• 2 Pemalak Jalintim Diringkus

    0
    2 orang tersangka pelaku pemalakan yang berhasil diringkus oleh jajaran Polsek Kota KayuagungKAYUAGUNG, SUMSEL. Jurnalsumatra.com – Dua pemalak yang biasa beraksi di Jalan Lintas Timur (Jalintim), Kecamatan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), berhasil diringkus oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Kota Kayuagung.
    Para pelaku pemalak yang telah meresahkan masyarakat, khususnya bagi para sopir angkutan barang/jasa yang melintasi kawasan tersebut, diringkus di kawasan Desa Banding Anyar Kecamatan Kota Kayuagung.
    “Kedua pelaku pemalak ini kita ringkus ketika sedang melancarkan aksinya di lokasi pada Senin (16/5/2016) sekitar pukul 23.00 Wib,” ujar Kapolsek Kota Kayugung, AKP Padli SH.
    Sambungnya, dua orang pelaku pemalak tersebut yakni Dedy (20), petani asal Desa Banding Anyar, dan rekannya Roman (23) berasal dari desa yang sama. Dalam penangkapan ini, selain kedua pelaku, jajaran Polsek Kota Kayuagung juga berhasil mengamankan barang bukti uang hasil pemalakan sebesar Rp60.000, berikut dua kendaraan roda dua (motor) tanpa dilengkapi surat-surat kendaraan.
    Ditambahkan Kanit Reskrim Polsek Kota Kayuagung IPDA Sulardi,SH,MH mengatakan, penindakan tegas terhadap pelaku aksi premanisme (pemalak) ini ialah buntut dari banyaknya keluhan dan laporan dari masyarakat, khususnya para sopir angkutan barang/jasa yang sering menjadi korban ketika melintasi kawasan tersebut.
    “Saat diringkus, kedua pelaku ini sedang melancarkan aksinya. Meski tidak ada perlawanan, di tangan pelaku berhasil diamankan barang bukti uang hasil pemalakan sebesar Rp60.000 berikut dua kendaraan roda dua (motor) tanpa dilengkapi surat-surat kendaraan,” ungkap Kapolsek.
    Ditambahkannya, sebenarnya saat kejadian ada sekitar delapan (8) orang pelaku aksi pemalak liar di kawasan tersebut, namun untuk sementara ini hanya dua pelaku yang berhasil kita amankan.
    Dijelaskannya juga bahwa mereka ini sebenarnya ada izinnya, tetapi hanya sebatas mengatur kendaraan yang masuk ke arah rumah makan. Jikapun ada para sopir yang ingin memberikan uang atas jasa mereka itu hanya sebatas keikhlasan, tetapi pada kenyataannya justru melakukan pungli dan jelas ini melenceng dari izin yang mereka kantongi.
    “Untuk sementara kedua pelaku ini akan dikenakan Pasal 368 KUHP Tindak Pidana Pemerasan dengan pidana penjara paling lama 9 tahun,” kata Kapolsek lagi.
    Lanjut dia, langkah penindakan tegas ini merupakan upaya untuk memberikan keamanan dalam masyarakat dan tidak hanya terhadap para pelaku aksi premanisme (pemalak liar), kita juga akan terus melakukan upaya pengamanan berupa giat patroli hunting mulai dari pukul 01.00 Wib dini hari hingga pukul 05.00 Wib.
    “Istilahnya tuh kita terapkan jam malam. Jadi kalau bisa tidak ada lagi masyarakat yang nongkrong di jam-jam tersebut, karena pada jam-jam inilah cenderung dan dikhawatirkan terjadi tindakan kejahatan.
    Giat patroli hunting ini akan dilaksanakan secara terus-menerus guna menekan tindakan kejahatan kriminal, seperti tindakan pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian berat (curat), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor,” pungkas Kapolsek.
    Terpisah, Roman (23), warga Desa Banding Anyar ini menampik bila apa yang mereka lakukan merupakan tindakan pemalakan liar. Karena, dikatakan dia, ia bersama rekannya Dedy (20) hanya diajak oleh rekan seprofesinya, yaitu Gelek.
    “Untuk Gelek sendiri itu sudah mengantongi surat izin, namun dia tidak bisa menjelaskan surat izin yang dikantongi rekannya itu didapat dari mana,” katanya.
    Bapak satu anak ini juga mengaku kalau dirinya dan rekannya Dedy selama bekerja tidak pernah melakukan pemalakan. Uang yang diterima dari para sopir itu berdasarkan keikhlasan si pemberi.
    “Setiap menerima uang dari sopir itu saya selalu tanyakan ke mereka, ikhlas ya pak uang ini,” kilah dia sambil memperagakan saat menerima uang dari sopir angkutan barang/jasa.
    Ia juga berkilah kalau apa yang dirinya lakukan tersebut, karena tidak ada pilihan lagi. Sebab, sebelum ia bergabung dan ikut dalam kelompok mereka, kerjanya sehari-hari hanya bertani. Itupun dia mengaku selama bertani menggunakan lahan yang dirinya sewa, bahkan menumpang milik orang lain.
    “Hasil bertani tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga, makanya saya mau saja diajak bergabung dalam kelompok itu. Selama bergabung, hasil uangnya cukuplah pak buat beli beras 2 kg,” pungkas dia. (‎RICO)
  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com