• Illegal Fishing Sumsel Menurun

    0
    ilegal fishing

    Illegal Fishing Sumsel Menurun

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Kasus Illegal Fishing(pencurian ikan) di Sumsel terus mengalami penurunan. Per tahun terjadi penuruan hingga 5 persen, hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel, Sri Dewi Titi Sari.

    Menurut dia, pelanggaran di wilahyah perairan di Sumsel masih terkendali karena pihaknya sering mengadakan pertemuan dan sosialisasi Paling tidak setahun tiga kali. Kemudian pihaknya pun turun ke perairan umum maupun bebas bersama penegak hukum untuk mengecek apakah ada yang bandel, sejauh ini masih bisa terkendali, sumber daya alam Sumsel harus di lestarikan dan jangan di ekspoitasi habis-habis sehingga dapat didapat mewarisinya, ungkap dia.

    Tren  perbuatan hukum di wilayah perairan Sumsel mengalami penurunan. Setiap tahun turun 5 persen bahkan tidak ada. Memang ada 13 kapal dari Jawa Tengah yang melakukan illegal fishing merusak angka (tren) selama ini. ”Mereka seharusnya menangkap ikan di Wilayah Penangkapan Perikanan (WPP) 712. Tapi mereka kesini,” katanya.

    Selain wilayah,  sambung dia, kapal itu pun menggunakan peralatan yang tidak sesuai. Mereka  menggunakan lebar mata jaring (mesh size) yang digunakan 2 inch namun yang digunakan ¾ inch. Kondisi ini merusak ekosistem sebab ikan yang ditangkap bukan ikan besar tapi ikan kecil juga. ”Mereka sudah divonis hingga 18 bulan,” katanya.

    Diungkapkan, hasil penangkapkanillegal fishing bervariasi. Tergantung kapal,fishing groung. Namun yang paling penting adalah alat tangkap yang digunakan ramah lingkungan. ”Kami akan terus melakukan edukasi untuk memberikan pemahaman terkait itu,” paparnya.

    Kabid Sumber Daya Dinas dan pengawasan Kelautan dan Perikanan Sumsel, Widodo menambahkan, kegiatan kemarin salah satunya membahas mengenai illegal fishing yang dilakukan 13 kapal dari Jawa Timur. Perlu dilakukan pengukuran ulang muatan kapal sebab berdasarkan aturan kapal bertonase 20-30 gros ton harus melakukan aktifitas di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) atau 12 mil dari bibir pantai.

    Kemudian, peralatan yang digunakan yakni troll dan gillnet  yang digunakan tidak sesuai dengan aturan. ”Karena melanggar aturan, maka kapal diamankan  dan sudah di vonis18 bulan,” katanya.

    Katanya, setiap tahunyan pihaknya menargetkan terjadi penurunan 20 persen terhadap illegal fishing. Tahun ini terjadi penurunan sangat jauh. Kalau pun ada pelanggaran sifatnya ringan yang dilakukan masyarakat berupa penyentruman menggunakan aki.  ”Kadang kalau sekali operasi kami  menemukan 5-10 pelanggaran Terhadap mereka kami terus memberikan edukasi terkait bahaya illegal fishing,”jelasnya(mdn)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com