• BC Bandarlampung Gagalkan Pengiriman Tarantula Dari Thailand

    0

    Bandarlampung, jurnalsumatra.com- Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (BC) Bandarlampung di Provinsi Lampung menggagalkan pengiriman 111 ekor tarantula hidup asal Thailand yang dikirim melalui jasa pos.
    Tarantula tersebut ilegal karena tidak menyertakan dokumen kesehatan hewan dan tidak melalui Kantor Karantina Hewan, kata Sehat Julianto, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, saat ekspose kasus ini, di Bandarlampung, Selasa,
    Menurutnya, selanjutnya penanganan kasus ini ditindaklanjuti oleh Polda Lampung, dan barang bukti diserahkan ke Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Lampung untuk dikarantina.
    Sebanyak 111 ekor tarantula hidup itu berhasil diamankan saat akan dikirimkan melalui jasa pos ke sebuah alamat di Kota Bandarlampung pada 28 April 2016.
    Tarantula hidup tersebut berasal dari Thailand dan dikirimkan ke Bandarlampung. Modus penyelundupan barang impor ilegal tersebut adalah dengan menyembunyikan tarantula di dalam pampers popok anak-anak dan dilapisi dengan boneka.
    Sehat Julianto menegaskan, upaya penggagalan pengiriman hewan hidup tersebut merupakan tindaklanjut dari kerja sama PT Pos Indonesia, Polda Lampung, dan Kantor Bea dan Cukai Bandarlampung.
    Dalam pengiriman melalui jasa pos, barang tersebut diberitahukan sebagai mainan pabrik dengan nilai barang 10 juta dolar AS.
    Sebanyak 111 ekor tarantula hidup yang dikemas dalam ratusan tabung kecil tersebut tidak dilengkapi dengan sertifikat kesehatan dari negara asal kiriman maupun transit.
    Saat ini penerima paket kiriman tersebut masih menjalani pemeriksaan di Mapolda Lampung.
    “Pengirim memberitahukan sebagai mainan pabrik atau toys, makanya di atasnya dilapisi dengan pampers dan boneka serta di bawahnya ada tabung-tabung berisi Tarantula,” ujar Sehat Julianto pula.
    Pengiriman tarantula ilegal ini, menurutnya, berpotensi membahayakan karena dicurigai dapat memasukkan hama dan penyakit karena ketiadaan dokumen kesehatan dari negara pengirim, katanya lagi.
    Pengiriman itu, menurut dia, juga melanggar pasal 5 Undang Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan dan Tumbuhan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com