• Goenawan Mohamad: Sinonim Mengindikasikan Paradoks

    0

        Jakarta, jurnalsumatra.com – Sastrawan Goenawan Mohamad mengatakan sinonim mengindikasikan sebuah paradoks dalam bahasa, yang berangkat dengan menganggap diri stabil, tapi pada saat yang sama, ia tak bisa meniadakan khaos dalam dirinya.
    “Sinonim menunjukkan bahwa sepatah kata tak berhenti di satu makna, dan satu makna tak berhenti di satu kata,” kata esais terkemuka itu dalam diskusi terkait dengan peluncuran “Tesamoko”, Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua susunan Eko Endarmoko di Jakarta, Senin.
    Dengan kata lain, tambah penyair “Pariksit” itu, sepatah kata bisa melepaskan diri dari dirinya sendiri, atau lebih tepat, dari dirinya sebagaimana ditentukan dan distabilkan orang ramai, dengan stabilitas yang sering disimpan dan dirawat dalam kamus.
    “Tapi tiap kata seakan-akan dalam detik berikutnya melesat ke dalam konteks lain dan menjadi makna yang berbeda,” tutur pendiri majalah “Tempo” itu.
    Lebih jauh, tambahnya, masing-masing kata punya makna melalui dan dalam perbedaan yang tak putus-putusnya dengan kata lain, melalui dan dalam hubungan-hubungan yang tiap kali tak berulang.

        Menurut salah satu penanda tangan Manifes Kebudayaan itu, kata tak pernah punya makna yang esensial, makna selalu dalam keadaan kontekstual, selalu dalam keadaan sementara, selalu dalam penundaan, dan proses itu tak henti-hentinya.
    “Baik kamus ataupun tesaurus hanyalah tempat transit. Jika saya tak salah paham, ketidakstabilan itulah yang dimaksud Derrida dengan ‘differance’. Hasil perpaduan antara ‘penanda’ dan ‘yang ditandai’ berlangsung di dalam sejarah. Ia tak bisa tetap,” katanya.
    Sinonim tumbuh dari ketidaktetapan itu. Sinonim seakan-akan menunjukkan sebuah makna bisa berulang dari satu kata ke satu atau beberapa kata lain. Tapi dalam praktik, kata lain itu, sinonim itu, tak pernah bisa mengulangi persis arti kata yang pertama, ujar pendiri Komunitas Salihara itu.
    Sinonim tak pernah setara antara satu kata dan lainnya. “Balai-balai” tak persis sama dan senilai dengan “dipan”, “lagu” tak persis sama dan senilai dengan “nyanyian”, “kembang” tak selamanya berpadanan dengan “bunga”, kata Goenawan.
    “Bahkan ketika sepatah kata diulangi, tak selalu ia menghasilkan makna yang sama. Dalam repetisi, slogan dan klise juga berubah efeknya. Hal itu terjadi karena kita tahu, makna tak terbatas pada sifat kognitif. Makna bukan konsep,” tutur penulis  “Catatan Pinggir” itu.
    Selain Goenawan, berbicara juga dalam diskusi itu ahli linguistik komputasional dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Totok Suhardjanto, sastrawan Seno Gumira Ajidarma, Neng Dora Affiah.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com