• Harga karet di Musirawas naik capai Rp7000

    0

    Musirawas, jurnalsumata.com – Harga jual karet petani di Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, sejak dua pekan terakhir bergerak naik dari Rp3.000 hingga mencapai tertinggi Rp7.000 per kilogram.

    Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Musirawas, Ramdani Lubis, Jumat mengatakan dengan naiknya harga karet tersebut, para petani diimbau untuk mempertahankan kualitas getah yang baik.

    “Jangan seperti sebelumnya harga karet pada tingkat dunia turun, diimbangi dengan kualitas getah karet yang rendah, akhirnya harga beli pedagang pengumpul sangat rendah,” katanya.

    Ia mengatakan, turunnya harga karet dan buah kelapa sawit dua tahun terakhir membuat ekonomi masyarakat terpuruk, namun dengan adanya kenaikan saat ini petani jangan mengabaikan kualitas.

    Apa lagi pihaknya telah membentuk unit pengelola dan pemasaran bahan pada kelompok petani karet, untuk meningkatkan mutu getah yang dihasilkan.

    Saat ini pihaknya sedang melakukan pembentukan Unit Pengelolaan dan Pemasaran Bahan (UPPB) karet agar para petani dapat memenuhi standar yang ditentukan, terkait bahan olah karet (bakor) dihasilkan untuk dipasarkan sangat rendah kualitasnya.

    Selama ini petani tidak memperhatikan kualitas bakor yang dihasilkan, sehingga harga jual menjadi rendah.

    Melalui UPPB tersebut para petani diharapkan mampu membuat bokar berkualitas baik bersama kelompok tani lainnya untuk dijual ke pabrik pengolahan dengan harga mahal.

    Sejumlah UPPB kelompok tani karet yang sudah dibina diharapkan dapat memberikan pemahaman terhadap petani karet lainnya agar memperhatikan kualitas bokar dihasilkan.

    “Jangan sampai dicampur lagi dengan bahan lainnya bisa membuat harga menjadi rendah, dengan demikian petani itu sendiri yang rugi,” ujarnya.

    Salah seorang pedagang pengumpul karet, Dani (39) mengakui bahwa harga karet saat ini mulai naik, dengan kenaikan itu pihaknya setiap hari bisa memasok getah karet mencapai lima truk, sedangkan saat harga rendah hanya dua truk atau kisaran delapan ton per hari.

    Ia mengatakan, sebetulnya kualitas karet petani daerah itu sudah cukup baik, tapi hanya pola masyarakat yang mengelolanya salah yaitu dicampur macam-macam seperti kayu, pasir batu dan tatal, sehingga ketika dijual harga sangat rendah.

    Akibat kualitas dihasilkan petani buruk, maka berdampak pada harga jual murah, apa lagi sebelumnya harga karet dunia secara umum turun, sehingga karet Indonesia kalah bersaing dengan negara-negara penghasil lainnya, ujarnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com