukan operasi pasar bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) dan instansi terkait. “Jika naiknya cukup tajam, kami segera melakukan tindakan secepatnya untuk menyimbangkan harga,” ujar dia.

    Pihaknya pun melakukan pengawasan intensif terhadap pasar tradisional dengan menurunkan tim. Setidaknya ada empat pasar tradisional dipantau yakni Cinde, Sekanak, Km 5 dan Lubuklinggau. Alasannya, empat pasar tersebut memasok barang dari pasar induk. Lalu, pasar cinde dan pasar lubuklinggau menjadi pasar penentu harga Sembilan Bahan Pokok (sembako) di Sumsel”tegasnya”(mdn)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com