• Implementasi Kurikulum 2013 Hembusan Angin Segar bagi Eksistensi Pendidik dan Peserta Didik

    0
    ida yulia ramlan

    oleh Ida Yulia, M.Pd *) Peserta ToT TPK 2013 IK Mapel Bahasa Indonesia, Pendidik SMAN 1 Indralaya Selatan, Kab. Ogan Ilir.

    Direktorat Pembinaan SMA pada tahun 2016 memprogramkan pembinaan implementasi Kurikulum 2013 melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan untuk Kurikulum 2013. Pelaksanaan pelatihan dan pendampingan tersebut dilakukan oleh Direktorat Pendidikan SMA dan  LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan). Dalam rangka persiapan pelaksanaan  pelatihan dan pendampingan Kurikulum 2013 Tingkat Kabupten/Kota, maka diadakanlah ToT Tim Pengembang Kurikulum 2013 (Instruktur Kabupaten/Kota Jenjang SMA). Selanjutnya ToT diselenggarakan di LPMP Sumatera Selatan.

    Pelaksanaan kegiatan tersebut di atas dilatarbelakangi oleh keluarnya kebijakaan penataan implementasi Kurikulum 2013 melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014 melalui Permendikbud (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) Nomor 160 Tahun 2014. Berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan tersebut, maka implmentasi Kurikulum 2013 akan dilaksanakan secara bertahap mulai TP (Tahun Pelajaran) 2014/2015 Semester II hingga TP 2018/2019.

    TP 2015/2016 jumlah SMA yang melaksanakan Kurikulum 2013 berjumlah 2.151 SMA yang tersebar di 34 provinsi dan 312 kabupaten/kota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Selanjutnya, TP 2016/1017 implemetasi Kurikulum 2013 diperluas menjadi 3.212 SMA atau sekitar 25% dari jumlah SMA yang ada. Penambahan jumlah SMA yang melaksanakan Kurikulum 2013 tersebut berjumlah 2.049 SMA.

    Tambahan jumlah SMA sebagai sasaran pelaksana Kurikulum 2013 pada tahun anggaran 2016 diberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan Kurikulum 2013. Pelatihan Kurikulum 2013 dilaksankan secara bertahap dimulai dari pelatihan IN (Intruktur Nasional) di Bumi Tapos Bogor, pada 10-13 Maret 2016, pelatihan IP (Instruktur Provinsi) di Jakarta pada 26-30 April 2016, pelatihan IK (Instruktur Kabupaten/Kota) di LPMP Sumatera Selatan, pada 20-25 Mei 2016, dan pelatihan GS (Guru Sasaran).

    Dasar hukum penyelenggaraan ToT Tim Pengembang Kurikulum 2013 Tingkat Kabupaten/Kota (IK Jenjang SMA) Provinsi Sumatera Selatan tahun 2016 dengan memperhatikan UURI (Undang-Undang Republik Indonesia) No.20 Tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UURI No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, UURI No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Nasional Tahun 2005-2025, PP (Peraturan Pemerintah) No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendikbud RI (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) No.54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Kelulusan Pendidikan Dasar dan Menengah, Permendikbud RI No. 160 tahun 2014 tentang Pemberlakuan K13 Tahun 2016, Permendikbud RI No. 61 Tahun 2014 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Permendikbud RI No.103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran, Permendikbud RI No.105 tentang Pendampingan Pelaksanaan K13 pada PendidikanDasar dan Menengah, Permendikbud RI No.23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti,  Permendikbud RI No.53 Tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar.

    Dari pelaksanaan ToT Tim Pengembang Kurikulum 2013 Tingkat Kabupaten/ Kota Instruktur Kabupaten Kota Jenjang SMA terdapat banyak hal yang didapat sebagai angin segar yang bertiup untuk pendidik dan peserta didik. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut melalui kegiatan atau jadwal yang telah disusun sesuai lamanya waktu pelaksanaan diklat.

    Pertama, Gerakan Penumbuhan Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah merupakan pembelajaran pertama yang disampaikan dalam kegiatan diklat. Pada bagian ini peserta didik dan pendidik diharapkan untuk saling menjaga keteladan atau suriteladan yang baik. Pendidik memberikan contoh nyata dalam kegiatan pembiasaan yang baik di sekolah. Selanjutnya, menjaga konsistensi antara perkataan dengan perbuatan. Sebagai penilaian budi pekerti yang harus diciptakan kepada peseta didik yang memilai adalah pendidik Mapel (Mata Pelajaran) PPKn dan Pendidikan Agama, sebagai suplemen pengetahuan.

    Tujuan dari Gerakan Penumbuhan Pendidikan Budi Pekerti dalah menjadikan sekolah sebagai taman belajar, menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter, menumbuhkembangkan lingkungan budaya belajar yang serasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Proses penumbuhan pendidikan budi pekerti dilaksanakan selama tiga tahun pembelajaran.

    Kedua, Pembelajaran Aktif atau Active Learning merupakan pembelajaran yang wajib diciptakan oleh pendidik kepada peserta didiknya. Hal ini dilakukan agar dapat mengubah pola pikir peserta didik dari yang tidak tahu menjadi tahu. Selain itu, dalam proses pembelajaran diharapkan dapat menggali dimensi pengetahuan, dimensi tingkat berpikir, dan dimensi keterampilan, dan yang paling penting adalah dimensi sikap dan tingkah laku peserta didik. Dimensi sikap merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran aktif dalam sikap sosial dan spiritual yang dapat dilakukan peserta didik. Hal ini dapat dinilai melalui observasi secara tidak langsung dengan catatan jurnal sebagai deskripsi sikap.

    Ciri Pembelajaran Aktif yang dilakukan adalah menggerakkan semua anggota tubuh peserta didik untuk mencapai kompetensi yang akan dikuasai dari yang tidak tahu menjadi tahu, dengan cara atau melalui hasil menyimpulkan dalam pembelajaran. Pendidik dalam pembelajaran aktif berperan sebagai fasilitasi/sarana alat dalam proses pembelajaran.

    Ketiga, Dinamika Perkembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian terpenting dalam pelaksanaannya. Penerapan SI (Standar Isi), SK (Standar Kompetensi),  KD (Kompetensi Dasar), dan IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) merupakan urutan penting bagi pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan. Sikap, pengetahuan, dan keterampilan merupakan kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan, digali, dan dinilai.

    Penilaian sikap dilaksanakan melalui observasi, jurnal, penilaian diri, dan penilaian teman. Observasi dan jurnal merupakan penilaian utama untuk penilaian rapot, penilaian dilakukan selama 24jam yang bersifat sosial dan religius yang dilakukan oleh peserta didik. Penilaian dengan huruf A, B, C, atau D. Penilaian Diri dan Penilaian Teman sebagai unsur penunjang selama satu semester. Bila tidak ada catatan berarti nilai sikap siswa B, bila ada catatan sikap baik maka diberi nilai A, apabila ada cataan nilai sikap yang kurang baik dinilai C selanjutnya diperbaiki dengan sikap setelah diberikan bimbingan, bila ada perubahan menjadi lebih baik maka dinilai B. Nilai sikap untuk rapot diambil dari modus nilai yang telah tersedia dari penilaiannya.

    Penilaian pengetahuan dilakukan melalui Penilaian Harian (Tes Lisan, Tes Tertulis, dan Penugasan) dan Penilaian Akhir Semester. Nilai pengetahuan untuk rapot diambil secara rata-rata dari tiap KD yang harus dikuasai oleh peserta didik. Sebagai contoh pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas X, Semester I terdapat sembilan KD maka nilai nilai pengetahuan diambil rata-ratanya dari KD1-9.

    Penilaian keterampilan diambil dari rata-rata optimum kompetensi yang dicapai oleh peserta didik. Penilaian keterampilan peserta didik diambil dari penilaian praktik, produk, proyek, dan fortofolio. Penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam pembelajaran  dilakukan dengan cara penilaian Autentik.

    Model pembelajaran Saintifik (5 M) sebagai ciri Kurikulum 2013 dapat berkolaborasi dengan model-model pembelajaran yang lain. Model pembelajaran yang dimaksud harus disesuaikan  dengan IPK yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Selain itu, 5M tidak harus berurutan hadir dalam pembelajaran dan tidak harus hadir semua 5M-nya. Dalam proses pembelajaran digunakan konsep ubah pengumuman menjadi penemuan, ubah hujatan menjadi pujian. Peserta didik diajak pendidik untuk melakukan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Pendidik harus mencatat yang akan diajarkan dan harus mengajarkan yang dicatat. Hal ini maksudnya pendidik harus mempersiapkan proses pembelajaran yang dapat .mengaktifkan peserta didik.

    KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) setiap Mapel dalam tingkat pendidikan diusahakan untuk sama semua Mapel. Hal ini agar kriteria penilaian akan sama untuk mempermudah mengkategorikan predikat A, B, C, atau D yang didapat oleh peserta didik. Akan tetapi, hal ini harus dipersiapkan dan dimusyawarahkan berdasarkan rapat pendidik dalam satu sekolah. Kesamaan nilai KKM untuk tiap Mapel agar nilai ketuntasan yang harus dicapai juga menjadi sama.

    Kesamaan nilai KKM untuk tiap Mapel pun memberikan dampak posotif bahwa tidak ada lagi anggapan Mapel yang sulit mencapai KKM dan Mapel yang dianggap mudah untuk mencapai KKM. Semua Mapel yang ada sama dalam hal untuk mencapai ketuntasannya. Nilai KKM sekolah minimal 55. Seperti contoh menurut beberapa pendidik bahwa Mapel Bahasa Indonesia dianggap lebih mudah, maka nilai KKM-nya harus lebih besar dari KKM Mapel Matematika yang dianggap sulit. Hal ini tidak berlaku lagi. Termasuk juga pada saat kenaikan kelas. Semua Mapel dianggap sama pentingnya.

    Pengembangan Mapel dengan muatan lokal (pemanfaatan ciri khas daerah/lingkungan sekolah) dan aktualisasi kepramukaan (kecakapan umum dan SKU), serta pengembangan budaya daerah (kebiasaan khas daerah) merupakan ciri khusus yang penting. Selain itu, harus dikembangkan dan dimanfaatkan dalam implementasi Kurikulum 2013.

    Keempat, GLS (Gerakan Literasi Sekolah) adalah gerakan khusus yang dikembangkan dalam Kurikulum 2013 kepada peserta didik untuk memiliki kemampuan membaca dan menulis. Pendidik sebagai Literan yang dapat memberikan motivasi dan memberikan fasitas agar peserta didik gemar membaca dan menulis. Selain itu, pendidik diharapkan menjadi teladan untuk GLS. GLS dapat dilakukan dengan menyediakan ruang baca di dalam setiap kelas selain perpustakaan sekolah.

    GLS dapat pula dilaksanakan dengan menyediakan buku-buku bacaan bagi peserta didik. Ketersediaan buku-buku bacaan dapat memberikan dorongan bagi peserta didik untuk membaca. Selanjutnya, setelah buku-buku dibaca dan diberikan kegiatan untuk membuat resensi atau menulis ringkasan/rangkuman. Lanjutan kegiatan ini adalah menceritakan kembali secara lisan atauppun tulisan.

    Prinsip GLS adalah disesuaikan dengan usia atau tingkatan peserta didik dan kegiatan yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Bagi peserta didik dan pendidikan di sekolah agar pelaksanaan GLS terlaksana diwajibkan untuk menyediakan waktu 15 Menit untuk membaca. Kegiatan ini diusahakan agar sekolah dijadikan taman yang indah sebagai tempat membaca. GLS diusahakan agar melibatkan seluruh warga sekolah. Pada akhirnya GLS menjadikan peserta didik senang membaca dan membaca sebagai kebutuhan.

    Kelima, Peran Keluarga dalam Pembelajaran Peserta Didik merupakan hal penting sebagai bagian dari implementasi Kurikulum 2013. Kemitraan antara sekolah dan keluarga sangat berperan penting. Pentingnya kemitraan tersebut adalah a) banyak keluarga menyerahkan tanggung jawab pendidikan di sekolah, b) tidak semua kebutuhan pendidikan peserta didik dapat dipenuhi keluarga dan satuan pendidik, c) peran sekolah adalah membantu keluarga agar pelaksanaan lebih sistematik sehingga memperoleh pengarahan dari pihak yang berkepentingan, d) kerjasama keluarga dengan satuan pendidikan/sekolah mutlak diperlukan, e) satuan pendidikan wajib mendorong kemitraan dan pelibatan keluarga dalam memajukan pendidikan peserta didik.

    Bagi pendidik ditanamkan bahwa  tidak ada peserta didik yang nakal, yang ada hanya minta diperhatikan. Selain itu, tidak ada peserta didik yang bodoh, yang ada hanya lambat dalam memproses sesuatu. Ancaman yang ditakuti bagi peserta didik adalah kekerasan verbal, fornografi, faham radikal, narkoba, dan amoral. Bekal yang dapat diberikan kepada peserta didik adalah keimanan dan ketaqwaan.

    Tahapan pembinaan keluarga hebat yang dapat dijadikan kemitraan sekolah adalah strategi, program, dan mode pembinaan. Tiga hal ini disebut trisentra adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Indikator pelibatan keluarga di sekolah adalah kesepakatan. Pembinaan hubungan trisentra berupa kegiatan gorong royong, saling melengkapi, saling memperkuat, saling asah, asih, dan asuh.

    Keenam, Pelatihan dan Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMA merupakan rangkaian kegiatan yang berkelanjutan. Bahan pelatihan diberikan kepada IN, IP, IK, dan GS/SS (Guru Sasaran/Sekolah Sasaran). Kriteria instruktur yang digunakan dalam istilah adalah TPK (Tim Pengembang Kurikulum), Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Managemen. Semua unsur tersebut akan manerima Matum (Materi Umum) dan Mapok (Materi Pokok untuk tiap Mapel). Kriteria pelaksana Kurikulum 2013 sekolah terakretasi A atau B, mendapat dukungan secara internal dan eksternal, memiliki sarana dan prasarana, seperti laboratorium, rombel, perpustakaan, dan ruang belajar.

    Kegiatan pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 tersebut akan dilanjutkan dengan IHT (in house traning) dengan sekolah induk kluster dan klusternya. Tujuan kegiatan ini adalah a) memperluas sasaran dan meningkatkan pemahaman substansi Kurikulum 2013 untuk warga sekolah, b) meningkatkan keterampilan teknis implementasi Kurikulum 2013 di sekolah, c) menggerakkan ekosistem sekolah sasaran implementasi K13.

    Setelah IHT dilaksanakan, maka akan dilanjutkan dengan ON I selama dua hari. Pendamping atau IK akan mendatangi sekolah Kluster, GS akan mendapatkan materi pembelajaran tentang K13. Kemudian akan dilaksanakan IN I, pada kegiatan ini akan dilakukan pembahasan evaluasi atau pembahasan masalah yang dihadapi dalam ON I yang telah dilaksanakan. Hal yang dilakukan adalah merumuskan perbaikan untuk ON 2 dengan berkumpul di sekolah Induk Kluster. Pada kegiatan ON 2 dilakukan penerapan perbaikan yang disusun pada IN 1. Selanjutnya, dilaksanakan IN 2 dengan Monev (Monitoring dan Evaluasi) untuk seluruh kegiatan yang telah dilakukan.

    Enam materi umum di atas merupakan bagian penting yang harus diketahui dan dipahami oleh sekolah yang melaksanakan Kurikulum 2013. Selain itu, terdapat Mapok untuk tiap pelajaran yang terdapat dalam tingkat pendidikan. Mata pelajaran pokok yang penting diperhatikan dalam implementasi K13 adalah sebagai berikut.

    Hal yang harus diperhatikan oleh Pendidik Mapel adalah a) mengidentifikasi perubahan konsep yang dipakai dalam K13, b) menganalisis kompetensi pembelajaran dan penilaian, c) merancang RPP, melaksanakan pembelajaran dan penilaian, d) melakukan pengelolaan penilaian, dan e) melakukan pelaporan penilaian hasil belajar peserta didik. Dalam pembelajaran, pendidik tidak menggunakan metode ceramah dan hafalan.

    IPK merupakan tolak ukur pencapaian kompetensi untuk peserta didik yang mengacu pada Silabus, KD, KI, dan SKL. Penyusunan IPK dilaksanakan oleh pendidik dengan mencermati kata kerja domain tingkat berpikir yang selaras dengan pembelajaran aktif. Taksonomi Anderson merupakan acuan yang dipakai dalam penyusunan IPK untuk K13. Sintak dimensi pengetahuan yang terkandung dalam IPK adalah konseptual, faktual, prosedural, dan metakognetif. Sedangkan taksonomi kognetif Anderson adalah LOTS (low order thingking skill) yaang ditandai dimendi proses berpikir mengingat, memahami, dan menerapkan, dan HOTS (high order thingking skill) yang terdiri atas menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

    Penyusunan RPP untuk tiap Mapel sesuai dengan Permen 103 Tahun 2015 yang terdiri dari tujuh komponen. Pembelajaran aktif dengan prinsip pemberdayaan dan pembudayaan dengan menggali potensi peserta didik. Pendidik mengupayakan belajar menjadi budaya atau kebiasaan bagi peserta didiknya. Keteladanan pendidik merupakan contoh nyata untuk peserta didik.  Optimalisasi IPK agar terjadi insteraksi antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran merupakan hal yang penting. Interkasi pendidik dan peserta didik harus memperhatikan hal-hal berikut: a) memberi penghargaan kepada peserta didik, b) memberi pengalaman, c) mengaplikasikan aktivitas dan kreativitas, d) mendorong ekosistem sekolah berbasis pengetahuan, e) menyajikan pembelajaran menantang, dan e) memotivasi peserta didik dalam pembelajaran.

    Ketuntasan dalam pembelajaran diputuskan sesuaikan dengan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah melalui rapat sekolah. Laporan akhir tahun untuk tingkat pendidikan dengan memenuhi syarat kenaikan kelas yang telah ditetapkan untuk tiap jenjang/tingkat pendidikan. Laporan tersebut dilaporkan pula melalui aplikasi elektronik langsung secara on line melalui operator sekolah ke Kemdikbud RI. Nilai-nilai hasil yang diperoleh peserta didik dilaporkan setiap akhir semester.

    Demikian hembusan angin segar bagi pendidik dan peserta didik dalam implementasi Kurikulum 2013. Semoga memberikan informasi tambahan untuk pendidik dan peserta didik, keluarga serta masyarakat. Salam Kurikulum 2013 Maju Bersama, Hebat Bersama.(*)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com