• Tim Gabungan Amankan 17 PSK dan Miras

    0
    Tim Gabungan Amankan 17 PSK dan Miras

    Tim Gabungan Amankan 17 PSK dan Miras

    Lahat, jurnalsumatra.com – Tim gabungan terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP), Subdenpom II Lahat, dan anggota Polres Lahat, menggelar razia terhadap penyakit masyarakat (Pekat).

    Ternyata razia kali ini, cukup membuahkan hasil dan sedikitnya berhasil mengamankan 17 kupu-kupu malam yang diduga sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), berikut juga minuman keras (Miras) dan sound system disita oleh petugas di beberapa tempat hiburan yang ada di Tanjung Payang, Kecamatan Kota Lahat serta Gunung Kembang dan Muara Lawai, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat.

    Kepala Satuan (Kasat) Pol-PP Kabupaten Lahat, Sigit Budiarto SH didampingi Kepala Seksi (Kasi) Penegakan Perundang-undangan Daerah, Dian Hayati SH, menurutnya, razia yang dilakukan pada Kamis malam (7/4), sekitar pukul 23.00 WIB tersebut, berupakan Intruksi langsung dari Bupati Lahat, dalam memberantas pekat ini.

    “Yang jelas, razia seperti ini akan terus kita lakukan secara rutin. Sedangkan waktunya, tidak terjadwal sifatnya tak menentu serta mendadak. Sehingga, bagi mereka yang kedapatan bisa jera atas perbuatannya,” katanya, ditemui, Jum’at (8/4).

    Bahkan, menurut Sigit, belasan yang diduga sebagai PSK kebanyakan yang diamankan berasal dari luar Kabupaten Lahat, atau pendatang dari Bengkulu, Jambi, Palembang, Solo bahkan Pendopo Talang Ubi.

    “Saat kita data, ternyata mereka rata-rata masih berusia belasan tahun dan alasannya, terhimpit factor ekonomi maupun kebutuhan sehari-hari serta menyekolahkan adek-adeknya,” tambah Sigit.

    Sementara itu, Riski Novitasari (24) asal Bengkulu menyebutkan, dirinya bekerja sebagai pelayan di café dan dikarenakan tuntutan ekonomi yang tinggi, sehingga juga dapat melayani pria-pria hidung belang.

    “Di Bengkulu tidak dapat pekerjaan, terpaksa saya menjadi pelayan café sekaligus memberikan melayani pria-pria, dan uang itu diperuntukkan mencukupi kebutuhan ekonomi,” jelasnya.

    Senada, Ani (36) asal Solo menuturkan, dirinya terpaksa beralih profesi setelah kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak, dan untuk menyekolahkan adek-adek di kampong halaman.

    “Terus terang, sebenarnya saya tak ingin menjadi seperti ini. Namun, dikarenakan factor ekonomi dan tuntutan kebutuhan sehari-hari begitu mendesak saya, hingga terjun dan melakoni pekerjaan ini,” ungkap Ani. (Din)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com